Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Positif


__ADS_3

Hari masih subuh Ruli terbangun karena tiba-tiba dia merasakan mual yang tak tertahankan. Dia berlari ke toilet. Kristal yang menyadari suaminya tak beres kemudian menyusulnya.


"Mas, kamu tidak apa-apa?" tanya Kristal khawatir. Wanita itu memijit tengkuk suaminya. Tidak ada yang dikeluarkan dari mulut suaminya tapi dia terlihat sangat tersiksa saat ingin muntah.


"Apa perlu kita periksa ke dokter?" Kristal merasa cemas dengan keadaan suaminya.


"Tidak perlu sayang, nanti juga baikan," tolak Ruli. Dia hanya malas ke rumah sakit karena mencium bau obat akan membuat kepalanya semakin pusing.


Lalu sesaat Kristal berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Sandra kemaren. Jadi tidak ada salahnya mengikuti saran kakak iparnya.


"Apakah mungkin Mas Ruli yang ngidam?" Batin Kristal. Dia mengulas senyum tipis membayangkan kalau dia benar-benar hamil.


Kristal memapah suaminya. "Duduk di sini dulu Mas aku ambilkan teh hangat untukmu." Ruli mengangguk lemah.


Kristal turun setengah berlari. Lira yang melihatnya jadi khawatir. "Kristal jangan lari sambil menuruni tangga. Bahaya!"


Kristal tersenyum pada mama mertuanya. "Aku ingin membuatkan teh hangat untuk Mas Ruli, Ma."


"Apa dia mual muntah lagi?" Tebak sang ibu.


"Dari mana mama tahu?" tanya Kristal penasaran.


"Mama ini jelas sudah berpengalaman. Sebagian suami akan mengalami gejala seperti Ruli saat istrinya hamil muda." Ucapan sang ibu membuat wanita itu terkejut.


"Tapi Ma, aku tidak hamil," elaknya.


"Mungkin kamu belum menyadari. Mama bisa lihat dari badan kamu yang lebih berisi dari sebelumnya. Lalu nafsu makanmu yang semakin bertambah. Apalagi suamimu mengalami hamil simpatik, sudah jelas kalau kamu hamil sayang," terang mama Lira panjang lebar.


Kristal mengerutkan keningnya. "Waktu itu aku sudah cek lewat tespek hasilnya negatif Ma."


"Bisa jadi samar bukan negatif. Lebih baik kamu tes ulang atau langsung ke dokter kandungan." Mama Lira memberikan saran.


Kristal makin yakin dengan dugaannya. Tapi dia masih belum percaya seratus persen jika belum melakukan tes kedua kalinya.


Setelah memberikan teh hangat untuk suaminya, Kristal bergegas ke toilet. Tak lupa dia mengambil alat tes kehamilan di laci mejanya. Meski sudah bangun sejak tadi, tapi dia yakin kalau memang dia benar-benar hamil maka reaksi alat itu akan langsung terlihat.


Kristal menampung sedikit urinnya lali dia mencelupkan alat tes kehamilan tersebut. Jantung Kristal berdetak lebih kencang kala menunggu hasilnya.

__ADS_1


Dua menit kemudian dia melihat dua garis di alat tes kehamilan yang sedang dia pegang. Beberapa kali dia menggosok matanya sedikit kasar. Kristal membuka mulut lebar-lebar saat menyadari apa yang dia lihat saat ini.


Butiran bening yang keluar dari matanya menetes tanpa dia duga. Kristal bingung bagaimana cara mengekspresikan perasaannya saat ini. Yang jelas dia sangat bahagia.


Ruli berniat mengetuk pintu kamar mandinya ketika sang istri tak kunjung keluar. Namun, sesaat kemudian Kristal keluar dari kamar mandi. Matanya berkaca-kaca ketika menatap suaminya.


"Sayang, kamu menangis?" Ruli menyeka air mata Kristal. Ruli melihat alat yang dipegang oleh istrinya sekilas. Dia menduga hasilnya negatif lagi. "Tidak apa-apa sayang. Jangan bersedih kita bisa coba lagi nanti."


Kristal mengurai pelukan suaminya. Setelah itu dia memberikan alat tes kehamilan tersebut. Ruli terkejut sekaligus tidak bisa berkata-kata saat melihat garis dua di alat tersebut.


"Sayang, ini..." Ruli tak meneruskan kata-katanya. Kristal paham apa yang ingin disampaikan oleh suaminya. Wanita itu mengangguk. Ruli memeluk istrinya dengan posesif.


"Selamat sayang sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu." Ruli mengecup kening istrinya agak lama.


"Selamat Mas kamu akan jadi seorang ayah," balas Kristal.


"Kita harus beri tahu kabar bahagia ini pada mama," ucapnya antusias.


"Mama sudah tahu."


"Mama yang menyuruhku untuk melakukan tes kehamilan setelah dia melihat kamu mual muntah di pagi hari." Kristal mencolek hidung suaminya.


"Aku masih tidak mengerti sayang kenapa kamu yang hamil tapi aku yang mengalami ngidam?"


"Itu karena kita memiliki ikatan yang kuat. Jadi kamu bisa merasakan apa yang aku alami sekarang," terang Kristal yang seolah sudah berpengalaman.


Ruli tersenyum. "Ah, begitu rupanya." Ruli mengelus perut istrinya yang masih rata. "Sekarang aku baru tahu kalau dia sedang tumbuh di sini. Aku akan menjaga kamu dan calon anak kita dengan baik." Kristal mengangguk. Dia percaya pada janji yang diucapkan dari mulut suaminya itu.


Setelah itu pasangan suami istri itu turun. Keduanya tampak tersenyum. Ruli menasehati istrinya agar berhati-hati menuruni tangga. "Sayang, apa sebaiknya aku gendong kamu sampai bawah?"


"Jangan berlebihan Mas. Kakiku tidak sakit dan masih kuat berjalan."


"Tapi kamu sedang hamil jangan sampai kamu kelelahan." Keduanya masih berdebat di atas.


"Kristal, Ruli ayo turun sarapan," ajak sang ibu. Amara ikut bergabung lagi itu.


"Kelihatannya sedang bahagia? Apa kak Kristal menang tender?" tebak Amara.

__ADS_1


"Lebih dari itu," jawab Kristal. Semua orang jadi terkekeh. Amara dan mama Lira sudah tahu apa yang membuat pasangan suami istri itu bahagia.


"Sebaiknya kamu antar istrimu periksa kandungan ke dokter," saran mama Lira.


"Baik, Ma. Hari ini aku akan mengajak Kristal ke dokter kandungan."


"Mas, aku mau hubungi Rere dulu agar dia mengambil alih pekerjaanku," kata Kristal meminta izin. Dia pun mengambil handphonenya.


Rere menghela nafas berat ketika mendengar atasannya libur kerja hari ini. "Haih, alamat lembur lagi," keluhnya.


Handphone Rere berbunyi. Dia pun membaca pesan singkat dari Agung yang mengajak makan siang bareng saat jam istirahat nanti.


"Haih bagaimana bisa? Sedangkan pekerjaanku menumpuk." Rere mengacak rambutnya yang panjang karena frustasi.


"Pengen cepat nikah, biar ngurus suami sama anak doang. Lama-lama rambutku botak jika terus berkutat dengan angka-angka ini," gerutu gadis yang memakai blazer warna hitam itu.


Alex seorang diri ke kantor Kristal tapi dia tidak melihat batang hidung adiknya. "Ke mana atasanmu?"


Rere berdiri dan mengangguk hormat ketika melihat kedatangan Alex. "Hari ini Bu Kristal izin tidak masuk, Pak," lapor Rere.


"Hish, anak itu. Kenapa dia terlalu sering bolos bekerja? Awas saja nanti," gumam Alex. Dia kesal karena Kristal tidak memberikan kabar padanya.


Sementara itu Ruli dan Kristal tengah menunggu giliran untuk dipanggil. Dia ingat saat mengantarkan Sandra, Kristal melihat sepasang suami istri yang sangat romantis. Saat itu sang suami sedang memberikan minuman pada istrinya. Hal kecil yang membuat Kristal bisa merasakan perhatian seorang suami.


Kristal tersenyum tipis saat mengingatnya. "Sayang apa kamu haus?" Kristal mengangguk.


"Aku akan belikan minuman untukmu. Kamu tunggu di sini sebentar." Kristal mengulas senyum sebelum suaminya pergi.


Di sudut yang tak terlihat, seseorang mengawasi gerak-gerik Kristal dan suaminya dari kejauhan. Dia mengambil gambar melalui handphonenya lalu mengirim gambar tersebut pada seseorang.


...♥️♥️♥️...


Jangan lupa subscribe ya, yang masih nyimpen vote bisa bagi-bagi ke othor.


Sambil menunggu up kalian bisa mampir dulu ke novel berikut ini


__ADS_1


__ADS_2