Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Me time


__ADS_3

"Kalian mau menginap di sini bukan?" Tanya Mama Berlian.


"Iya dong ma," jawab Kristal.


"Syukurlah karena Papa kalian sudah lama tidak bermain dengan cucu-cucunya."


"Papa pulang jam berapa ma biasanya?" Tanya Ruli.


"Biasanya sih sekitar jam 07.00 malam. Menjelang akhir bulan dia lembur bersama karyawan lainnya, apalagi ini juga merupakan akhir tahun sebentar lagi akan libur Natal dan tahun baru jadi di Minggu terakhir tahun ini dia perlu mengadakan lembur bersama para karyawannya."


"Kalau begitu kami ke kamar dulu ma ingin lihat anak-anak apakah sudah bangun atau belum?" Pamit Kristal.


Kristal dan suaminya masuk ke dalam kamar kemudian meminta Lala untuk keluar. "Kamu boleh makan dulu, La. Nanti kami akan panggil kalau kami butuh bantuan kamu," perintah Kristal pada baby sitter anaknya itu.


"Baik, Bu." Lala pun keluar dari kamar menuju ke dapur.


"Kamu siapa?" Tanya asisten rumah tangga yang bekerja di rumah orang tua Kristal.


"Saya pengasuh anaknya Bu Kristal dan Pak Ruli," jawab Lala.


"Oh, apa kamu sudah makan? Kalau belum aku akan ambilkan makanan untukmu." Lala tersenyum senang.


"Terima kasih banyak," balas Lala.


Ketika malam tiba, Jaden mengakhiri pekerjaannya lalu pulang ke rumah. "Opa," panggil Glen yang berlari ke arah Jaden. Wajah Jaden yang awalnya kusut jadi berseri ketika melihat cucunya itu berlari ke arahnya.


Jaden menangkap tubuh mungil itu lalu memeluknya dengan erat. "Kamu sama siapa di sini?" tanya Jaden pada kembaran Gwen itu.

__ADS_1


Baby Glen tidak menjawab dia hanya tersenyum dan sibuk memandangi wajah tampan kakeknya. "Papa sudah pulang?" tanya Kristal. Jaden menoleh.


"Kapan kalian datang ke sini?"


"Tadi siang, Pa."


"Jadi apa kalian menginap?" tanya Jaden. Kristal tersenyum. Jaden merasa lega. Dia sangat merindukan cucunya.


"Sini Glen sama mama, opa biar istirahat kan capek baru pulang kerja." Tapi Glen tidak mau. Jaden pun tidak keberatan. dia malah senang cucunya itu menempel pada dirinya seperti itu. Kristal mengambil tas kerja papanya.


"Gwen mana?" tanya Jaden yang tidak melihat kembaran Glen itu.


"Dia sedang bermain di dalam bersama mama dan Mas Ruli."


Jaden pun berjalan sambil menggendong cucunya itu. Sesekali dia menciumi pipi Glen. "Aku jadi ingat masa kecil kakakmu. Dia mirip dengan Glen. Lincah dan aktif."


Bagaimana kalau besok kita undang dia ke sini, Pa. Lagipula besok kan hari Minggu, Zavier juga libur sekolah," usul Kristal.


Malam ini rumah Jaden ramai dengan suara tawa dan tangis anak-anak Kristal. "Rasanya baru kemaren kita merawat Kristal yang masih kecil. Tidak disangka dia sudah punya dua anak sekarang," gumam Mama Berlian ketika sengaja duduk bersama suaminya memperhatikan Glen dan Gwen yang sedang bermain.


Mereka berada di taman belakang rumah Jaden. Saat ini cuaca cerah jadi Mama Berlian mengajak mereka untuk barbequean.


"Ma, jagungnya sudah matang, mari makan bersama," seru Kristal mengajak orang tuanya. Dia bertugas membakar jagung dan bahan-bahan lainnya. Sedangkan Ruli menemani anak kembarnya bermain.


Di sudut lain, Lala merasa iri melihat kedekatan dan keharmonisan keluarga majikannya itu. "Andai saja aku punya orang tua," gumam Lala.


Lala hidup di panti asuhan sejak kecil. Dia tidak tahu siapa orang tuanya. Perjuangan hidupnya amatlah berat. Untuk bisa membayar uang sekolah, dia bekerja paruh waktu di tempat yang berbeda-beda. Apapun pekerjaannya asalkan tidak membahayakan dia bisa melakukannya.

__ADS_1


Malam ini dilewati dengan penuh suka cita. Suara tawa dari anak-anak Kristal membuat rumah Jaden yang mulanya sepi jadi sangat ramai. Rasanya ingin waktu berlalu begitu cepat. "Bagaimana kalau besok pagi kita joging bersama?" usul Jaden. Kristal mana bisa dia menolak.


Sebelum olahraga pagi bagaimana kalau nanti kita olah raga malam dulu sayang," goda Ruli pada istrinya. Wajah Kristal jadi tersipu malu.


"Jangan ngomong di sini."


Anak-anak Kristal dan Ruli mulai mengantuk. Lala membawa mereka ke kamar. Mama Berlian meminta izin pada Kristal menemani cucunya untuk tidur. Dia tentu saja tidak menolak, Jadi Ruli dan Kristal bisa menghabiskan malam berdua.


"Mas aku ke kamar mandi sebentar ya." Ruli mengangguk. Dia masih sibuk dengan ponselnya karena mengecek laporan dari anak buahnya.


Sesaat kemudian Kristal keluar dari kamar mandi. Ruli pun meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu bersama istrinya. Semenjak istrinya melahirkan anak, kegiatan untuk bercumbu sangat jarang dilakukan. Itu karena anak-anak mereka lebih butuh ibunya. Apalagi Kristal harus merawat dua bayi sekaligus. Tentu saja waktunya tidak banyak untuk suaminya.


"Kamu wangi," puji Ruli ketika mencium bau istrinya. Kristal sengaja memakai parfum yang dibelinya di Paris malam ini.


"Kamu ingat parfum yang aku pakai ini bukan?" Ruli mengangguk. "Mama juga memakainya." Dia ingat sang ibu juga memakai parfum yang sama dengan wangi yang dipakai oleh Kristal.


"Aku menginginkanmu malam ini." Kristal sudah tahu maksud suaminya itu. Meski bukan yang pertama kali tapi jantung kristal selalu berdebar setiap kali akan melakukan hubungan intim dengan suaminya.


Ruli mulai menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Dia menciumnya dengan lembut. Kristal langsung membalas ciuman Ruli. Dia juga merindukan sentuhan suaminya itu.


Ruli seolah enggan berhenti ketika merasakan manis bibir istrinya itu. Dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Ruli pun mulai menyusuri leher jenjang istrinya. Mencium setiap inchi bagian tubuhnya dengan lembut. Ruli tidak mau meninggalkan kesan buruk di permainannya. Dia justru ingin membuat moment berharga yang dihabiskan dengan istrinya itu hanya menyisakan rasa manis.


Tahapan demi tahapan telah dilakukan dengan baik untuk membuat istrinya puas menikmati olah raga malam ini. Usia melakukan penyatuan, Kristal terkulai lemas. Ruli menyelimuti tubuh istrinya yang polos lalu terakhir mengecup keningnya.


"Selamat tidur sayang. Selamat beristirahat," ucap Ruli sebelum ikut tertidur.


Keesokan harinya, Kristal bangun lebih dulu. Dia memungut pakaiannya yang berserakan lalu masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Sesaat kemudian Ruli bangun. Namun, dia tidak menemukan apapun di dalam kamar itu. Suara air terdengar jelas di telinga Ruli. Dia mengira istrinya itu sedang mandi.


Ruli tersenyum mengingat percintaan panas mereka semalam. "Aku harap kali ini kamu hamil lagi sayang," gumam Ruli seorang diri. Dia ingat semalam dia lupa memakai pengaman ketika berhubungan badan. Jadi Ruli pikir jika kali ini berhasil, Kristal akan mengandung lagi.


__ADS_2