Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Rencana melamar Rere


__ADS_3

Eh udah Senin lagi, buat yang masih menyimpan Vote kalian bisa bagikan ke othor ya 🙏


♥️♥️♥️


Kristal merasa tidak tenang ketika Leo mengabarkan bahwa Rere sedang sakit. "Mungkin aku terlalu mengekang dia sampai dia sakit karena terlalu keras bekerja," gumam Kristal yang merasa bersalah pada Rere.


Oleh sebab itu Kristal berniat untuk menjenguk Rere ketika pulang kerja nanti.


Sewaktu berada di depan rumah Rere, Kristal melihat mobil Agung sedang terparkir. Sementara pemilik mobil tersebut berdiri di depan gerbang.


Tin tin


Kristal membunyikan klakson agar Agung menoleh ke arahnya. Agung mengerutkan keningnya ketika melihat Kristal turun dari mobil. Dengan memakai high heels lima senti dia berjalan ke dekat Agung. "Mas Agung mau jenguk Rere yang lagi sakit?" tanya Kristal.


"Sakit?" tanya Agung. Kenapa Rere tidak mengabari dirinya kalau dia sakit? Pikir Agung.


"Tadi pagi kakaknya meneleponku bilang kalau Rere izin tidak masuk kerja karena sakit," terang Kristal.


"Tapi sepertinya tidak ada orang di rumah," balas Agung.


"Ke mana mereka?" Agung menggedikkan bahu ketika menjawab pertanyaan Rere.


Tak lama kemudian mobil Leo berhenti tepat di belakang mobil Kristal. Leo dan Rere pun keluar menemui Agung dan Kristal yang berdiri di depan gerbang rumah mereka.


"Re, kamu dari mana? Katanya kamu sakit?" tanya Agung sambil memeluk kekasihnya. Dia jelas khawatir.


"Ehem." Leo berdehem karena merasa diabaikan. Agung pun melepas pelukannya.


"Aku habis ke makam orang tuaku. Hari ini adalah hari peringatan kematian mereka." Rere tidak sepenuhnya berbohong. Tapi mereka ke sana bukan karena hari ini adalah hari peringatan kematian mereka melainkan Rere hanya rindu pada keduanya.


"Bu Kristal juga ada di sini?" tanya Rere.


Kristal tersenyum. "Aku cemas saat kakakmu bilang kamu sakit. Apa sudah mendingan?" tanya Kristal. Rere mengangguk pelan.


"Mari masuk ke dalam," ajak Leo dengan sopan karena Kristal adalah atasan Rere. Dia juga masih sepupu dengan atasannya, Zidan.


"Ah, aku langsung pulang saja. Aku hanya ingin memberikan sesuatu untukmu." Kristal berjalan ke mobilnya untuk mengambil sesuatu.

__ADS_1


"Ini untukmu, jika besok sudah sehat kembalilah bekerja." Kristal memberikan satu kotak kue yang harganya mahal.


"Terima kasih banyak, Bu."


"Sama-sama, Re. Aku pamit ya." Leo menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Hati-hati," pesan Agung. Mereka memang sudah akrab karena Kristal pernah menjadi kekasih Agung.


Setelah kepergian Kristal, Leo, Rere dan Agung masuk ke dalam rumah. "Yang, beneran kamu tidak sakit?" tanya Agung memastikan. Dia khawatir mengingat kemaren Rere sangat ketakutan. Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu sedangkan Leo berjalan menuju ke kamarnya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Aku sudah lebih baik setelah memastikan kalau orang yang aku pukul kepalanya kemaren sudah membaik," ungkapnya.


"Jadi kamu menengoknya pagi ini?" tanya Agung penasaran.


"Iya, dia sudah dioperasi dan sebentar lagi akan membaik. Kak Leo sudah menanggung biaya pengobatannya."


Ada perasaan lega di hati Agung mendengar omongan kekasihnya. "Syukurlah. Sekarang kamu tidak perlu cemas lagi." Agung mengelus rambut Rere yang panjang.


Leo ikut bergabung dan duduk di samping mereka setelah berganti pakaian. "Gung, aku mau bicara sama kamu," ucapnya.


"Bicara apa?" Jujur saat ini jantung Agung berdebar kencang.


"Tentu saja," jawab Agung dengan yakin.


"Kalau begitu kapan kamu akan menikahi dia? Sampai kapan kalian akan berpacaran?" desak Leo. Sesungguhnya dia ingin seseorang bisa menjaga adiknya setiap saat. Leo mungkin kakak yang baik tapi dia tidak bisa menjaga Rere setiap saat.


Agung mengulum bibirnya. Dia senang mendapatkan pertanyaan itu dari Leo. Berarti dia terang-terangan memberikan lampu hijau padanya. Agung mencoba bersikap tenang.


"Segera. Jika Rere siap besok aku akan membawa orang tuaku untuk melamarnya secara resmi," ucap Agung seraya menatap mata Rere dan menggenggam tangannya.


Rere berkaca-kaca. Dia terharu dengan keputusan Agung. Sejujurnya dia sudah menantikan saat-saat ini sejak lama. Tapi banyak yang membuat hubungan mereka jalan di tempat.


"Aku tunggu kedatanganmu besok di rumah ini. Awas saja jika kamu hanya omong kosong maka nyawamu jadi taruhannya," ancam Leo.


"Aku tidak mau kamu mempermainkan Rere," imbuh Leo.


"Kak," protes Rere ketika kakaknya bersikap ketus pada Agung.

__ADS_1


"Aku tidak akan berbohong," jawab Agung dengan yakin.


Sesampainya di rumah, Agung menyampaikan keinginannya pada orang tuanya. "Pa, Ma aku mau ngomong." Agung meminta waktu pada kedua orang tuanya untuk mendengarkan apa yang akan dia sampaikan.


Sang ayah menutup koran yang sedang dia baca. "Bicaralah!"


Agung menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. "Aku ingin menikah dengan Rere. Tolong lamar dia untukku, besok."


Sang ibu bahagia mendengar ucapan anaknya. "Tentu saja, mama akan siapkan segala sesuatunya."


Berbeda dengan ibunya, sang ayah malah kurang yakin. "Kenapa mendadak sekali?" Agung sedikit kecewa dengan tanggapan ayahnya.


"Kenapa, Pa? Bukankah usiaku sudah cukup matang untuk menikah. Lagi pula pekerjaanku sudah mapan."


"Apa dia dari keluarga baik-baik?" tanya sang ayah.


"Dia asisten pribadi Kristal. Dia juga adik Leo asisten pribadinya Zidan, sepupunya Alex. Lalu apa yang membuat papa kurang yakin?" Agung menahan diri agar tidak tersulut emosi. Demi mendapatkan restu orang tuanya dia harus tenang dan bersabar.


"Aku setuju. Hanya menanyakan asal usulnya saja kamu sudah takut kehilangan," ledek sang ayah.


Agung dan ibunya bernafas lega. "Aku kira ayah menentang hubungan kami."


"Mama senang mendengarnya. Akhirnya kita punya menantu. Mama akan persiapkan segalanya besok malam kita datang ke rumahnya. Jangan lupa kabari keluarganya," perintah sang mama.


Agung memeluk mamanya. "Terima kasih banyak, Ma. Aku sangat menyayangimu." Agung mencium pipi ibunya.


"Halah kamu selalu pilih kasih," cibir sang ayah.


"Apa papa berharap kucium juga," goda Agung pada ayahnya. Lalu mereka tertawa bersama.


Ketika di dalam kamar, Agung mengambil ponselnya. Dia melakukan panggilan video ke ponsel Rere. Cukup lama dia memanggil kontak Rere tapi tidak ada jawaban. "Apa dia jam segini sudah tidur ya?" gumam Agung.


Setelah itu dia mengetik pesan singkat untuk mengabarkan kalau keluarganya akan datang melamarnya besok malam.


"Semoga dia segera membacanya." Agung harap-harap cemas.


Di tempat lain, Leo berlari sambil menggendong adiknya yang sudah berlumuran darah.

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Rere sebenarnya?


Simak di bab selanjutnya ya


__ADS_2