Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Rindu keluarga


__ADS_3

Ruli sampai di rumah orang tuanya. "Ayo, masuk!" Ajak Ruli. Kristal mengambil tas yang berisi pakaian gantinya dari dalam bagasi mobil.


"Oh, iya aku tidak memiliki nomor handphonemu. Berikan ponselmu!" Perintah Ruli. Tangannya menengadah.


"Saya tidak punya handphone, Pak," jawab Kristal dengan santainya.


"Apa? Kenapa tidak punya? Apa kamu ini hidup di tahun 80an?" Ledek Ruli pada gadis berambut panjang itu.


"Saya tidak membutuhkannya, Pak. Lagipula tidak akan ada yang menghubungi saya."


"Siapa bilang tidak akan ada yang menghubungimu? Saya akan terus memberikan perintah padamu, jadi ambil ini." Ruli memberikan ponselnya pada Kristal secara tiba-tiba.


Kristal mengerutkan kening. "Apa anda yakin memberi saya ponsel yang mahal milik anda ini, Pak?" Tanya Kristal ragu untuk menerimanya.


"Saya bisa beli sepuluh kali yang lebih mahal dari pada itu," ucap Ruli dengan angkuh.


Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah. "Ruli, kamu bawa siapa ini? Cantik sekali. Apa dia pacar kamu?" Tanya Lira, sang ibu kegirangan. Pasalnya anak lelakinya itu tidak pernah menggandeng seseorang.


"Bukan, Ma. Mulai sekarang dia jadi asisten pribadiku," jawab Ruli.


"Asisten pribadi? Pilihan kamu sangat tepat, berawal dari asisten pribadi nanti naik kelas jadi pacar iya, kan?" Ledek sang mama.


"Bukan, Ma. Aku memang butuh seseorang untuk melayaniku. Kebetulan dia butuh pekerjaan jadi aku pekerjakan dia di sini."


"Ihk nggak jujur. Bilang aja sama nyokapnya kalau mau minta aku bertanggung jawab setelah aku membuat tangannya terluka," batin Kristal mencebik kesal.


"Nama kamu siapa?" Tanya Lira dengan lembut. Dari pertama melihat Kristal dia terlihat menyukainya.


"Nara, Tante."


"Hush, yang sopan. Panggil dia Bu karena dia juga majikan kamu," perintah Ruli pada gadis itu.


"Ruli jangan terlalu galak sama perempuan. Nanti nggak ada yang mau jadi pasangan kamu."


Ucapan ibunya Ruli mengingatkan Kristal pada abangnya. Ah, sudah berapa lama gadis itu keluar dari rumahnya. Dia tiba-tiba merindukan keluarganya. Ruli melihat ekspresi wajah Nara berubah sendu.


"Kenapa dengannya? Kenapa matanya memerah seperti menahan air mata?" Ucap Ruli dalam hatinya.


Setelah itu, Ruli mengajak Kristal ke kamarnya. "Sementara kamu bisa tinggal di sini," ucapnya sambil menunjukkan kamar kosong di bagian belakang rumahnya.


Sebuah kasur yang tidak memiliki dipan dan sebuah lemari mengisi kamar tak berpenghuni itu. Lumayan rapi setidaknya malam ini dia bisa tidur dengan alas bukan dengan tikar seperti ketika dia tinggal di tempat kos Meilani.

__ADS_1


Kristal bernafas lega. Akhirnya Tuhan memberikan kemudahan untuknya menjalani kehidupan yang dia mau. Tapi sampai kapan dia bisa bertahan Kristal sendiri belum tahu pasti.


...Manusia boleh berencana tapi Tuhan tetap yang menentukan segalanya. Kita tidak tahu takdir apa yang akan menyambut kita di masa depan....


Malam ini, Kristal membaringkan badannya di atas kasur yang lumayan empuk itu. "Alhamdulillah, akhirnya bisa merasakan tidur di atas kasur. Betapa sombongnya aku dulu yang tak pernah mensyukuri apa yang aku miliki. Sekarang aku tahu bagaimana menjalani hidup dengan perjuangan."


Gadis itu memutar ingatannya kembali ketika masih jadi anak orang kaya.


Keesokan harinya Ruli menghampiri Kristal di kamarnya. Dia menggoyangkan badan Kristal agar gadis itu terbangun. "Nanti Ma, lima menit lagi," ucapnya tanpa membuka mata.


Ruli mengerutkan keningnya. "Nara bangun!" Ketika tangan Ruli hendak menyentuhnya, tangan Kristal lebih dulu menangkap tangan Ruli hingga laki-laki itu terkejut.


"Bang, aku sudah buktikan kalau aku bukan gadis manja," ucapnya dalam keadaan terpejam.


Ruli menatap iba pada gadis itu. "Apa benar saat ini dia sedang menyamar?" Semakin lama menatap wajah Kristal yang menggemaskan itu hati Ruli berdesir. "Hish, ada apa denganku? Memandang wajahnya saja membuat jantungku berdebar," gumamnya lirih.


Kemudian dia mencoba membangunkan Kristal dengan cara yang berbeda. Dia menyetel musik dari handphonenya dengan cukup keras.


"Berisik!" Teriak Kristal.


Ruli menyentil dahi Kristal dengan pelan. "Anak perawan jam segini masih molor," ejeknya.


Kristal membuka mata lebar-lebar dan masih mengumpulkan nyawa. Saat dia menyadari dia tidak berada di kamarnya, dia jadi meringis. Kristal menutup wajah dengan rambutnya yang panjang ketika melihat atasannya sedang berdiri di kamarnya saat ini. "Maaf, Pak. Saya kesiangan."


"Kejam sekali, bebek saja mandi bisa setengah jam, lima menit buat cuci muka doang?" Protes Kristal.


Saat menyadari gadis itu tidak beranjak juga dari atas kasur. Ruli kembali ke kamar Nara. "Jangan banyak bicara! Saya tungguin di sini mau? Saya hitung sampai sepuluh. Satu..."


"Bapak," protes Kristal tapi tidak ditanggapi Ruli


"Dua..."


Kristal beranjak dari atas kasur lalu menyambar handuknya. Ruli mengulas senyum.


Tak lama kemudian mereka memasuki mobil. "Saya heran sama kamu, nggak mandi kok wangi."


"Ini pujian atau hinaan, Pak?" Tanya Kristal sebal. Ruli tidak pernah bersikap manis padanya. Malah setiap kali mereka bersama mereka seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur.


"Sudah jalan sekarang."


"Ruli..." Tiba-tiba Lira, sang ibu, memanggil.

__ADS_1


Ruli membuka kaca mobilnya. "Ada apa, Ma?" Tanya Ruli dari dalam mobil.


"Mama mau kasih bekal ini buat Nara." Lira memberikan sebuah kotak Bapperware untuk gadis itu. Nara menerimanya dengan ragu.


"Buat saya?" Lira mengangguk.


"Ma, yang anak mama itu siapa sih? Kenapa malah dia yang dikasih bekal?" Keluh laki-laki itu.


"Memangnya kamu anak TK? Mama kasih ini karena mama tahu Nara belum sarapan, iya 'kan Nara?" Tanya Lira dengan ramah. Kristal tiba-tiba merindukan sang ibu.


"Aku rindu mama," batinnya menangis. Matanya memerah karena menahan air matanya agar tidak tumpah.


"Sayang, kenapa kamu menangis? Kamu terharu, ya?" Tebak Lira. Kristal hanya mengangguk.


"Ma, Ruli harus berangkat sekarang."


"Oh iya. Kalian hati-hati ya." Lira melambaikan tangan ke arah keduanya.


Kristal menjalankan mobil menuju ke restoran. Saat berada di dalam mobil, Ruli memainkan handphonenya. "Itu nomorku." Ruli memberi tahu ketika handphone yang diberikan pada Nara semalam berbunyi.


"Baik, Pak."


Ruli ingin sekali bertanya pada Nara kenapa dia menangis ketika sang ibu memberinya bekal tapi dia saat ini dia coba menahannya sampai dia tahu fakta tentang gadis itu.


Kemudian Ruli menghubungi seseorang melalui sambungan telepon. "Aku ingin minta bantuan. Akan kukirimkan fotonya padamu."


Kristal mendengar ucapan Ruli tapi dia tidak berpikir bahwa Ruli meminta seseorang untuk menyelidiki asal-usulnya.


Ruli melihat keluar kaca. "Ngapain kita ke sini?" Tanya Ruli ketika gadis itu menepikan mobil yang dikendarai.


"Mampir sebentar."


Kira-kira mereka mampir di mana ya dears? Hayo tebak!


Kirim jawaban kalian di kolom komentar ya.


.


.


.

__ADS_1


sambil nunggu othor up mampir dulu ke novel teman aku ya



__ADS_2