Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Mimpi yang nyata


__ADS_3

Hari ini Amara pulang setelah dua tahun di luar negeri. Tapi dia pulang karena pekerjaan. Ya, perusahaan tempatnya bekerja menempatkan Amara ke negara asalnya. Ada rasa senang karena bisa bertemu dengan kakak dan keponakannya tapi sedih karena ingat pada ibunya.


Amara sengaja tidak mengabari Ruli karena dia ingin memberikan surprise pada kakaknya itu. Tapi ketika berada di depan rumahnya gerbangnya terkunci.


Hari ini Ruli dan keluarganya menginap di rumah mertuanya sedangkan Pak Usman, yang merupakan sopir pribadi mereka mengundurkan diri karena istrinya di kampung sakit-sakitan. Jadi di rumah mereka hanya tinggal asisten rumah tangga yang tersisa.


Namun, jarak gerbang ke dalam sangat jauh jadi meski dia berteriak tidak akan ada yang mendengarnya. Amara ingin menghubungi kakaknya tapi dia pikir rencananya akan gagal jika meneleponnya.


Lalu dia putuskan untuk menghubungi Gilang. "Kak Gilang aku sudah pulang ke Indonesia tapi aku tidak menemukan Kak Ruli dan yang lainnya. Bisakah kakak menjemputku agar aku bisa pulang ke rumah paman?" pinta Amara.


"Maaf Amara aku sudah pindah. Sekarang lokasi rumahku agak jauh dari rumah orang tuaku."


"Kenapa pindah?" tanya Amara. Dia belum tahu kalau Gilang sudah menikah dengan Meilani. Waktu itu yang dia dengar Gilang batal menikah karena alasan yang tidak dia ketahui.


"Aku sudah menikah," jawab Gilang.


Ada rasa kecewa karena sepupunya itu tidak bisa dimintai tolong. "Baiklah, aku akan coba hubungi Kak Ruli lagi. Selamat Kak Gilang. Lain kali aku akan main ke tempatmu," ucap Amara sebelum menutup teleponnya.


Amara bingung harus ke mana. Lalu dia putuskan untuk menelepon Ruli tapi naas sambungan teleponnya tidak terhubung. Amara jadi kesal. "Apa aku menginap di hotel saja ya?" gumamnya.


Lalu dia pun menghentikan taksi. Amara pergi ke sebuah hotel dan menginap di sana malam ini.


Di tempat lain, Kristal sedang berusaha menidurkan anak kembarnya. "Glen, Gwen bobok yuk nak," bujuk Kristal. Sudah pukul sebelas malam tapi mereka masih aktif bermain. Itu karena tadi siang mereka sudah tidur pulas sampai sore.


Ruli sudah tidur duluan. Mata Kristal sangat mengantuk dia membiarkan anaknya bermain sendiri hingga keduanya ketiduran di depan televisi.


Jelang pagi Ruli meraba tempat tidurnya tapi dia tidak menemukan sang istri. Dia pun berjalan mencari keberadaan istrinya. "Ya ampun dicari malah pada tidur di sini," gumam Ruli.


Setelah itu dia memindahkan anaknya satu per satu ke dalam kamar. Tak lupa memasang selimut agar mereka tidak kedinginan. Selesai memindah anak-anaknya, Ruli mengangkat tubuh istrinya. Dia tersenyum melihat wajah damai sang istri. Sesekali dia melenguh karena merasakan tubuhnya terangkat tapi alam bawah sadarnya masih menikmati mimpinya. Ruli hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Dia merebahkan tubuh istrinya perlahan. Ruli yang usil membuka kancing baju istrinya lalu menelusup ke dalam baju istrinya menikmati buah yang menggantung di badannya.


Kristal yang baru tertidur hanya sesekali bersuara. Ruli menarik ujung bibirnya kala sang istri tak memberi perlawanan. Dia pun melanjutkan aktivitas malam ini. Tangannya menjamah seluruh tubuh sang istri dengan lembut agar dia tidak terbangun.


Kristal yang merasa mimpinya nyata sempat membuka mata setelah itu kembali memejamkan matanya. Dia masih tidak sadar kalau apa yang dia alami adalah nyata. Hingga Ruli melakukan penyatuan sang istri hanya menikmati permainan suaminya.


Ruli mengecup kening sang istri usai menikmati pagi yang indah ini. Tak lama kemudian terdengar suara adzan subuh. Ruli pun bangkit dari tempat tidurnya kemudian membersihkan diri. Dia akan membangunkan Kristal setelah selesai mandi.


Tiga puluh menit kemudian Ruli keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan ke pinggang. Dia duduk di tepi ranjang. Lalu menggoyangkan tubuh istrinya perlahan. "Sayang, bangun!"


"Lima menit lagi," jawab Kristal seraya memejamkan mata.


"Sayang udah subuh, kamu nggak nyiapin makanan buat anak-anak?" tanya Ruli.


Kristal pun mau tak mau bangun meski matanya masih sangat mengantuk karena tidur terlalu malam. Tapi dia mengerjapkan mata ketika melihat suaminya te*Lan*Jang dada.


Kristal memukul lengan suaminya. "Dasar mesum, ngapain nggak pakai baju?" tanya Kristal.


"Harusnya pakai baju dulu, minggir Mas aku mau mandi terus liat anak-anak. Apa semalam kamu pindahkan mereka ke kamar?" tanya Kristal panjang lebar sambil beranjak dari tempat tidurnya.


Namun, tangannya dicekal oleh Ruli hingga Kristal jatuh di atas dada bidang suaminya. "Mas, jangan macam-macam sudah pagi."


"Kenapa memangnya? Justru kamu belum kasih aku morning kiss. Apa kita lanjutkan kegiatan semalam?" goda Ruli.


"Apa? Semalam kita ngapain?" Kristal benar-benar mengira kejadian semalam hanyalah mimpi.


"Kamu lupa apa pura-pura lupa?" ledek Ruli. Kristal ingin bangun tapi Ruli menahannya.


Cup

__ADS_1


Ruli mencium bibir istrinya sekilas. "Aku masih bau, jangan cium!" Kristal merasa malu karena dia baru bangun tidur. Ruli terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Ya sudah sana mandi, apa mau aku temani?" Ruli tak berhenti menggoda sang istri.


"Jangan, nanti keburu anak-anak bangun." Kristal menempelkan kedua telapak tangannya memohon pada sang suami karena matahari mulai terbit.


Kristal mandi dalam waktu singkat lalu dia ke kamar anak kembarnya melihat keadaan mereka. "Untung saja tidak rewel," gumamnya lirih.


"Kristal," panggil sang mama dari belakang. Kristal terperanjat.


"Mama bikin kaget saja," keluhnya.


"Nanti anak-anak biar sama mama saja, kamu sama suami kamu kalau mau kerja kerja aja. Biar mereka di sini, mama yang jagain," kata Mama Berlian.


"Sebaiknya kamu siapkan kopi untuk suamimu. Biarkan mereka tertidur sampai mereka terbangun sendiri."


"Makasih banyak, Ma."


Setelah itu Kristal kembali ke kamarnya. "Anak-anak sudah bangun?" tanya sang suami. Ruli sedang bercermin setelah memakai kemejanya.


"Belum, Mas. Kata mama dia akan menjaganya. Sini aku pasangkan dasinya." Kristal mendekati suaminya saat Ruli menyodorkan dasi.


"Jadi pagi ini mereka tidak kembali?" tanya Ruli pada istrinya.


"Iya, lagian di sini juga ada Lala yang akan bantuin mama. Nanti kita jemput mereka setelah pulang kerja bagaimana Mas?" Kristal meminta pendapat suaminya. Ruli mengangguk setuju.


"Terserah kamu saja. Biarkan mereka puas bermain di sini. Mama sama papa pasti masih kangen sama mereka." Kristal tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


Usai bersiap-siap keduanya pun berangkat kerja. "Titip anak-anak ya, Ma," kata Kristal sebelum berangkat bekerja.

__ADS_1


"Iya tenang saja."


__ADS_2