Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Tunangan


__ADS_3

Malam ini jadi tempat berkumpulnya keluarga besar Kristal. Kakek dan nenek dari pihak ayah dan ibunya juga datang ke rumah mereka.


"Tidak disangka kita akan disatukan di acara pertunangan cucu kita," ujar Darren pada Rasya. Rasya tersenyum menanggapi omongan Darren.


"Bukankah kita sudah sangat tua mengingat anak kita saja telah memiliki seorang cucu dan kini Alex akan memiliki anak kedua," balas Rasya.


"Ya, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Padahal seingatku baru kemaren aku menemukan Jaden dan ibunya ternyata itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu," ucapnya diiringi tawa ketika mengingat dirinya sudah sangat tua.


Lalu seorang gadis yang mengenakan kebaya berjalan mendekat ke arah keduanya. "Kakek," sapa Kristal. Kedua laki-laki tersebut sama-sama merentangkan tangan pada cucunya. Kristal bingung harus memilih yang mana. Akhirnya dia memeluk keduanya di saat yang bersamaan.


"Terima kasih telah datang ke acaraku," kata Kristal pada kedua ayah dari pihak mama dan papanya.


"Ah, kenapa kau ingin cepat-cepat menikah? Kau membuatku bertambah tua jika nanti kau sudah memiliki anak," protes Darren.


"Aku hanya mengikuti saran papaku," kata Kristal sambil diiringi tawa. Padahal dia sendiri sudah tidak sabar untuk menikah dengan kekasihnya.


"Hei, kenapa bawa namaku segala," sahut Jaden. Dia mendekat ke arah ayah kandung dan ayah mertuanya. "Aku hanya ingin menjaga kehormatan anak gadisku Dad. Aku tidak mau mereka berlama-lama pacaran."


Sebagai seorang ayah tentu saja khawatir jika anak perempuan satu-satunya itu ternodai kehormatannya.


"Ya, papa mengerti perasaan kamu. Papa juga menyesal tidak bisa menjaga kehormatan anak gadis papa waktu itu," sindir Rasya.


"Uhuk, uhuk," Jaden tiba-tiba terbatuk mendengar kata-kata sindiran dari ayah mertuanya.


Kristal menatap sang ayah seolah bertanya dalam diam. Apa sebenarnya yang dimaksud oleh kakeknya itu. Jaden jadi berkeringat dingin menghadapi ayah mertuanya. Kesalahan besar yang telah dilakukan Jaden puluhan tahun lalu tetap saja membekas di hati ayah mertuanya.


"Maka dari itu, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama pada putriku Pa," ucap Jaden meyakinkan ayah mertuanya tentang keputusannya menikahkan Kristal dalam waktu dekat.


Tak lama kemudian keluarga dari pihak Ruli datang. Semua orang berkumpul di halaman belakang yang telah didekor sedemikian rupa dengan hiasan bunga serba putih.


Ruli datang bersama ibu, adik dan keluarga pamannya. Dia tidak membawa banyak orang karena memang merekalah yang tersisa. Gilang juga ikut dalam rombongan Ruli.


Kristal duduk ditemani oleh Rere dan Meilani yang bertugas sebagai pendampingnya malam itu. Mereka berdua mengenakan pakaian yang senada dengan warna yang dipakai oleh Kristal.

__ADS_1


Setelah semua orang duduk di kursinya masing-masing, paman Ruli yang bertugas sebagai perwakilan dari keluarganya menyapa kelurga besar Kristal terlebih dahulu.


"Selamat malam semuanya. Terima kasih atas penyambutan yang sangat meriah ini. Saya selaku paman dari Ruli ingin menyampaikan maksud kedatangan kami malam ini ke sini. Perkenankan anak kami, Ruli untuk melamar kekasihnya Kristal? Apakah pihak keluarga Nak Kristal merestui hubungan mereka?"


Lalu Jaden berdiri dan menjawab pertanyaan paman Ruli. "Kami akan menerima Ruli di keluarga kami," jawabnya.


Setelah itu Ruli dan Kristal bertukar cincin. Ruli membawa sebuah kotak cincin tangannya. "Ini sebagai penyatuan cintaku padamu sayang," ucapnya setelah memakaikan cincin berlian yang sangat indah itu.


Kristal tersenyum malu-malu di hadapan Ruli. "Aku akan menjaga hubungan kita sampai kapan pun. Terima kasih telah memilihku sebagai pasanganmu," balas Kristal.


Di saat jamuan makan, Rere seolah mencari seseorang. Kebetulan Kristal mengamati gelagat asistennya itu. "Kamu cari siapa Re?" tanya Kristal.


"Pak Agung nggak diundang Bu?" tanya Rere.


Kristal menautkan keningnya. "Kenapa kamu menanyakan Mas Agung?"


"Ah nggak apa-apa Bu. Bukankah dia selalu ada di samping pak Alex?" Kilah Rere. Padahal bukan itu maksudnya.


Kristal tahu Agung pasti tidak mau melihat dirinya bertunangan dengan laki-laki lain. Selama ini Kristal mengetahui kalau Agung masih memendam rasa padanya. Namun, Kristal berusaha cuek agar tidak ada kecanggungan di antara mereka. Setiap hari bertemu pastilah akan sulit jika hubungan mereka tidak baik. Oleh karena itu Kristal bersikap biasa saja di depan Agung.


Setelah itu, Gilang mendekat ke arah Kristal. Rere pergi ke tempat lain saat atasannya itu sedang menyapa tamunya.


"Selamat ya Kristal," ucap Gilang dengan berat hati. Jujur dia pernah menyukai gadis yang pernah menyamar menjadi rakyat jelata waktu itu.


"Sama-sama Mas Gilang."


"Aku tidak menyangka kalian akan segera menikah," ucapnya. Dia menyiratkan kekecewaan yang mendalam ketika mendengar sepupunya, Ruli akan menikahi kekasihnya. Gilang tak tahu kalau mereka sudah lama jadian.


"Mas Gilang apa aku boleh tanya sedikit?" Gilang mengangguk.


"Aku tidak pernah melihat ayahnya mas Ruli. Dia juga tidak pernah menyinggung soal ayahnya. Apakah ayahnya masih hidup? Kenapa ayahnya tidak datang?" Cecar Kristal.


Gilang bingung harus menjawab apa pada Kristal. Dia paham mengapa Ruli tidak menceritakan masalah ayahnya. Tapi dia juga tidak berhak buka mulut. "Sebaiknya kamu tanyakan langsung pada tunanganmu. Aku tidak berani menjawab soal itu."

__ADS_1


Kristal merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ruli. "Baiklah, aku akan tanya dia lain kali saja," kata Kristal.


"Tanya apa?" Sahut Ruli yang tiba-tiba datang.


"Mas dari mana saja?" Kristal langsung bergelayut manja di lengan tunangannya itu.


"Kamu kenapa nggak bilang kalau akan mendatangkan keluarga besarmu?" Ruli mencolek hidung Kristal. Gadis yang beberapa waktu lalu resmi menjadi tunangannya itu hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.


Gilang merasa menjadi obat nyamuk di antara pasangan kekasih itu. Oleh karena itu dia melenggang pergi.


"Apa Mas Ruli sudah berbicara dengan mereka?" Ruli mengangguk.


"Aku sudah berbicara pada kakekmu juga."


"Oh ya? Aku senang Mas Ruli bisa cepat akrab dengan keluarga besarku. Bukankah mereka semua baik?" Ruli kembali mengangguk.


"Kristal, Ruli kita foto dulu," seru Alex. Acara malam itu ditutup dengan foto bersama.


Semua orang kembali ke rumah mereka masing-masing. Sebelum pulang, Rere bertanya pada Kristal. "Bu apakah besok anda berangkat kerja?" tanya Rere.


"Iya, Re. Kamu tenang saja. Apa kau bingung dengan posisi kerjamu saat ini?" tebak Kristal. Setelah Alex kembali ke kantor maka posisi Kristal akan menjadi sekretaris lagi.


"Apa saya besok kembali ke pekerjaan saya yang semula?"


"Besok aku akan bicarakan lagi sama Bang Alex." Rere mengangguk paham.


"Kamu pulangnya hati-hati ya. Naik taksi saja lebih aman." Kristal memberikan saran.


"Terima kasih telah mengkhawatirkan saya Bu. Saya meminta kakak saya untuk menjemput."


Tin tin


Suara klakson itu membuat Rere dan Kristal menoleh. "Saya pamit dulu, Bu." Kristal mengangguk. Setelah itu melambaikan tangan pada Rere.

__ADS_1


"Sepertinya aku pernah melihat wajah kakaknya Rere itu tapi di mana ya?" Batin Kristal.


__ADS_2