Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kembali ke rumah


__ADS_3

"Aku mau tinggal bersama papa Ruli," kata Siena. Dia masih bersembunyi di balik punggung Ruli.


Hans dan Grace merasa tak terima anak kandung mereka malah memilih orang lain. "Kalian dengar sendiri bukan apa pilihan Siena?" kata Ruli.


"Siena apa kamu tega meninggalkan mama?" tanya Grace dengan muka memelas.


"Aku sudah puas tinggal bersama mama, sekarang aku ingin tinggal bersama papa Ruli dan mama Kristal." Ucapan jujur itu keluar begitu saja dari mulut Siena. Siena menganggap pengorbanan Kristal begitu besar untuknya. Bahkan mama kandungnya belum tentu mau mengorbankan nyawa untuk dirinya. "Aku menyayangi mama Kristal."


Ruli terharu mendengar ucapan Siena. Dia patut bangga memiliki istri seperti Kristal. Tidak ada alasan lagi untuk menyia-nyiakan wanita yang dia cintai.


"Grace jangan paksa Siena. Kalian bisa memiliki anak lagi bukan? Tidak bisakah kamu mendukung keputusan Siena?" Ucapan Ruli tidak bisa diterima oleh Grace dan Hans.


Grace menangis bagaimana pun dia anak kandungnya. Mana mungkin dia melepas Siena begitu saja. "Baik, aku akan kembali dengan pengacara agar kamu tidak bisa mengambil Siena dariku," ancam Grace.


"Tidak masalah. Tapi selama kamu belum memproses hukum biarkan dia tinggal bersamaku."


Hans dan Grace pergi dengan perasaan kecewa. Lalu Ruli membawa masuk Siena. "Istirahatlah di kamar papa," perintah Ruli pada putrinya. Siena mengangguk patuh.


Setelah itu, Ruli pergi ke kamar ibunya. Dia menengok sang ibu yang sedang sakit. Dia terkejut ketika ibunya terjatuh. "Ma, apa mama baik-baik saja?" Ruli membantu ibunya bangun.


"Mama ingin mengambil minum," terang Mama Lira. Ruli pun mengambilkan gelas yang ada di atas nakas.


"Kalau mama butuh apa-apa bilang saja sama aku. Apa mama kecapekan karena mama melakukan banyak pekerjaan rumah?" tanya Ruli. Selama ini mereka memang tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Mama Lira suka mengurus rumahnya sendiri supaya dia ada kegiatan di rumah.


Mama Lira menggelengkan kepala. "Bukan karena itu. Mama memikirkan menantu mama yang sampai sekarang belum sadarkan diri." Mama Lira menangis di hadapan Ruli.


Ruli menghapus air mata ibunya. "Kristal sudah sadar Ma." Ucapan Ruli membuat mama Lira tersenyum lega.


"Benarkah? Antar mama ke sana!" Mama Lira hendak beranjak dari ranjangnya tapi Ruli melarang. "Lusa kemungkinan dia sudah balik ke rumah Ma. Jadi mama bersabarlah untuk bertemu dengannya. Jaga kesehatan mama supaya Kristal tidka sedih."


"Tentu saja, nak. Mama sudah tidak sabar untuk menyambut kepulangan Kristal."

__ADS_1


Hari yang ditunggu pun tiba. Kristal diperbolehkan pulang oleh dokter hari ini. Mama Berlian ingin membawa dia pulang ke rumahnya tapi papa Jaden melarangnya. "Biarkan suaminya yang menjaga Ma." Jaden ingin pembuktian kalau Ruli benar-benar menyayangi putrinya. Kalau sampai dia ketahuan menyia-nyiakan putrinya lagi maka Jaden tidak akan tinggal diam.


"Baiklah. Mama akan mengunjungimu setiap hari. Mama juga ingin merawatmu." Kristal mengangguk setuju.


Setelah itu Ruli mengangkat Kristal ke dalam mobil. Kakinya masih diperban akibat patah tulang yang cukup serius setelah kecelakaan yang menimpanya.


Sesampainya di rumah, Mama Lira, Amara dan Siena membuat pesta penyambutan kecil-kecilan. Kristal merasa terharu. "Selamat datang kembali di rumah ini Nak." Mama Lira memeluk menanti kesayangannya.


"Terima kasih, Ma."


Setelah itu Amara memberikan buket bunga untuk kakak iparnya. "Aku senang kakak sudah kembali." Amara tersenyum lebar.


"Terima kasih, Amara."


Terakhir Siena menunggu giliran untuk memeluknya tapi dia malah menangis. Kristal merentangkan tangan agar Siena berlari ke pelukannya. "Kenapa menangis?" tanya Kristal dengan lembut.


Setelah itu dia merenggangkan pelukannya. Kristal mengusap air mata Siena dengan jarinya. "Aku senang mama kembali. Aku ingin tinggal bersama dan merawat mama sampai sembuh." Kristal merasa terharu.


Pada sore harinya, Ruli kedatangan tamu. Gilang datang bersama Meilani. Tak lama kemudian Rere dan Agung. Mereka datang dengan membawa oleh-oleh. "Hari ini seperti musim lebaran saja. Kalian datang secara bersamaan," ucap Kristal.


"Syukurlah kalau kamu sudah sembuh. Waktu itu aku menjengukmu di rumah sakit tapi kamu belum sadar," terang Meilani.


"Iya, maaf sudah membuat kamu khawatir." Sesaat kemudian Kristal beralih ke Rere. "Maaf aku terus menyulitkan kamu Re," ucapnya merasa tidak enak.


"Sudah tugas saya, Bu. Anda fokus saja pada kesembuhan anda. Jangan lama-lama duduk di kursi roda itu."


Lama berbincang mereka pun pamit pulang. Ruli dan Kristal mengantar sampai ke depan rumah. "Hati-hati," seru Kristal sambil melambaikan tangan.


Rere pulang bersama Agung dan Meilani pulang bersama Gilang. "Pak seharusnya bapak tidak usah mengantarkan saya. Saya bisa naik bus saja," ucap Meilani tak enak.


"Jangan terlalu formal. Panggil saja namaku." Perintah Gilang pada Meilani.

__ADS_1


"Mana boleh, Pak. Anda kan atasan saya. Baiklah kalau begitu saya akan memanggil anda Mas. Tapi hanya sedang di luar saja. Apa anda tidak keberatan?"


"Jadi kamu berencana menemuimu selain di tempat kerja," goda Ruli.


Meilani menjadi gugup. "Ah saya tidak berani, Pak. Eh, Mas."


Gilang mengulas senyum tipis hingga Meilani tak menyadarinya. "Kalau week end ini kamu ada acara tidak? Bagaimana kalau kita nonton?"


"Hah serius? demi apa?" Meilani melotot tak percaya kalau atasannya itu mengajak dirinya berkencan. Tapi dia pura-pura bodoh. "Memangnya ada even pas week end ini?"


"Ada even kencan," kelakar Gilang. Jantung Meilani berdegup kencang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gilang.


"Apa aku mimpi?" Meilani mencubit pipinya sendiri.


"Kenapa kamu menyakiti dirimu sendiri?" tanya Gilang cemas.


"Saya hanya ingin memastikan kalau ini bukan mimpi, Pak." Gilang terkekeh mendengar ucapan polos Meilani. Dia mengacak rambut Meilani dengan sayang. Jantung Meilani makin terpacu. "Ah rasanya aku ingin pingsan," batin Meilani kegirangan.


Sudah lama dia naksir pada Gilang tapi Gilang tak pernah meliriknya. Dia malah tertarik pada Kristal. Tapi hari ini dia merasa mimpinya terwujud. Entah kena angin dari mana Gilang mau mengajaknya kencan.


"Meilani, hei Meilani." Gilang mengibaskan tangannya di depan wajah Meilani.


"Ah, maaf saya kurang Aqua." Gilang sontak tertawa mendengar ucapan Meilani yang mengejutkan. Meilani sendiri malah tidak menyadari kalau dia mengatakan hal yang konyol.


"Saya baru sadar kalau kamu menarik."


Wajah Meilani merona merah. "Ya Allah dia makan berapa banyak gula hingga mulutnya semanis itu. Apakah juga dicampur dengan madu?" Gumam Meilani dalam hati.


Episode selanjutnya kita bahas Meilani sama Gilang ya. Tapi sebelumnya kalian bisa mampir ke novel berikut ini.


__ADS_1


__ADS_2