
Polisi mengabari keluarga Riko, kemudian ayah dari Riko datang ke kantor polisi. "Apa yang kamu lakukan sehingga kamu memanggil ayah sampai ke kantor polisi?" Rama begitu marah pada anak bungsunya.
Ya, Rama dan Riko adalah ayah dan anak. Riko adalah anak ketiga Rama yang masih tinggal bersamanya sedangkan dua anaknya yang lain sudah berumah tangga dan hidup terpisah dengannya.
Riko hanya menunduk dia takut menghadapi ayahnya. "Anak anda telah menabrak mobil taksi sampai salah satu korbannya meninggal dunia," ucap polisi yang bertugas.
Rama memejamkan mata sejenak kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi anaknya itu.
"Kamu mabuk di siang bolong? Kenapa bisa sampai menabrak orang hingga meninggal?" Rama tidak bisa menahan emosinya meski sudah dia coba. Putra bungsunya itu sangat keterlaluan, dia kecewa dengan apa yang dilakukan oleh anaknya.
"Ini semua bukan salah aku, Yah. Ini semua salah perempuan sialan itu," ucap Riko bela diri.
"Jangan melempar kesalahan pada orang lain aku saja perbuatan kamu!"
"Tolong keluarkan aku,Yah," mohon Riko sambil bersimpuh di kaki ayahnya.
Namun Rama melepas pegangan tangan anaknya itu dengan kasar. "Hukum saja dia sesuai dengan kesalahannya!" perintah Rama pada polisi yang ada di sana.
Setelah itu Rama mencari tahu siapa korban yang masih hidup. Dia akan bertanggung jawab dengan memberikan biaya rumah sakit hingga orang itu sembuh.
Setelah mendapatkan informasi tentang korban yang ditabrak oleh anaknya, Rama menuju ke rumah sakit tempat korban di rawat. Dia terkejut ketika melihat Ruli berada di sana. Ruli dan Amara tampak panik mereka berjalan cepat mengikuti perawat yang ada di depannya. Rama yang penasaran kemudian mengikuti keduanya.
Ruli dan Amara berteriak histeris ketika dokter menyampaikan kalau ibunya tidak selamat meski telah melakukan operasi. "Maafkan kami kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi pendarahan yang dialami pasien cukup parah kemudian organ bagian dadanya juga rusak akibat benturan yang sangat keras," terang dokter tersebut.
Ruli dan Amara sama-sama menangis. Rama tak sengaja mendengar omongan dokter tersebut. Air matanya seketika keluar membasahi pipinya. Wanita yang seharusnya dia lamar besok malah pergi begitu saja meninggalkan dunia ini. Hati Rama terasa hancur karena mendengar berita yang begitu memilukan.
__ADS_1
Ruli melihat wajah ibunya untuk terakhir kali. Amara mendadak pingsan ketika melihat wajah ibunya yang pucat. Tentu saja rasa bersalahnya begitu besar karena tak sengaja membunuh ibu kandungnya.
Ruli menggendong adiknya dan meminta perawat menolongnya. Mata Ruli tak sengaja bertemu dengan mata Rama. Dia tak menjelaskan apa-apa. Laki-laki itu membiarkan Rama berada di sisi ibunya.
Rama menangis melihat jenazah wanita yang dicintai terbujur kaku. "Tega sekali kamu meninggalkan aku seperti ini," ucapnya dengan nada bergetar.
"Maaf, Pak. Jenazah akan kami mandikan," ucap salah seorang perawat.
"Tolong perlakuan dia dengan baik. Saya akan menanggung semua biaya perawatannya." Setelah itu Rama membiarkan perawat tersebut mengurus jenazah ibunya Ruli. Dia masih belum tahu kalau Lira adalah korban yang ditabrak oleh anaknya. Kemudian Rama menemui Ruli. Ruli memeluk Rama karena tak kuasa menahan kesedihannya.
"Kita sama-sama kehilangan orang yang kita cintai, jangan bersedih lagi. Ikhlaskan kepergiannya." Rama menasehati Ruli.
Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah Mama Lira dipulangkan ke rumah Ruli. Amara masih dirawat di rumah sakit, sedangkan Ruli memberikan kabar pada Gilang dan keluarganya tentang kematian sang ibu.
Kristal bertanya-tanya ketika orang-orang ramai di rumahnya. Lalu Ruli memeluk istrinya dengan erat meski sedang menggendong baby Gwen.
"Mas, ada apa?" tanya Kristal yang bingung.
"Mama sudah pergi," jawab Ruli dengan suara paraunya. Kristal sangat terkejut. Air matanya meleleh ketika petugas rumah sakit yang berseragam putih membawa sebuah jenazah. Bagaimana bisa ibu mertuanya tiba-tiba pergi padahal tadi pagi masih bersamanya.
Kristal tak kuasa menahan kesedihannya. Dia pingsan di pelukan suaminya. Rama menolong istri Ruli tersebut. Dia membantu menggendong bayinya. Baby Gwen menangis karena tak biasa digendong oleh orang asing.
Ruli menggendong istrinya ke dalam kamar. Dia meminta asisten rumah tangganya untuk menemani bayi-bayinya.
Tetangga Ruli mulai berdatangan malam itu. Tak lama kemudian Gilang dan keluarganya juga datang ke rumah Ruli. Kini Ruli mengabari keluarga Kristal.
__ADS_1
Malam ini jenazah Mama Lira belum bisa dimakamkan, beliau akan dimakamkan besok pagi. Mama Berlian yang sudah datang bersama anggota keluarga lainnya menginap semalam di rumah Ruli.
Rama juga menginap di sana. Dia terus berada di sisi jenazah wanita yang dicintai. Mungkin ini terakhir kalinya dia bisa berada di sampingnya. Karena mereka akan terpisah oleh alam lain.
"Mas." Ruli membantu istrinya bangun. Kemudian dia memberikan minuman pada istrinya.
"Aku tahu kamu sedih sayang, tapi sebaiknya kita ikhlaskan mama. Kamu juga tidak boleh bersedih terus ingat ada baby Gwen dan baby Glen yang mengandalkan kamu." Kristal mengangguk lemah. Dia memeluk suaminya dengan erat. Sesaat kemudian Kristal melepas pelukannya.
"Bagaimana dengan Amara, Mas?" Kristal mengkhawatirkan keadaan adik iparnya itu.
"Semua ini terjadi karena Amara. Dia yang menabrak mama." Kristal menggeleng tak percaya.
"Bagaimana bisa?" tanya Kristal yang bingung.
"Dia bersama seorang lelaki menabrak taksi yang dikendarai mama dari arah yang berlawanan. Sopir taksi meninggal di tempat sedangkan mama sempat dirawat di rumah sakit tapi pendarahan yang dia alami terlalu parah," terang Ruli.
Ada rasa kecewa di hati Kristal pada adik iparnya itu. Tapi jangan sampai karena masalah ini Ruli memutuskan hubungan dengan adik kandungnya sendiri. Kristal tahu Amara juga pasti tersiksa ketika mengetahui ibunya meninggal dunia. Selama ini Kristal tidak pernah melihat Amara membangkang terhadap ibunya bahkan dia cenderung dekat. Jadi dia pikir Amara tidak sengaja melakukannya.
"Mas, meskipun Amara yang menyebabkan kematian mama, tapi jangan sampai kamu membenci dia. Kamu adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Hatinya pasti akan hancur jika kamu membuangnya." Kristal menasehati suaminya dengan bijak.
"Aku belum tahu, rasanya semua ini seperti mimpi." Kristal mengusap air mata suaminya. Lalu dia memeluk agar suaminya itu lebih tenang.
Ruli cepat-cepat menghapus air matanya. sebenarnya ingin menangis lebih lama tapi dia harus mengajarkan pada istrinya untuk tetap kuat.
Keesokan harinya, jenazah Mama Lira dimakamkan pukul delapan pagi di TPU setempat. Ruli tak menunggu Amara karena dia masih dirawat di rumah sakit. "Selamat beristirahat, Ma. Aku minta maaf jika selama aku bersama mama banyak membuat kesalahan," ucap Ruli di atas batu nisan ibunya.
__ADS_1