
Hari ini Amara pergi bersama Riko untuk mengunjungi lokasi proyek mereka. Tapi Riko kedapatan tebar pesona pada wanita lain di lokasi proyek tersebut. Wanita itu adalah pegawai di kantor cabang yang mereka kunjungi.
Amara yang notabene adalah pacar Riko merasa cemburu. Mereka belum lama jadian tapi Riko malah menunjukkan sisi nakalnya. Mengingat masih dalam jam kerja Amara menahan amarahnya. Namun, waktu dalam perjalanan pulang ke kantornya, Amara menyampaikan keluhannya.
"Mas, apa kamu tidak bisa menahan diri jika ada wanita cantik di hadapan kamu? Apa kamu tidak menganggap keberadaan aku tadi?" protes Amara.
Riko hanya tersenyum. "Ketahuan ya?" Goda Riko pada Amara.
Amara merasa kesal pada Riko. "Dasar laki-laki di dunia ini sama saja," umpatnya kesal.
"Kenapa? Kamu cemburu?" tantang Riko
"Menurut kamu? Mana ada wanita yang tidak cemburu jika ada kekasihnya main mata dengan wanita lain?"
"Kalau begitu biarkan aku bermain denganmu." Tangan kiri Riko tiba-tiba mengelus paha Amara.
Amara pun tersentak kaget. Dia menampar Riko di dalam mobil. "Jangan kurang ajar kamu, Mas. Aku memang pacarmu tapi bukan berarti kamu boleh menyentuhku sembarangan."
"Berani sekali kamu menamparku." Riko begitu geram. Dia menjambak rambut Amara hingga kepala gadis itu mendongak. "Lepaskan, Mas. Aku kesakitan." Amara memberontak. Namun, dia tak bisa berbuat banyak. Lalu dia menggigit tangan kiri Riko.
Riko yang merasa kesakitan menjadi tidak bisa fokus dalam menyetir. Dia ingin menginjak rem tapi dia malah menambah laju mobilnya. Amara membelalakkan matanya ketika mobil Riko semakin dekat dengan taksi yang ada di depannya itu.
Brak
Tabrakan pun tak terelakkan. Sebuah taksi melintas di depan mobilnya tanpa bisa dihindari. Amara dan Riko hanya mengalami cedera di kepalanya. Sedangkan mobil taksi yang mereka tabrak rusak parah.
"Ah, kepalaku," keluh Amara. Meski dia merasa kesakitan tapi dia sempatkan melihat taksi yang ada di depannya itu. Amara menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya. "Mama."
Gadis itu keluar dari mobil Riko tanpa memperdulikan keadaan Riko. Dia berjalan tertatih menuju ke arah taksi yang rusak itu. "Ma, mama," teriaknya histeris ketika melihat ibunya bersimbah darah.
__ADS_1
"Tolong selamatkan ibu saya," ucapnya sambil mengusap meminta bantuan warga setempat.
Kemudian para warga mengevakuasi Mama Lira dan sopir taksi yang ada di dalam mobil taksi tersebut. Sayangnya nyawa sopir itu tidak bisa diselamatkan. Dia dinyatakan tewas di lokasi kejadian.
Riko dipaksa keluar oleh warga karena sudah jelas dia yang menabrak mobil taksi yang ditumpangi Mama Lira. Mereka menggiring Riko ke kantor polisi. "Dia juga ikut dalam mobil saya, Pak." Laki-laki itu sempat-sempatnya berteriak dan menyalahkan Amara.
Salah seorang warga yang menghampiri Amara hendak membawa Amara tapi gadis itu menolak. "Korban ini adalah ibu kandung saya, biarkan saya menemaninya sampai ke rumah sakit." Air matanya berderai tanpa henti.
Tak lama kemudian polisi dan ambulan datang. Mama Lira dibawa ke dalam mobil ambulan. Amara ikut dalam rombongan yang membawa ibunya hingga ke rumah sakit.
Amara yang panik belum sempat menghubungi Ruli. Handphone dan tasnya tertinggal di mobil Riko.
Gilang yang sedang dalam perjalanan menuju ke restoran tempatnya bekerja tak sengaja melihat kejadian yang menimpa adik dari ayahnya tersebut. Saat itu, Gilang melihat Amara masuk ke dalam mobil ambulan yang membawa ibunya Ruli. Gilang sempat shok. Sesaat kemudian dia merogoh ponsel yang ada di dalam sakunya.
"Ruli, segera ke rumah sakit," perintah Gilang.
"Mamamu mengalami kecelakaan di jalan raya. Aku tak sengaja melihat dia ketika dimasukkan ke dalam mobil ambulans."
Ruli hampir saja limbung mendengar kabar yang membuat dadanya terasa sesak. Bagiamana bisa orang yang baru saja bertemu dengannya tiba-tiba mengalami kecelakaan. Ruli segera menguasai diri. Dia berlari ke arah mobilnya lalu mengendarai kuda besinya dengan kecepatan tinggi.
Gilang juga mengikuti mobil ambulan tersebut. Dia ingin memastikan keadaan Amara dan ibunya. Sesampainya di rumah sakit, Mama Lira segera dimasukkan ke dalam ruang ICU.
"Apa anda keluarga korban?" tanya dokter yang memeriksa. Amara mengangguk cepat.
"Kepalanya mengalami gegar otak, lalu di bagian dadanya terdapat penumpukan darah akibat benturan, kami harus segera melakukan operasi," ucap dokter tersebut menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"Lakukan yang terbaik untuk mama saya, Dok. Selamatkan nyawanya." Amara menangis tersedu-sedu.
Tak lama kemudian Ruli datang bersama Gilang. Mereka bertemu di parkiran mobil tadi. "Amara bagaimana keadaan mama?" tanya Ruli. Sesaat kemudian dia memperhatikan kepala adiknya itu mengeluarkan darah. "Kenapa dengan kepalamu?" tanya Ruli.
__ADS_1
"Kak, aku yang menabrak mama." Amara mengaku pada kakaknya.
Ruli memegang kedua bahu Amara. "Bagaimana bisa?" tanya Ruli. Dadanya naik turun karena emosi.
Gilang melerai agar Ruli tidak hilang kendali. "Sebaiknya kita fokus untuk mendoakan ibu kalian," ucapnya menengahi perdebatan antara Ruli dan adiknya.
Ruli mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa adiknya sendiri yang menabrak ibu kandungnya. Dia tak habis pikir. Sementara itu Gilang mengajak Amara untuk duduk. Dia juga memberikan air minum agar Amara lebih tenang.
"Tidakkah sebaiknya lukamu diobati terlebih dulu?" Gilang memberikan saran.
Amara menggeleng. "Lukaku ini tidak seberapa dengan luka yang kuberikan pada mama." Gilang ikut sedih melihat saudara sepupunya mengalami musibah. Padahal beberapa hari lagi dia akan menggelar pernikahan dengan Meilani. Gilang bahkan sudah menyewa gedung dan dekorasi yang mewah demi mewujudkan keinginan calon istrinya.
Empat jam lamanya menunggu di depan ruang operasi membuat Ruli semakin risau. "Kenapa operasinya lama sekali?"
Gilang berdiri. "Sabar, tunggu saja. Tapi aku harus pulang dan mengabarkan pada keluargaku tentang keadaan ibumu. Maaf tidak bisa menemani hingga operasinya selesai."
Ruli mengangguk. "Pulanglah, orang tuamu pasti khawatir. Tapi tolong jangan bilang apa-apa ke Kristal. Aku tidak mau pikirannya terbagi karena dia harus mengurus anak-anak." Gilang paham maksud Ruli. Dia pun mengangguk setuju.
Setelah kepulangan Gilang, Ruli bicara pada Amara. "Aku butuh penjelasan darimu." Amara mendongak. Matanya bengkak karena kebanyakan nangis. Ruli jadi tidak tega melihat adiknya yang kacau.
Dia menarik tangan Amara. Gadis itu pasrah jika sang kakak menghukumnya. Namun, Amara terkejut ketika melihat kakaknya membawa dirinya pada perawat. "Tolong obati lukanya yang mengering," perintah Ruli pada perawat tersebut.
Kemudian Amara mendapatkan perawatan dan diperban di bagian kepalanya. Setelah gadis itu selesai diobati, seorang perawat memanggil Ruli. "Apa anda keluarga dari pasien bernama Ibu Lira?"
"Benar."
"Ikut saya sekarang!" Ruli dan Amara berjalan mengikuti perawat wanita tersebut.
Apa yang terjadi pada ibunya Ruli?
__ADS_1