Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Akhir bahagia Rere & Agung


__ADS_3

Rere menitikkan air mata mana mungkin dia menolak jika Agung berkeinginan untuk melamarnya. Menjalin hubungan selama bertahun-tahun harus kemana lagi kalau tidak menikah. Mereka tidak mungkin menjalani hubungan tanpa ada rah tujuan.


"Ya aku mau, aku mau dilamar sama Mas Agung," jawab Rere.


Agung mengulas senyum lebar. Leo pun turut bahagia atas kebahagiaan adiknya.


"Tapi apa mereka memaafkan perbuatanku yang mencoba bunuh diri?" tanya Rere ragu.


"Jangan khawatir sayang, aku telah menceritakan apa yang kamu alami pada mereka. Orang tuaku sangat baik mereka justru prihatin dengan apa yang kamu alami," jawab Agung meyakinkan Rere.


Ada perasaan lega ketika Agung memberi tahunya. Menikah dengan orang yang dicintai tentu saja Rere sangat menginginkannya.


Malam itu setelah Agung pulang, Rere menulis surat pengunduran dirinya. Dia berpikir kalau selama ini dia jarang masuk kerja. Mungkin dia juga tidak punya muka untuk bertemu dengan teman-temannya semenjak penjahat yang dia pukul itu mati. Walau tidak mendapatkan tuntutan tapi rasa bersalahnya masih membekas di hati.


"Re kenapa harus berhenti, kamu bisa ambil cuti selama kamu sakit," saran Kristal pada mantan asisten pribadinya.


"Saya akan menikah dengan Mas Agung. Mungkin saya akan fokus mengurus suami dan anak nantinya," jawab Rere.


Kristal pun tidak mau memaksa Rere. Dia memeluk gadis itu sebagai salam perpisahan. "Aku akan cari asisten ke mana? Tidak ada yang sesetia kamu," goda Kristal. Rere pun tersenyum.


"Saya permisi," pamit Rere.


Setelah kepergian Rere, Kristal mengadu pada abangnya. "Bang, aku butuh asisten."


Alex mengerutkan keningnya. "Rere ke mana?" tanya Alex.


"Dia akan menikah," jawab Kristal sambil menunjuk Agung. "Carikan aku asisten baru," pinta Kristal dengan manja.


Alex pun menghela nafas. "Kamu bisa angkat salah satu pegawai kamu," usul Alex.


"Tapi butuh seleksi, aku mau asisten yang seperti Rere. Mas Agung kenapa tidak bujuk Rere untuk kerja lagi sama aku. Kamu maksa dia berhenti ya?" tuduh Kristal.


"Tidak, aku tidak memaksa dia. Dia berhenti atas kemauannya sendiri," jawab Agung sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Kristal mendengus kesal. "Ya sudah sementara Mas Agung bantuin kerjaan aku di kantor," putus Kristal. Agung sedikit keberatan. Dia pun menatap Alex.

__ADS_1


"Hanya sementara waktu, Gung. Bantu saja," ucap Alex dengan entengnya. Kristal tersenyum senang sedangkan Agung mengangguk pasrah.


"Kalau kamu mau jadi asisten sementaranya, aku akan tanggung catering saat acara lamaranmu dengan Rere," tawar Kristal. Agung mengangguk cepat karena tergiur pada penawaran Kristal. Lumayan menghemat uang.


"Bagus."


Usai menyelesaikan urusannya di kantor abangnya, Kristal mampir ke sebuah toko es krim. "Kok mendadak haus ya, beli buat anak-anak juga ah. Pasti mereka suka."


Kristal pun memborong es krim dari mini market. Sesampainya di rumah, Kristal membagi es krim itu pada anak kembarnya. Kebetulan mereka sedang bermain dengan Amara. Ya, Amara sudah kembali lagi ke rumah. Sekarang dia akan menetap di negara kelahirannya.


"Kok tumben sudah pulang, Dek?" tanya Kristal.


"Iya, nggak ada lembur. Kakak ngapain beli es krim banyak banget. Nggak takut anak-anak pilek kalau kebanyakan makan es krim?"


"Orang es krimnya buat aku kok. Nih ambil kalau kamu mau. Sisanya nanti aku stok di kulkas."


"Serius?" Amara tercengang. "Tapi bagi aku satu ya," pintanya sambil cengengesan.


Kristal menyodorkan es krim ke Amara. Dia juga memberi Glen dan Gwen satu per satu. "Habisin ya," kata Kristal.


"Papa." Gwen dan Glen berhambur ke pelukan ayahnya.


Kristal menyambut kepulangan sang suami. "Mau aku buatkan teh atau kopi?" tawarnya.


"Kopi saja. Eh tunggu, kamu habis makan apa kenapa mulutmu belepotan kaya gitu, sayang?" tanya Ruli seraya mengusap ujung bibir istrinya yang masih ada sisa es krim.


"Rahasia, aku ke belakang dulu ya," goda Kristal. Setelah itu Ruli bertanya pada anak kembarnya. "Kalian habis makan es krim ya, mulutnya pada belepotan," tebak Ruli.


"Iya, Kak." Amara menyahut. "Mamanya beliin mereka es krim banyak banget, nih aku juga dikasih," adunya.


"Ko dibolehin makan banyak? Nanti anak-anak bisa pilek," protes Ruli.


"Aku juga sudah bilang gitu ke kak Kristal eh tahunya es krimnya buat dimakan sendiri katanya. Tuh banyak di kulkas," tunjuk Amara.


"Tumben-tumbenan istriku makan es krim. Bukannya dia lagi diet ya," batin Ruli.

__ADS_1


Sesaat kemudian Kristal membawakan secangkir kopi untuk suaminya. "Kopi susu kesukaan Mas Ruli."


Ruli mendongak. "Terima kasih, sayang," ucapnya sambil tersenyum.


"Lala mana ya? Aku mau mandi," tanya Kristal.


"Anak-anak biar aku yang jaga aja, Kak," sahut Amara.


"Oh ya sudah aku naik dulu, ya," kata Kristal. Ruli pun mengikuti dari belakang. "Amara kakak juga naik," ucapnya.


"Cih, modus," cibir Amara. Ruli hanya tersenyum mendengar cibiran adiknya. Glen dan Gwen pun bermain bersama Amara.


"Sayang, tunggu!" panggil Ruli.


Di dalam kamarnya, Lala sedang sakit hingga badannya terasa lemas. Kristal mencarinya di seluruh tempat tapi baru menemukannya di dalam kamar. "Lala kamu di dalam?" teriak Kristal dari luar kamarnya.


"Iya, Bu. Tidak dikunci masuk saja," jawab Lala. Kristal pun membuka pintu kamar Lalu. "Kamu sakit, La?" tanya Kristal. Dia langsung berjongkok dan menyentuh dahi baby sitter yang bekerja di rumahnya itu.


"Kamu beneran sakit, La. Ayo kita berobat sekarang," ajak Kristal.


"Saya tidak apa-apa, Bu. Saya hanya demam biasa nanti saya beli obat di warung saja," tolaknya karena tidak mau merepotkan sang majikan.


"Baiklah, akan aku belikan obat ke apotek. Apa saja keluhanmu?" tanya Kristal. Dia akan membeli obat yang diperlukan Lala.


"Mas, antar aku ke apotek. Lala sedang sakit aku mau beli obat untuknya."


"Lho kenapa nggak diajak ke dokter saja?" tanya Ruli.


"Dia tidak mau, jadi kita belikan saja obat untuknya dulu. Nanti kalau sakitnya belum mendingan kita bawa dia ke dokter," usul Kristal.


"Baiklah, ayo. Anak-anak masih sama Amara."


Tak butuh waktu lama Kristal kembali setelah mendapat obat untuk Lala. Dia pun memberikan Lala obat itu. "Minum dulu, La." Kristal memberikan segelas minuman dan obat pada Lala.


"Besok pagi kalau belum mendingan juga sebaiknya kita ke dokter ya," bujuk Kristal. Lala mengangguk lemah setelah itu dia tiba-tiba menangis.

__ADS_1


__ADS_2