Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Gilang - Meilani jadian


__ADS_3

Terima kasih buat pembaca yang sudah memberikan kritik dan saran. Saya anggap itu sebuah masukan yang berguna untuk othor jadi lebih baik.


Jangan lupa like setelah membaca.


...***...


Meilani, gadis yang tinggal seorang diri di kota itu mencoba melamar pekerjaan di semua perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Sejak lulus SMA orang tuanya memutuskan untuk kembali ke desa tempat asalnya. Sedangkan Meilani bertahan hidup seorang diri.


Dia bukan berasal dari keluarga kaya. Sehingga membuat dirinya harus usaha dan kerja keras untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.


Tak ada pekerjaan yang cocok untuknya. Dia keluar masuk perusahaan karena berbagai alasan. Dia merasa hidupnya tak bisa bertahan kalau dia belum mendapatkan pekerjaan yang cocok.


Sampai suatu hari sepulang kerja, dia membaca lowongan kerja di sebuah restoran yang lumayan rame pengunjungnya. "Apa aku coba melamar di sini saja?" Pikir Meilani.


Keesokan harinya dia kembali ke restoran tesebut dengan membawa surat lamaran kerja. Saat itu restoran sangat ramai. Dia masuk begitu saja untuk memberikan surat lamaran pekerjaannya.


"Kamu ngapain berdiri di situ?" Seorang laki-laki yang tak lain adalah Gilang memanggil dirinya. Meilani tentu bingung.


"Cepat bantu yang lain!"


Tak ada waktu untuk menjelaskan. Meilani bergerak cepat untuk membantu karyawan lainnya. Usai jam istirahat dia baru menemui atasan restoran tersebut. "Pak, saya ingin menyerahkan surat lamaran ini."


"Kamu diterima." Ucapan Gilang membuat Meilani terkejut.


"Saya sudah mengamati kerja kamu hari ini jadi kamu diterima." Mendengar hal itu Meilani pun berucap syukur.


"Terima kasih banyak, Pak." Gilang mengangguk. "Kembali lagi besok. Jangan sampai telat masuk," pesan Gilang pada Meilani saat itu.


Sejak saat itu Meilani berhenti bekerja di tempat kerjanya yang lama dan memilih bekerja di restoran. Selain untuk menyambung hidup, dia juga jatuh cinta pada Gilang pada pandangan pertama. Dia baru pertama kali bertemu dengan atasan yang ramah padanya. Hal itu membekas di hati Meilani. Gilang sungguh memperhatikan bawahannya. Semua karyawannya merasa diperhatikan oleh atasannya. Gilang bukan orang yang dingin seperti atasan pada umumnya. Oleh sebab itu Meilani menaruh hati padanya.


Namun, Meilani hanya bisa mencintai dalam diam. Dia tidak berharap Gilang membalasnya. Karena menurutnya itu sesuatu yang tidak mungkin mengingat mereka berbeda kasta. Terlebih saat Kristal datang dan berpura-pura menjadi kaum rendahan.


Gilang lebih tertarik pada Kristal ketimbang dirinya. Selain lebih cantik, Kristal juga gadis yang menarik. Saking menariknya Ruli pemilik restoran tersebut sampai naksir padanya.


Tapi semua pandangan Meilani terpatahkan ketika Gilang mengajaknya kencan sepulang dari rumah Kristal.

__ADS_1


"Kalau week end ini kamu ada acara tidak? Bagaimana kalau kita nonton?"


"Hah serius? demi apa?" Meilani melotot tak percaya kalau atasannya itu mengajak dirinya berkencan. Tapi dia pura-pura bodoh. "Memangnya ada even pas week end ini?"


"Ada even kencan," kelakar Gilang. Jantung Meilani berdegup kencang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gilang.


"Apa aku mimpi?" Meilani mencubit pipinya sendiri.


"Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?" tanya Gilang cemas.


"Saya hanya ingin memastikan kalau ini bukan mimpi, Pak." Gilang terkekeh mendengar ucapan polos Meilani. Dia mengacak rambut Meilani dengan sayang. Jantung Meilani makin terpacu.


Hari yang ditunggu oleh Meilani tiba. Ini kencan pertamanya dengan Gilang. "Aku pakai baju apa ya?" Meilani sibuk memilih baju dan mencobanya satu per satu.


"Ah, aku rasa yang ini cocok untukku. Warnanya tidak terlalu mencolok." Meilani memilih atasan berwarna soft pink yang dipadukan dengan rok sepanjang lutut.


Sore ini Gilang janji akan menjemput Meilani di rumah kontrakannya. Setelah mengumpulkan tabungan, Meilani memilih untuk mengontrak rumah sederhana yang lebih luas dibanding dengan tempat kostnya dulu.


Tin tin


"Nanti kita mau nonton film apa?" Tanya Gilang.


"Jujur ini pertama kalinya ada laki-laki yang mengajak saya nonton film. Biasanya saya hanya nonton drama di handphone saya."


Ucapan gadis itu membuat Gilang terkekeh. "Jujur ini pertama kalinya saya mengajak wanita setelah sekian lama." Meilani merasa tersanjung mendengar kata-kata manis dari Gilang.


Sesampainya di bioskop mereka bingung ingin memilih film apa. Akhirnya Gilang asal membeli tiket film. "Mas Gilang kenapa kita menonton film seperti ini?" Protes Meilani saat mereka menonton film horor.


Gilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Niatnya membeli film bergenre romantis malah gagal karena salah membeli tiket.


Tak disangka Meilani menikmati film tersebut. Justru gilanglah yang ketakutan. Dia menutup mata selama film berlangsung. Dia kembali bernafas lega setelah film selesai.


Meilani tertawa sepanjang perjalanan pulang. "Apa anda menikmatinya?" tanya Meilani.


"Kamu meledek saya?"

__ADS_1


"Bukankah mas Gilang yang membeli tiket itu kenapa malah Mas Gilang yang tutup mata?"


"Saya tidak biasa menonton hal-hal yang berbau mistis." Meilani tertawa keras.


"Bagaimana kalau kita makan mi setan? Tapi kali ini saya yakin mas Gilang akan menyukainya." Meilani pun menunjukkan jalan ke tempat makan langganannya.


"Pesan mi setan level paling bawah aja 2 mangkok ya," kata Meilani pada penjual mi tersebut. Tak perlu menunggu lama pesanan mereka pun datang.


"Wah tampilannya tidak seperti namanya."


"Cobalah. Makanan di sini tidak kalah enak dengan yang ada di restoran kita." Gilang pun mulai memakan mi tersebut.


"Lumayan pedas tapi sangat enak. Ini pertama kalinya saya menikmati makanan pinggir jalan yang sangat enak seperti ini," puji Gilang dengan bersemangat.


Meskipun keringatnya sudah bercucuran akibat kepedasan tapi dia bisa menghabiskan dua mangkok mi setan itu.


"Lain kali ajak saya makan di pinggir jalan seperti ini. Saya rasa saya juga perlu mencoba makanan pinggir jalan lainnya."


"Lain kali? Apa anda bersedia pergi dengan saya lain kali?" tanya Meilani.


Gilang meletakkan sendoknya. "Kenapa tidak? Saya nyaman bersama kamu? Bagaimana kalau kita mencoba menjalin hubungan?"


"Ini tawaran apa perjanjian?" tanya Meilani.


"Ini pernyataan cinta saya ke kamu." Meilani sungguh tidak menyangka Gilang menyatakan cintanya di tempat yang tak terduga.


"Saya ingin mengenal kamu lebih jauh. Jadi beri kesempatan saya untuk menjadi bagian dari hidup kamu."


Meilani tak banyak berpikir. Dia langsung mengangguk cepat. "Saya terima."


"Terima apa?" Goda Gilang.


"Terima mas Gilang jadi pacar saya," ungkap Meilani secara terang-terangan.


Gilang tersenyum pada Meilani. "Terima kasih." Meilani mengangguk.

__ADS_1


Sejak saat itu Gilang mengantar jemput Meilani ketika pulang pergi bekerja. Kebetulan rumah mereka searah jadi tidak terlalu merepotkan untuk Gilang.


__ADS_2