Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Menangkap Dalang


__ADS_3

Setelah mendorong Kristal, Brian kembali ke tempat kerjanya. Lalu dia pura-pura membaur dengan kerumunan orang-orang yang melihat Kristal terkapar. Brian mencoba bersikap tenang seolah tak melakukan apapun. Toh, tidak ada bukti yang memberatkan dia karena dia tangga darurat itu tidak ada CCTV. Tapi dia lupa kalau di semua area terdapat CCTV jadi Agung bisa melacaknya.


"Siapa laki-laki ini?" Tunjuk Agung saat memutar kembali rekaman video ketika Kristal memasuki tangga darurat.


"Brian, dia pegawai baru di sini," jawab Rere tak percaya. Padahal seingatnya Brian selalu mengambil perhatian Kristal. Kalau dia menyukai kristal mana mungkin mencelakakan atasannya itu, pikir Rere.


Rere kemudian memerintahkan bawahannya untuk memanggil Brian. Tapi Brian tiba-tiba menghilang. Tanpa orang lain ketahui dia menguping pembicaraan Agung dan Rere ketika dia mendapati keduanya masuk ruang CCTV. Saat itu dia mendengar Agung menaruh kecurigaan padanya. Maka dia segera keluar dari kantor tempat dia bekerja.


"Sial, rupanya dia sudah tahu kalau kita mencurigainya," kesal Agung karena kehilangan jejaknya.


Setelah itu, Agung mengerahkan anak buahnya untuk mencari Brian. Di saat yang bersamaan, wanita yang kemaren mencari Agung. Dia menanyakan Brian pada resepsionis.


"Ah, tunggu sebentar." Kebetulan Rere lewat di depan petugas resepsionis itu. "Mbak Rere," panggilnya. Rere menoleh. "Ini ada yang cari Pak Brian," tunjuk resepsionis itu pada wanita yang berdiri di hadapannya.


Rere mengerutkan keningnya. "Mungkinkah dia ada hubungannya dengan Brian?" Batin Rere. Lalu Rere membawa wanita itu ke ruangannya. "Silakan tunggu di sini sebentar," ucap Rere dengan lembut. Rere meninggalkan dia seorang diri. Wanita itu tidak mencurigai gelagat Rere.


Rere menghubungi Agung. "Mas ada wanita yang sedang menunggu Brian," bisiknya melalui jaringan telepon. Agung yang belum lama keluar dari parkiran membelokkan mobilnya dan kembali memasuki area hotel tersebut. Dia meloncat menuju ke ruangan Rere.


Wanita itu senang saat seseorang membuka pintu ruangan tersebut. Namun, sayangnya orang yang datang bukanlah Brian. Dia berdiri lalu menanyakan keberadaan Brian.


"Duduklah sebentar!" Perintah Agung. Wanita itu pun menurut karena dia diperintah dengan halus.


"Ada urusan apa anda mencari Brian?" tanya Agung tanpa terburu-buru. Dia tidak mau menakuti orang lain.


"Bukan urusan anda," jawabnya ketus.


"Apa anda tidak tahu kalau Brian kabur?" Ucapan Agung membuat wanita yang tak diketahui namanya itu terkejut.


"Breng*sek, dia belum memberikan uang sepeser pun padaku," gumamnya lirih.


"Uang apa?" tanya Agung.

__ADS_1


Wanita itu gugup lalu berniat kabur. Agung menarik lengannya. "Lepaskan."


"Kenapa kamu tiba-tiba lari, Nona? Apa kamu melakukan kesalahan?" Tuduh Agung.


"Aku tidak berbuat apapun. Aku hanya menuruti perintah Brian." Agung tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita itu. Lalu Agung menawarkan kesepakatan.


"Tenanglah. Bukankah kamu hanya ingin meminta bayaran dari Brian?" Dia mengangguk. "Bekerja samalah denganku. Kamu akan mendapatkan uangmu."


Wanita itu berpikir sejenak. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.


"Hubungi dia buat dia menemuimu," perintah Agung pada wanita itu. Dia sudah setuju untuk bekerja sama. Lalu wanita yang sudah diketahui namanya itu menghubungi Brian. Awalnya Brian menolak datang tapi Risa mengancamnya.


"Sudah aku bilang aku ingin uang cash. Aku tidak mau mereka melacak keberadaanku. Jika sampai ketahuan kau akan kuseret. Ingat aku sedang dalam pencarian polisi," ancamnya.


Baru-baru ini diketahui Risa terlibat judi online sehingga dia diburu oleh bandar. Brian akhirnya setuju untuk menemui Risa secara langsung. Wanita itu mengajak Brian bertemu di sebuah taman.


Agung mengajak Ruli untuk menyergap Brian. Mereka mengawasi dari kejauhan.


Brian terkejut ketika melihat Ruli datang bersama temannya. Dia berusaha kabur tapi Agung menghadang jalannya. "Mau kabur ke mana Lo?" Ruli menarik kemeja Brian dari belakang lalu meninju wajahnya.


Risa pergi entah ke mana saat melihat Brian tertangkap. Agung membiarkan wanita itu pergi karena dia hanya ingin menangkap Brian.


"Serahkan dirimu!" Bentak Agung.


"Hah, tidak semudah itu." Brian menyerang Agung dan Ruli secara bergantian. Mereka bertiga berkelahi. Tentu saja Brian kalah jumlah. Dia akhirnya terkapar setelah Agung dan Ruli membalas serangannya.


Tanpa Agung sangka Ruli mengajar Brian dengan membabi buta. Dia naik ke atas badannya lalu meninju wajahnya secara berulang-ulang. "Ini untuk kecelakaan yang menimpa Kristal."


Bug


"Ini untuk perbuatanmu yang telah membuat aku kehilangan anakku."

__ADS_1


Bug


Agung melerai Ruli. Dia menarik tangannya dengan kasar agar Ruli segera berdiri. "Sudah cukup kamu akan membunuhnya," tegur Agung. Brian sudah tergolek lemah setelah mendapatkan pukulan berkali-kali dari Ruli.


"Pulanglah, Kristal membutuhkanmu sekarang." Agung memberi nasehat pada Ruli. Ruli baru ingat kalau istri butuh dirinya sekarang.


"Aku mengandalkanmu," ucap Ruli pada Agung sebelum dia pergi. Dia menaiki taksi menuju ke rumah sakit. Namun, sebelumnya Ruli berganti pakaian dulu dan membersihkan diri agar terlihat tampan di depan istrinya.


Semua orang menunggui Kristal di rumah sakit. Orang tua Kristal dan mertua serta adik iparnya berada di sana. Sedangkan Alex harus menjaga istrinya yang sedang hamil tua.


Semua orang merasa sedih atas apa yang menimpa Kristal. Terlebih saat ini wanita itu harus kehilangan anaknya akibat terjatuh dari tangga kemaren.


Kristal telah dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi dia masih belum sadarkan diri setelah dilakukan kuretase.


Berlian menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami ketika mengetahui kalau dia harus kehilangan calon cucunya. Pun dengan Jaden. Laki-laki yang selalu tampak dingin itu kini meneteskan air mata drama diam melihat putrinya tak berdaya. Padahal dia belum sempat memberikan ucapan selamat pada Kristal waktu itu.


Mama Lira dan Amara juga sama-sama bersedih. Dia kasian melihat menantunya yang kini tergolek lemas di brankar rumah sakit.


Tak lama kemudian Kristal mulai membuka mata. Dia melihat ke sekeliling. "Ma," panggilnya pada orang yang pertama kali dia lihat setelah sadar dari pingsan.


Berlian mendekat. "Bagaimana dengan anakku?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut putrinya. Berlian menahan tangis. Dadanya terasa sesak mendengar pertanyaan yang sulit untuk dia jawab.


Melihat ibunya yang diam Kristal bisa menyimpulkan kalau dirinya kehilangan janinnya. Apalagi dia mengalami sakit di bagian perutnya. Kristal langsung meneteskan air mata.


Hari Berlian seolah teriris belati yang sangat tajam melihat putrinya menangis. Dia langsung memeluk Kristal saat itu juga. "Ikhlaskan dia!" Hanya itu yang bisa dikatakan pada putrinya.


...***...


Mampir yuk ke novel teman aku sambil menunggu aku up. Jangan lupa subscribe ya


__ADS_1


__ADS_2