Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Hanya Mimpi


__ADS_3

Kristal mengerjapkan mata ketika cahaya masuk melalui jendela ruangannya yang terbuka. "Ya ampun, ini sudah siang." Dia bangun tapi tak melihat Ruli.


Kristal mengambil sebuah kertas kecil terdapat di dalam nakas. "Maaf aku pergi karena urusan penting. Aku sudah menelepon orang tuamu. Cepat sembuh, sayang."


Kristal senyum-senyum sendiri saat membaca pesan itu. Sayang? Benarkah Ruli menyukai dirinya? Kristal memutar kembali ingatannya yang kemaren. Mereka telah berciuman. Sesuatu yang tak terduga.


"Kristal, kamu ngapain senyum-senyum sendiri?" Tegur sang mama yang baru datang.


"Mama."


"Kamu udah tahu kan kalau mama ke sini tadi karena ditelepon nak Ruli. Katanya dia mau ke luar kota karena ada salah satu restorannya yang kebakaran."


Kristal terkejut mendengar kabar dari ibunya. "Dia nggak cerita apa-apa ma sama aku." Raut wajah Kristal berubah sendu. Dia sedih karena mamanya yang tahu lebih dulu dari pada dirinya ada rasa kecewa dalam diri Kristal.


"Dia buru-buru nggak ada waktu buat nunggu kamu bangun dan cerita panjang lebar. Tapi dia udah jelasin ke mama. Kasian juga ya restorannya kebakaran. Pasti dia rugi banyak."


"Jangan khawatir Ma, satu terbakar masih ada sembilan belas lagi."


"Hush, kamu bisa-bisanya ngomong gitu. Nggak ada prihatin-prihatinnya sama pacar."


"Uhuk-uhuk." Kristal tersedak ketika sedang minum. "Kita belum pacaran, Ma," sanggah Kraital. Wajahnya jadi malu seketika.


Berlian mengulas senyum menggoda. "Alah nggak usah bohong. Pas mama tinggalin kalian berdua di sini apa tidak terjadi apa-apa?" Tanya Berlian curiga.


"Nggak ada, Ma," elaknya.


"Ada juga nggak apa-apa. Mama juga pernah muda kali."


"Ma aku ingin pulang," rengek Kristal.


"Nanti kita tanya sama dokternya, ya." Kristal mengangguk. "Mama kira kamu lebih seneng di sini biar bisa ditemenin nak Ruli tiap malam," ledek sang ibu.


"Nggak gitu juga kali Ma. Pacaran di tempat lain kan bisa." Sontak Kristal menutup mulutnya yang keceplosan.


Setelah dua hari menginap di rumah sakit, akhirnya Kristal diperbolehkan pulang. "Kamu masih nunggu Ruli?" Tanya sang mama. Kristal mengangguk lemah.


"Mungkin urusannya bum selesai, ayo kita pulang saja. Kamu butuh beristirahat di rumah."


"Ma bagaimana kalau mama pulang dulu, pakaianku ada di rumahnya Mas Ruli."


Berlian mengerutkan kening ketika mendengar sebutan Mas yang keluar dari mulut anaknya itu. "Cie cie udah panggil mas aja." Wajah Kristal memerah karena diledek oleh ibunya.

__ADS_1


"Udah nggak usah diambil. Kamu bisa beli lagi. Kalau emang mau ketemu Ruli besok saja. Hari ini papa kamu baru balik dari luar negeri. Dia juga pasti kangen sama kamu."


Mau tak mau Kristal berjalan mengikuti ibunya. Dia tahu bertemu papanya lebih penting karena dia telah pergi tanpa pamit waktu itu. Kristal juga ingin meminta maaf pada ayahnya.


Sesampainya di rumah, semua orang sudah berkumpul. Jaden, Alex, Sandra dan Zavier menunggu di depan rumah. Mata Kristal berkaca-kaca lalu berlari memeluk ayahnya.


"Maafkan aku, Pa. Aku ini memang anak yang menyusahkan," ucapnya di sela tangisannya.


Jaden mengusap punggung anaknya dengan lembut. "Sudahlah, papa sudah memaafkanmu. Papa bersyukur kamu kembali dalam keadaan utuh." Kristal mendongak lalau tersenyum pada papanya.


"Ayo kita masuk, Dek," ajak Sandra, kakak iparnya yang sangat baik.


Kristal beralih memeluk Sandra. "Aku dengar kakak hamil lagi ya?" Sandra mengangguk sambil mengulas senyum pada adik iparnya itu.


"Memangnya abangmu sudah bilang ya ke kamu?" tanya Sandra. Sekilas dia melirik ke arah suaminya.


"Kata mama kemaren. Kalau kakak pengen apa-apa bilang aja ke aku nanti akan aku turutin." Dia sangat menyayangi Sandra seolah kakak kandungnya sendiri.


"Nah, gitu. Jagain kakak ipar kamu. Bukan kabur-kaburan kaya kemaren," ledek Alex.


"Yagh aku kabur kan juga karena Abang terlalu keras padaku," balas Kristal tak terima dengan ejekan sang kakak.


"Iya, maaf. Mulai sekarang Abang tidak akan sekeras dulu." Alex mengacak rambut Kristal dengan sayang.


"Nah, gitu dong. Sandra biar nggak kecapean jaga Zavier. Dia kan lagi hamil jadi kalau ngikutin Zavier yang hiperaktif nanti malah bahaya. Mulai besok kamu jadi pengasuhnya aja ya Kris?" Pinta sang mama.


"Nggak bisalah ma kalau tiap hari. Zavier sama Omanya aja, mau kan?" Tanyanya pada bocah laki-laki itu. Zavier mengangguk.


"Sama siapa aja boleh asal dia ada yang jaga," putus Alex.


Setelah makan malam, Kristal kembali ke kamarnya. Dia merebahkan diri di atas ranjangnya yang empuk. "Akhirnya setelah sekian purnama aku bisa kembali ke rumahku." Kristal memeluk bantalnya dengan erat hingga dia ketiduran.


"Kristal." Ruli menggoyangkan tubuh gadis itu.


Kristal pun bangun. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Kristal yang bingung tiba-tiba saja Ruli ada di dalam kamarnya.


Ruli meraih tangan Kristal lalu menggenggamnya. "Aku merindukanmu," kata-kata Ruli membuat Kristal tersipu malu.


"Benarkah?" tanya Kristal memastikan. Ruli mengangguk.


Ruli mengusap bibir ranum itu. "Apa boleh?" Kristal mengangguk. Lalu Ruli mencium bibir itu sekilas.

__ADS_1


Ruli memegang kedua bahu Kristal dan menatap matanya dalam. "Sayang sejak pertama kali aku melihatmu, aku sangat tertarik padamu, apa kau juga merasakan hal yang sama?" Tanya Ruli.


"Aku tidak menyangka kamu menyukaiku," kata Kristal sedikit merendah.


Cup


Ruli kembali mendaratkan kecupan sekilas di bibir gadis itu. Dia jadi tersentak kaget mendapatkan serangan dadakan dari laki-laki tampan yang duduk di depannya.


"Mas aku..." Kristal tidak bisa meneruskan kalimatnya. Mulutnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir lelaki tampan itu.


Ruli mencium Kristal dengan sangat lembut. Kristal pun mulai meremang merasakan hawa aneh yang menyelimuti dirinya.


Tak mau larut dalam kehaluannya. Kristal mendorong dada bidang Ruli. Laki-laki itu mengusap bibirnya yang basah sambil tersenyum.


"Apa itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaanmu?" tanya Ruli sambil menatap ke dalam mata wanita yang dia cintai.


Kristal membuang mukanya, tak mau Ruli melihat wajahnya yang memerah itu. Namun, Ruli malah menangkup wajah Kristal.


"Katakan kau mencintaiku!" ucap Ruli pada Kristal.


"Aku, Aku mencintaimu," Kristal memejamkan matanya setelah mengatakan hal itu. Ruli menyunggingkan bibir senang karena Kristal membalas cintanya.


Lalu laki-laki tampan itu menepis jarak di antara keduanya. Ia mencium bibir Kristal untuk kesekian kali. Gadis itu hanya bisa pasrah. Sedangkan Ruli menggigit bibir bawah gadis itu agar ia membuka mulutnya. Setelah itu Ruli dengan mudahnya mengeksplor bagian dalam mulut Kristal. Gadis itu mulai terbuai. Ia pun pada akhirnya membalas ciuman panas Ruli.


Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Entah sejak kapan Ruli membawa Kristal dalam kungkungannya. "I love you."


"Love you too," mulut Kristal maju seperti akan mencium sesuatu.


"Eh, nih anak ngapain sih mimpi mesum nih pasti," tuduh Berlian.


Akhirnya Berlian mengambil air di dalam gelas dan menyipratkan air ke muka anaknya. Kristal pun gelagapan karenanya.


"Hujan, hujan," kaget Kristal. Matanya terbuka dan ketika melihat ibunya berada dalam kamar ia yakin yang terjadi barusan hanyalah mimpi.


...♥️♥️♥️...


Hai penggemar Tali (Kristal dan Ruli) jangan lupa kasih bunga dan kopinya ya


Buat kalian yang ingin dapat pemberitahuan update bisa klik subscribe di titik tiga di pojok kanan halaman awal novel ya


Kamsahamida 🙏

__ADS_1



__ADS_2