
"Papa," panggil Siena yang saat itu mendatangi restoran Ruli. Meilani sungguh terkejut memanggil Ruli dengan sebutan papa tapi laki-laki itu sepertinya tidak menyangka. Grace berjalan di belakang Siena.
"Jangan terkejut, dia mantan istri dan anak Ruli," kata Gilang menjelaskan pada Meilani yang berdiri dengan tatapan bingung. Meilani membuka mulut saking tak percaya.
"Bagaimana bisa? Apa Kristal sudah tahu?" Meilani jadi memikirkan perasaan sahabatnya itu. Tidak bisa dia bayangkan betapa sakitnya menjadi Kristal mengetahui suaminya ternyata seorang duda beranak satu.
"Sudah kembali bekerja!" Perintah Gilang pada Meilani.
Ruli memeluk Siena sayang. "Kamu nggak sekolah?" tanya Ruli.
"Aku baru akan memindahkan dia ke sekolah yang ada di kota ini?" Sela Grace.
"Sebenarnya apa maksud kamu pindah ke kota ini?" tanya Ruli curiga.
"Aku bercerai dengan ayahnya Siena."
"Aku tidak tanya soal itu," sahut Ruli.
"Papa aku lapar," rengek Siena. Ruli menggendong anak kecil berambut panjang itu.
"Ayo kita makan bersama," ajaknya sambil mengulas senyum pada anak gadisnya.
Sementara itu, Kristal pergi ke kantor untuk mengecek pekerjaan Rere. "Apa ada kesulitan Re?" tanya Kristal.
"Tidak ada, Bu."
"Aku hanya mampir sebentar karena aku akan menjemput Zavier sebentar lagi. Mungkin besok sudah bisa kembali bekerja seperti biasa."
"Baik, Bu. Apa istrinya pak Alex sudah melahirkan?" Kristal mengangguk.
"Anaknya perempuan, aku tidak sabar mengunjungi keponakan baruku."
"Ah saya juga senang mendengarnya," balas Rere.
"Baiklah, tolong pesankan taksi aku akan pergi menjemput Zavier ke sekolahnya sebentar lagi."
"Baik, Bu."
Tak lama kemudian Kristal turun dari lift. Dia tak sengaja berpapasan dengan Agung. "Mas Agung, ada apa?" tanya Kristal.
"Hanya ingin membantu pekerjaan Rere," jawabnya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Tenang saja, aku sudah menyelesaikan tugas dari abangmu. Sekarang giliranku untuk membantu kekasihku yang kamu tinggalkan."
__ADS_1
"Alah bilang aja mau pacaran," cibir Kristal. Agung menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Ya sudah aku tinggal dulu. Aku harus menjemput Zavier." Kristal melambaikan tangan pada Agung.
Setelah itu Kristal masuk ke dalam taksi yang telah dipesan. Sopir mengantarnya ke sekolah Zavier. Saat sampai di sana ternyata Zavier belum keluar. "Kira-kira masih berapa lama lagi, ya?" Gumam Kristal.
"Kamu sepupunya Mas Zidan ya?" tanya wanita yang berambut panjang itu.
Kristal mengangguk. "Eh, istrinya Mas Zidan 'kan?" Safa mengangguk.
"Anak kamu sekolah di sini?" tanya Safa.
"Bukan, cuma keponakan. Anak Bang Alex. Jadi anak kakak sekolah di sini?" Safa mengangguk.
Kristal memperhatikan wajah Safa begitu cantik tanpa noda. "Kamu kenapa ngelihat aku kaya gitu?" tanya Safa.
"Kakak cantik sekali," puji Kristal. "Padahal dia udah punya anak tapi wajahnya lebih cantik dari aku," batin Kristal meronta.
Safa terkekeh mendengar ucapan Kristal. "Kalau mau kapan-kapan kamu bisa mampir ke rumah sakit tempat aku bekerja. Aku bekerja sebagai dokter kecantikan dan bedah plastik."
Wajah Kristal berbinar. "Wah kebetulan sekali aku sering pakai skincare tapi nggak cocok. Mungkin kapan-kapan aku bisa konsultasi sama kakak." Safa mengangguk.
"Aku tunggu kedatangan kamu."
Tak lama kemudian Zavier keluar bersama seorang gadis kecil. Tapi mereka terlihat tidak akur. "Kamu kenapa Willa?" tanya Safa ketika melihat wajah anaknya itu ditekuk.
"Apa aku tidak nakal. Aku hanya pinjam pensil warnanya tapi tidak boleh," adu Zavier.
"Memang pensil warnanya di mana Zavier?" tanya Kristal.
"Aku tidak bawa onty. Ini semua salah onty. Onty tidak mengecek isi tasku sebelum berangkat." Kristal menepuk jidatnya ketika Zavier menyalahkannya.
"Baiklah, onty salah. Onty minta maaf. Sekarang baikan dulu sama temannya." Kristal menarik tangan Zavier agar mau bersalaman dengan Willa. Safa pun menarik tangan anaknya agar mau berbaikan dengan keponakan Kristal.
"Nah, gitu kan bagus. Jangan bertengkar lagi ya," pesan Kristal pada Zavier. Dia mengacak rambut anak itu dengan sayang.
"Apa kalian mau bareng? Aku tidak melihat mobilmu?" Safa menawarkan tumpangan. Kristal menggeleng. "Tidak, Kak. Kami naik taksi saja. Tadi pagi aku diantar oleh suamiku makanya tidak bawa mobil. Setelah ini kamu akan menyusul ibunya ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Aku juga akan ke sana. Apa kalian mau bareng?"
"Apa tidak merepotkan?" tanya Kristal yang merasa tidak enak.
"Tentu saja, tidak. Ayo masuk!" Ajak Safa.
Mereka menuju ke rumah sakit bersama. Setelah sampai Kristal menelepon abangnya. "Bang, aku ingin menjenguk kakak ipar. Tolong gantikan aku menjaga anakmu. Aku sudah ada di lobi rumah sakit," ucapnya memberi tahu Alex.
__ADS_1
"Baiklah, tunggu di sana."
Setelah itu, Kristal menutup teleponnya. "Bagaimana kalau Zavier bermain bersama Willa di Playground. Kamu bisa meninggalkannya di sana selama kamu menjenguk ibunya," usul Safa.
"Ah, benarkah? Aku baru tahu kalau di rumah sakit ini ada tempat bermain anak."
"Iya memang khusus dibuat untuk anak-anak, tujuannya agar mereka tidak bosan ketika orang tuanya mengunjungi pasien."
"Bagaimana Zavier apa kamu mau bermain bersama Willa?" tanya Kristal. Zavier mengangguk. "Tapi aku terpaksa ya," ucap anak kecil itu. Safa dan Kristal saling bertukar pandang lalu terkekeh mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zavier.
Tak lama kemudian Alex datang. "Kristal," panggil Alex pada adiknya itu.
"Bang. Oh ya, ini istrinya kak Zidan. Abang sudah tahu kan?" Alex mengangguk hormat pada Safa. Safa membalasnya.
"Maaf, saya tinggal dulu. Sudah jam praktek," pamit Safa. Kristal dan Alex mengangguk paham.
Setelah itu, Kristal menemui Sandra. "Di mana keponakan aku, Kak?" tanya Kristal.
"Sedang diganti popoknya karena habis pup," jawab Sandra.
Sesaat kemudian suster mengantarkan bayi Sandra masuk. "Eh keponakan onty. Sini biar onty gendong."
"Emang kamu bisa?" tanya Sandra.
"Ya belajar dong kak. Gimana sus ajarin dong." Lalu suster mengajari cara memegang bayi pada Kristal.
"Nggak sulit bukan?" Kata Suster.
"Tapi aku agak tegang ini," kata Kristal dengan tangan gemetar memegang bayi itu.
"Sini biar kakak aja yang gendong baby Liora." Sandra mengambil alih anaknya.
"Nama yang sangat cantik seperti anaknya." Tak terasa Kristal meneteskan air mata.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Sandra khawatir.
"Aku kangen sama anakku," jawab Kristal sambil mengusap pipi Liora dengan lembut setelah itu dia menciumnya.
Sandra memahami kalau Kristal masih bersedih setelah kehilangan anak yang dia kandung. Tapi dia hanya bisa mendoakan karena calon anaknya itu belum terbentuk masih dalam gumpalan darah karena saat itu usia kehamilan Kristal baru menginjak delapan minggu.
"Sabar, Dek. Kamu pasti akan dapat gantinya segera."
"Sudah dapat kak. Usianya seumuran dengan Zavier." Ucapan Kristal membuat Sandra bingung.
...***...
__ADS_1
Hai mampir dulu ya ke novel temanku ini jangan lupa subscribe