
Kristal mengingat nasehat ibunya. "Buatlah saat masa suburmu!" Kalimat itu terus terngiang di telinga Kristal.
Hari ini dia memutuskan pulang lebih cepat dari pada suaminya. Kristal telah mempersiapkan diri untuk melayani suaminya malam ini.
Setelah lima hari mengalami menstruasi, dia sama sekali belum mendapatkan sentuhan dari Ruli. Malam ini dia ingin membuat anak bersama sang suami.
Kristal sengaja memakai lingerie yang dibelikan oleh suaminya. Ini pertama kali semenjak menikah, dia memakai pakaian dinas dari suaminya itu. Sebenarnya dia agak risih memakai pakaian kurang bahan itu, tapi dia ingin menggoda sang suami.
Ruli masuk ke dalam kamar. Saat itu dia terkejut ketika melihat sang istri tengah berbaring di atas ranjang mengenakan lingerie merah menyala.
"Mas, ayo buat anak," ajak Kristal dengan suara yang dibuat-buat.
Ruli tersenyum menyeringai. Dia menggulung lengan kemeja yang dia kenakan sampai ke siku. Lalu membuka kancing bagian atasnya. Ruli segera bergabung dengan Kristal.
"Kamu mau buat anak berapa kali malam ini?" Goda Ruli yang sudah berada di atas istrinya.
"Sebanyak yang kamu mau," jawabnya.
Jantung Kristal berdebar ketika Ruli menempelkan keningnya. "Jangan menyesal kalau kamu besok tidak bisa berjalan," bisik Ruli di telinga istrinya.
Ruli menempelkan bibirnya dengan lembut. Kristal langsung membalasnya. Dia ingin suaminya merasa puas dengan pelayanannya malam ini.
Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Ruli menggigit bibir bawah istrinya agar dia lebih leluasa mengeksplore bagian dalamnya.
Setelah puas di bagian bibir, Ruli menjelajahi leher jenjang Kristal. Dia menggigit bahu putih istrinya dan meninggalkan tanda kepemilikan. Ruli mencium setiap jengkal bagian tubuh istrinya. Kristal hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sang suami tapi dia menikmatinya.
Adegan demi adegan panas mereka lakukan. Suara de*sah dan erang*an menggema di dalam kamar. Ruli baru berhenti setelah dia merasa puas. Mereka bercinta hingga hari menjelang pagi. Keduanya tertidur setelah sama-sama kelelahan.
Kristal bangun lebih dulu. Ingatan manis tentang kejadian semalam membuat senyumnya terbit. Dia menyingkirkan tangan suaminya yang masih melingkar di area perutnya dengan perlahan. Namun, saat Kristal akan berdiri, Ruli menarik tangannya lagi.
__ADS_1
"Mas, sudah pagi kita harus berangkat bekerja," omel Kristal.
"Bolehkah kita berhibernasi saja?" ucapnya dengan suara parau. Kristal mengelus pipi suaminya. "Nanti malam kita bisa mengulanginya lagi," bujuk Kristal.
Setelah itu Ruli bangun dengan malas. Kristal mengajaknya mandi bersama agar suaminya itu lebih bersemangat.
Dua Minggu kemudian, Kristal mengecek urinnya dengan alat tes kehamilan setelah bangun tidur. Kristal menunggu hasilnya setelah beberapa menit kemudian. Wajahnya terlihat sendu. Setelah itu Kristal keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya sang suami. Ruli melirik ke bawah ada sesuatu yang dipegang oleh Kristal. Lalu dia mengambilnya. "Tidak apa-apa, kita masih punya kesempatan lagi untuk memiliki momongan," ucapnya untuk menenangkan sang istri.
Hari ini Kristal bekerja seperti biasanya. Rere tak sengaja memperhatikan bentuk tubuh Kristal yang semakin berisi. "Sepertinya setelah menikah anda agak gemukan, Bu."
Kristal memegang pipinya. "Oh ya? Aku sudah lama tidak menimbang berat badanku," jawabnya.
"Apa mau saya pesankan makanan siang ini?" tanya Rere.
Setelah menyelesaikan pekerjaan Rere pergi ke supermarket membeli buah segar yang dipesan atasannya. "Siang-siang gini makan buah? Ada-ada saja Bu Kristal ini," gumam Rere dengan lirih.
Ketika berada di tempat parkir dia tak sengaja berpapasan dengan Amara. "Re, mau jenguk orang sakit?" tanya Amara ketika dia melihat belanjaan Rere penuh dengan buah.
"Pesanan Bu Kristal," jawabnya singkat. Amara jadi berpikir kalau kakak iparnya itu sedang ngidam. "Aku harus beri tahu mama," batin Amara.
Sesampainya di rumah, Amara heboh memberi tahu sang ibu. "Ma, aku punya kabar bagus," kata Amara dengan bersemangat.
"Kabar apa sayang?" tanya mama Lira.
"Mama akan jadi nenek sebentar lagi." Ucapan Amara membuat Lira senang bukan kepalang. "Benarkah?" Amara mengangguk yakin.
"Aku lihat Rere membelikan buah-buahan untuk Kak Kristal. Mama tahu kan kalau orang hamil muda itu sukanya makan buah segar apalagi yang masih muda."
__ADS_1
"Mama tidak menyangka Ruli dan Kristal akan dikaruniai anak secepat ini," ucap Lira dengan hati yang berbunga-bunga.
Hari ini badan Kristal terasa malas sekali. Apalagi tadi siang dia hanya memakan buah yang tidak mengenyangkan perutnya. "Mas, kita mampir makan di restoran dulu ya. Aku sangat lapar." Ruli menuruti permintaan istrinya.
Sesampainya di restoran Kristal memesan banyak makanan. Dia makan sangat lahap. Ruli sampai terheran-heran karena melihat istrinya makan dengan rakus. "Pelan-pelan sayang makannya." Ruli mengingatkan istrinya.
Usai makan Kristal berniat ke toilet untuk membersihkan tangannya. Ketika Kristal bangun dari tempat duduknya dia tak sengaja menabrak seorang laki-laki. "Maaf," ucap laki-laki itu tersenyum ke arah Kristal. Ruli cemburu saat mengamati laki-laki yang menatap istrinya secara lama itu.
"Ehem." Ruli berdehem untuk memberi tahu keberadaannya. Laki-laki asing itu mengangguk hormat pada Ruli. Ruli tak membalasnya.
Usai mencuci tangannya di toilet Kristal mengajak suaminya pulang. Sesampainya di rumah, dia dikejutkan oleh masakan mama Lira yang begitu banyak di atas meja.
"Ma, apa akan ada tamu yang datang ke rumah kita?" tanya Ruli yang penasaran. Mamanya tak pernah memasak sebanyak ini sebelumnya.
"Tentu saja, akan ada tamu di rumah kita," jawab Lira dengan kiamat ambigu. Sedangkan Ruli menunggu kedatangan tamu mamanya itu. Nyatanya tidak ada seorang pun yang datang.
"Kristal, ayo makan!" Perintah mama Lira.
"Tapi dia baru saja makan di restoran bersamaku, Ma." Lira terlihat sendu saat Ruli menolak makanannya
Kristal yang tak tega langsung duduk di meja makan lalu memakan masakan mama Lira. Ruli kembali dibuat heran. Bagaimana bisa Kristal menghabiskan makanan yang sangat banyak itu. Sedangkan mama Lira dan Amara tersenyum senang. Mereka sangat menantikan kehadiran anggota baru di keluarga mereka.
Sesampainya di dalam kamar, Ruli menanyai istrinya. "Sayang, hari ini kamu makan seperti orang yang seminggu tidak makan. Apa terjadi sesuatu denganmu?" tanya Ruli curiga.
"Entahlah, rasanya sayang kalau melewatkan makanan seenak masakan mama Lira," jawab Kristal. Meski jawabannya logis tapi Ruli masih menaruh curiga. Bukankah Kristal selalu menjaga berat badannya, pikir Ruli.
Mulai saat itu, Kristal membawa camilan dan bekal yang disiapkan oleh mama Lira. Dia sangat menyukai masakan mama mertuanya itu. Mama Lira tentu saja senang kalau menantunya mau memakan masakan yang dia buat.
Jadi apa yang membuat naf*su makan Kristal bertambah?
__ADS_1