
Ruli ingin menghampiri istrinya di tempat kerjanya. Dia merasa risau semalaman karena memikirkan Kristal. Namun, saat dia hendak memasuki mobil, Alex menyerukan namanya. Ruli terkejut dengan kedatangan Alex. Alex berjalan cepat ke arah Ruli. Dia melayangkan pukulan ke wajah adik iparnya itu.
Mama Lira, Amara serta Grace keluar berbondong-bondong menyaksikan perkelahian itu. Mereka berteriak histeris. Mama Lira segera membawa Siena ke dalam.
"Dasar laki-laki breng*sek. Kamu telah menyia-nyiakan adikku." Ruli mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Alex. Ruli sama sekali tidak melawan. Dia tahu Alex pasti memukuli dia karena Kristal.
Setelah melihat Ruli tak berdaya Alex baru berhenti. "Kamu pantas mendapatkannya. Jangan dekati Kristal lagi. Kamu telah membuangnya jangan coba memungut dia kembali," ancam Alex.
Alex masuk ke dalam mobil lalu melaju dengan kencang meninggalkan rumah Ruli.
Ruli menyeka darah segar yang mengalir dari suatu bibirnya. Grace menghampiri Ruli. Dia ingin membantu Ruli bangun tapi tangannya ditepis dengan kasar.
"Biar aku obati!" Seru Grace.
"Tidak perlu, aku memang pantas mendapatkannya. Ruli pun masuk dengan sempoyongan. Amara memapah Ruli masuk ke dalam rumah. Niatnya untuk bertemu sang istri kembali diurungkan.
Sementara itu Alex meminta Agung untuk mengobati tangannya yang terluka. "Kenapa bisa sampai begini?" Tanya Agung sambil mengoleskan obat merah.
"Ish, pelan-pelan sedikit." Alex meringis kesakitan.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi sebenarnya!"
"Aku baru saja memukuli suami Kristal," adunya. Agung terkejut. "Kenapa?"
"Dia sudah menyia-nyiakan adikku." Amarah Alex kembali memuncak mengingat sikap Ruli yang tidak peduli pada adiknya.
Agung menghela nafas. "Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukankah mereka sudah dewasa?"
Alex menatap tajam pada Agung. "Kenapa?" tanya Agung saat ditatap Ruli seperti itu.
"Aku kira kamu akan mendukungku. Bukankah kamu belum bisa move on dari Kristal?" tanya Alex memastikan.
"Siapa bilang aku belum bisa move on?" Sanggah Agung. Alex mengerutkan keningnya. Tapi dia tidak tertarik dengan cerita cinta Agung. Jadi dia tidak berniat menanyakan siapa wanita yang kini menduduki jabatan di hatinya.
Setelah Agung mengobati tangan Alex, dia mengirimkan pesan pada Rere kalau Alex telah memukuli suami Kristal. Rere pun terkejut tapi dia akan mengadukan hal itu pada Kristal.
__ADS_1
"Bu, saya mendapat laporan kalau Pak Alex memukuli suami anda," lapor Rere.
Kristal terkejut. Dia tidak menyangka abangnya akan berbuat nekad. Tapi Kristal berpura-pura tidak peduli. "Biarkan saja abangku melakukan sesukanya." Jawaban yang sangat tak terduga dari mulut Kristal membuat Rere tertegun. Ada apa dengan atasannya itu? Bukankah dia cinta mati pada suaminya? Kenapa tiba-tiba berubah? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Rere. Dia jadi sangat penasaran.
"Apa anda tidak khawatir sama sekali?" tanya Rere lebih lanjut.
"Dia saja tidak peduli padaku kenapa aku harus peduli. Hidup itu harus ada timbal baliknya. Kalau dia peduli aku akan peduli. Kalau dia sayang aku akan sayang. Tapi kalau dia acuh aku akan berbuat sama."
Kristal masih kecewa dengan sikap suaminya semalam. Bagaimana bisa dia membiarkan wanita lain menyentuhnya. Bahkan dia lebih memilih menolong wanita itu dari pada menjemput istrinya pulang. Istri mana yang tidak cemburu.
"Bagaimana keadaan Mas Ruli ya?" Batin Kristal khawatir sambil memainkan pulpen di tangannya.
Amara mengobati luka Ruli. "Aw pelan-pelan." Ruli meringis kesakitan saat Amara memberinya obat.
"Kenapa kakak tidak melawan setidaknya menghindar."
"Aku memang pantas mendapatkan pukulan dari Alex. Kristal pasti mengadu pada abangnya."
"Tapi aku tidak percaya kak Kristal yang meminta abangnya memukuli kakak." Amara bukan bermaksud membela kakak iparnya tapi yang dia lihat selama ini Kristal bukan tipe wanita yang suka mengadu.
"Kak, apa kakak tidak merasa kalau kak Grace..." Amara tidak melanjutkan kalimat yang keluar dari mulutnya karena orang yang dimaksud mendadak muncul di hadapan mereka.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Grace khawatir. Amara memilih bangkit lalu keluar dari kamar Ruli karena dia sangat muak melihat Grace. Sejak mereka tahu kalau Grace menipu abangnya, dia sangat membenci wanita itu.
"Kapan kamu akan pindah? Tidak seharusnya kamu tinggal di sini," kata Ruli dengan nada dingin.
"Izinkan aku tinggal beberapa hari saja untuk merawatmu," pinta Grace.
Ruli tersenyum smirk. "Kamu mencoba memanfaatkan kesempatan di saat aku sedang bertengkar dengan istriku?" Tuduh Ruli.
"Tidak, sama sekali aku tidak punya pikiran seperti itu," sanggah wanita cantik itu.
"Menyesal aku menolongmu kemaren jika akhirnya aku harus berjauhan dengan istriku." Ruli berjalan keluar meninggalkan Grace. Grace mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Papa," panggil Siena. Ruli berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Siena. "Ada apa sayang?" tanya Ruli dengan lembut.
__ADS_1
"Kapan aku bisa sekolah?" Rengek Siena. Rupanya Grace belum mencarikan anak itu sekolah yang baru. "Nanti tanya sama mama ya," bujuk Ruli.
Lalu tangan mungil Siena mengelus pipi laki-lakinya itu. "Apa wajah papa sakit?" Ruli mengangguk pelan. Siena tentu mendengar suara perkelahiannya tadi meskipun matanya ditutup tapi dia anak yang cerdas. Jadi dia bisa menebak kalau wajah Ruli babak belur karena dipukuli.
Ruli memegang tangan Siena lalu mengecupnya singkat. "Papa ada urusan sebentar Siena main dulu sama Oma Lira atau onty Amara." Siena mengangguk patuh. Ruli mengacak rambut anak kecil yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya sendiri itu.
Ruli datang ke hotel tempat istrinya bekerja. Di mencoba menemui Kristal tapi sejak dia menginjakkan kaki di sana Satpam sudah menghalangi. "Maaf Pak Ruli anda dilarang menginjakkan kaki di sini," ucap Satpam yang bertugas sambil menghadang langkah kaki Ruli.
"Aturan dari mana itu?" Sentak Ruli tak terima.
"Atasan kami yang memerintahkan. Kami hanya menuruti perintahnya."
"Kristal, Kristal," teriak Ruli menyerukan nama istrinya.
"Pak anda jangan membuat keributan di sini," tegur Satpam tersebut.
Kebetulan Kristal baru turun dari lift dan melihat suaminya membuat keributan. "Ada apa ini?" tanya Kristal dengan suara tegas.
Ruli melotot tidak percaya pada penampilan istrinya yang seperti gadis penggoda menurutnya. "Apa yang kamu pakai itu?"
"Kenapa? Aku sengaja memakai ini agar aku lebih diperhatikan oleh banyak laki-laki."
Ruli meradang saat mendengar ucapan Kristal. "Jangan aneh-aneh. Ikut aku pulang sekarang!" Perintah Ruli dengan tegas.
Kristal tersenyum smirk. "Apa aku masih harus menurut padamu? Bukankah kamu berniat kembali pada mantan istrimu? Jadi kenapa aku harus menuruti perintah laki-laki yang sebentar lagi hanya menjadi seorang mantan."
"Kristal." Ruli sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan istrinya. Ruli melangkah mendekat ke arah Kristal. Saat Satpam kembali menghalangi dia meninjunya. Kristal mengepalkan tangan. Ketika wanita itu akan menghindar, Ruli justru menggendong Kristal ala karung beras.
Kristal melawan tapi dia kalah tenaga. Ruli tak membiarkan istrinya itu lolos begitu saja. Setelah ini dia akan menghukumnya.
...***...
Mampir ke sini dulu ya jangan lupa subscribe
__ADS_1