
Tok tok tok
Seseorang mengetuk kaca mobil milik Rere. Rere melihat begitu banyak laki-laki yang mengelilingi mobilnya. Dia pun mengambil parfumnya lalu dia masukkan ke dalam saku roknya. Rere ragu untuk keluar tapi dia tak punya pilihan. Dia takut orang-orang itu akan menghancurkan mobilnya.
Namun, sebelum Rere keluar dia mengaktifkan handphonenya. Dia memanggil kontak Agung kemudian gadis itu keluar.
Rere sudah siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. "Cantik juga ceweknya, mukus." Tangan laki-laki itu hendak menyentuh kulit Rere tapi tangannya ditepis dengan kasar.
"Jangan kurang ajar!" Sentak Rere.
Lalu semua orang tertawa nyaring. Saat itu keadaan sangat sepi karena malam sudah larut. Petugas pengisian bahan bakar itu pun kebanyakan perempuan. Jadi tidak ada yang bisa dimintai tolong karena mereka sendiri ketakutan.
Jantung Rere berdebar kencang. Bahkan dia susah menelan ludahnya sendiri. Khawatir kalau-kalau mereka membawa senjata tajam. "Apa mau kalian?"
"Mau kami?" Laki-laki tu tertawa sejenak lalu menghentikan tawanya scara tiba-tiba. "Serahkan apa yang kamu miliki!" Ucapnya dengan lirih tapi dengan penuh penekanan.
'Yang kamu miliki' tentu saja bermakna luas. Pikiran Rere sudah dipenuhi oleh pikiran negatif. Apalagi dia seorang wanita cantik. Tentu saja dia bisa memancing kejahatan jika hanya seorang diri.
Dengan berbekal keberanian seadanya Rere menjambak laki-laki itu lalu mengangkat lututnya sebelah dan menendang kepala laki-laki yang kurang ajar itu.
Tak terima temannya diperlakukan buruk, yang lainnya menjambak rambut Rere dari belakang. Gadis itu kesakitan dia memegangi rambutnya yang sedang ditarik. "Jangan sok jagoan kamu!" Gertak salah satu dari kawanan itu.
Mereka berjumlah lima orang yang memakai jaket kulit seperti geng motor. "Ya Tuhan, tolong selamatkan aku!" batin Rere ingin menangis.
"Jangan kasar-kasar, Bro." Suara itu membuat semua orang menoleh ke sumber suara.
Rere menatap Agung dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya pahlawannya datang. Agung berjalan mendekat ke arah Rere. "Siapa Lo?" Sentak laki-laki yang masih menjambak rambut Rere. "Jangan mendekat atau dia akan gue sakiti." Pria itu menarik rambut Rere semakin kuat.
__ADS_1
Diam-diam Rere mengeluarkan parfum yang dia simpan di dalam saku roknya. Dia menyemprotkan parfum itu ke mata penjahat yang menawannya saat ini. Laki-laki itu pun melepas rambut Rere.
Di waktu yang sama Agung menendang satu per satu wajah para penjahat tersebut. Mereka mundur dan ada pula yang sampai terjatuh. Rere berlari untuk mencari tempat sembunyi. Dia kemudian meminta bantuan Leo.
Tangan Rere gemetar saking syoknya. Dia mencari kontak Leo lalu menunggu teleponnya tersambung. "Kak, angkat plis."
Sedetik kemudian telepon itu tersambung. "Re kamu ada di mana, Agung...." Belum sempat Leo meneruskan kata-katanya Rere menyela omelan Leo.
"Tolong kak, aku dan Mas Agung dilarang orang jahat di pengisian bahan bakar. Cepatlah ke sini...."
Tiba-tiba seseorang merebut ponsel Rere. Rere pun mendongak ketika menyadari dia dalam bahaya. Ingin berlari tapi laki-laki itu menghadangnya. "Mau ke mana sih? Jangan takut." Dia menyentuh pipi Rere.
Agung yang melihat itu murka. Dia berjalan sambil memukul para penjahat yang menghalangi jalannya. Dia menggertakkan gigi ketika melihat wanitanya ketakutan. Lalu Agung menarik jaket laki-laki yang mengganggu Rere tersebut. Dia memukul hendak memukul wajahnya tapi tangannya berhasil ditangkap. Agung mendapat satu pukulan keras di wajahnya. Tampaknya itu dikarenakan Agung yang mulai kelelahan setelah mengajar banyak orang.
Rere berteriak histeris. Dia pun mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul orang yang menyerang Agung. Rere melihat sebuah batu di sana lalu dia mengambil batu itu dan memukul kepala laki-laki itu.
Bug
Laki-laki itu kena pukulan tepat di kepala bagian belakangnya. Darah pun mengalir dari kepala laki-laki itu hingga dia jatuh tersungkur. Rere membuang batu yang dia pegang. Dia berdiri terpaku setelah menyadari perbuatannya.
Agung yang menyadari Rere syok langsung memeluknya. Di saat yang bersamaan Leo datang bersama anak buahnya meringkus teman-teman penjahat itu yang tersisa karena sebagian ada yang kabur duluan.
"Mas, aku udah bunuh orang," ucap Rere dengan nada bergetar. Agung memeluk Rere semakin erat agar kekasihnya itu lebih tenang.
"Antarkan dia pulang! Aku akan mengurus orang-orang ini," perintah Leo pada Agung. Agung pun menuruti permintaan Leo. Dia mengajak Rere berjalan ke mobil lalu dia mengantarnya pulang.
Agung sesekali melihat kekasihnya yang menangis tersedu-sedu. "Mas bagaimana kalau dia mati? Apa polisi akan menangkapku?" Rere terlihat cemas. Dia menyesal telah memukul penjahat tadi dengan batu. Namun, itu dilakukan untuk menolong Agung.
__ADS_1
Agung pun menggenggam tangan Rere. "Tenanglah sayang. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Agung menyakinkan kekasihnya agar tidak terlalu cemas.
Rere mengangguk lesu.
Sedangkan di tempat kejadian Leo segera menelepon ambulans. Dia juga memberikan pertolongan pertama agar laki-laki itu tidak mati. Karena urusannya akan rumit jika dia tewas. Adiknya pasti akan diseret ke kantor polisi.
Leo membersihkan luka laki-laki itu dengan telaten sambil menunggu ambulans datang. Dia juga memberikan obat merah yang tersedia di kotak P3K yang ada di dalam mobilnya.
Setelah selesai dia mengirim pesan pada Agung untuk menemani Rere sementara waktu. Karena dia tahu Rere pasti sangat syok dengan kejadian malam ini.
Tak lama kemudian ambulans datang. "Saya telah membersihkan lukanya semoga dia bisa tertolong," ucap Leo pada salah seorang petugas yang akan membawa masuk pria itu ke dalam mobil ambulans. Dia pun mengangguk.
Setelah itu dia membawa sisanya ke kantor polisi. Leo menyerahkan para penjahat yang berusaha melukai adiknya dan Agung. Leo menceritakan kejadiannya lalu pulang. Dia mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah.
Agung menemani Rere sampai dia tertidur. Dia memegang tangan Rere agar dia merasa tenang. Setelah gadis itu tertidur Agung menaikkan selimut Rere kemudian menunggu Leo di luar.
Tak lama kemudian suara mobil Leo terdengar parkir di halaman rumahnya. Leo pun bergegas masuk ke dalam rumah. "Bagaimana keadaan Rere?" tanya Leo khawatir. Dia adik satu-satunya yang dia sayangi.
"Sudah lebih tenang. Bagaimana keadaan laki-laki itu?" Yang dimaksud Agung adalah laki-laki yang dipukul oleh Rere.
"Dia masih bernafas. Aku sempat memberikan pertolongan pertama untuknya. Semoga saja dia tidak mati setelah ini," jawab Leo.
"Baiklah, aku akan pulang," pamit Agung.
"Apa kau tidak mau menginap di sini. Ini sudah hampir pagi. Bukankah bahaya jika menyetir dalam keadaan mengantuk?" Leo menawarkan tumpangan.
Agung tersenyum. Dia senang Leo sudah lebih ramah padanya. "Tidak orang tuaku pasti akan mengintrogasiku jika aku tidak pulang."
__ADS_1
"Dasar anak mama," cibir Leo. Agung hanya tersenyum miring menanggapi omongan Leo.