
Ruli merasa khawatir selama beberapa hari ini Kristal tidak menghubunginya. Ruli sudah mencoba menelepon tapi panggilan darinya seolah diabaikan oleh Kristal. Lalu dia pun bertanya pada Meilani yang tak lain adalah pelayan di restoran sekaligus sahabat Kristal.
"Meilani apa kamu tahu kabar Kristal?" tanya Ruli. Sebenarnya dia tidak enak menanyakan hal ini pada Meilani tapi dia terpaksa. Sedangkan Meilani menautkan alisnya karena dia merasa aneh jika sepasang kekasih itu tidak bertukar kabar.
"Apa anda sedang bertengkar dengannya, Pak?" tanya Meilani.
"Tidak, hanya saja beberapa hari ini saya tidak bisa menghubungi dia. Dia seperti mengabaikan panggilan dari saya."
"Saya jarang berhubungan dengan Kristal. Tapi saya rasa dia punya alasan kenapa dia tidak menjawab telepon anda, Pak."
"Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya," ucap Ruli sedikit cemas.
"Sebaiknya anda datangi saja rumahnya," saran Meilani.
"Saran kamu boleh juga. Nanti aku akan sempatkan diri untuk ke rumahnya."
Ketika Ruli mendatangi rumah Kristal, kondisinya terlihat sepi. Lalu dia bertanya pada penjaga rumah itu.
"Mau cari siapa, Pak?" tanya Satpam itu dengan sopan.
"Apa Kristal ada di dalam?" tanya Ruli.
"Non Kristal belum pulang, ibu juga tidak di rumah beberapa hari ini. Kalau Tuan jam segini biasanya belum pulang," terang penjaga satpam tersebut. Lalu Ruli berpikir untuk ke kantor Kristal. Dia akan menemui kekasihnya di sana.
Saat tiba di hotel, Ruli mencari keberadaan Kristal. Tapi dia tidak tahu di mana dia bisa menjumpai gadisnya itu. Lalu dia bertanya pada pegawai hotel. "Permisi, di mana saya bisa menemui Kristal?" tanya Ruli pada salah seorang pegawai laki-laki itu.
Dia memindai penampilan Ruli dari atas sampai bawah. "Anda ini siapa? Ada keperluan apa ingin bertemu dengan atasan saya?" tanya laki-laki tersebut.
"Sampaikan saja Ruli ingin bertemu dengannya," kata Ruli.
"Baik, nanti saya akan hubungi asistennya," jawabnya.
__ADS_1
"Hei, cepat kemari," seru temannya. "Maaf saya harus pergi," pamit orang itu. Ruli meluruhkan bahu. Ruli mencoba menghubungi nomor telepon Kristal. Saat itu tersambung tapi suara dering itu terdengar amat dekat. Ruli pun mengikuti suara dering ponsel tersebut.
Ruli melihat handphone milik Kristal tergeletak begitu saja di sofa yang ada di lobi. Tak lama kemudian pemilik handphone itu datang untuk mengambilnya. "Mas Ruli," seru Kristal.
Ruli tersenyum senang saat melihat Kristal datang mendekat padanya. Namun, senyum di wajah tampannya itu berubah surut ketika melihat seorang laki-laki asing berjalan di belakang Kristal.
Kristal menyadari pandangan Ruli ke arah yang lain lalu dia pun menoleh. "Mas, bisakah kita bicara sebentar." Kristal mengajak Agung untuk menghindar sebentar. Ruli sempat curiga.
"Mas dia kekasihku, bisakah Mas Agung meninggalkan kami sebentar? Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungi dia karena jadwalku yang padat. Aku ingin meminta maaf padanya." Agung melirik ke arah Ruli lalu dia mengangguk menanggapi permintaan dari gadis yang dia sukai.
Agung pergi meninggalkan Kristal. Dia memberikan ruang untuk Kristal dan Ruli agar mereka bisa bicara berdua saja.
"Apa dia alasan kenapa kamu tidak menghubungiku?" tuduh Ruli. Kristal bisa melihat kilat cemburu yang keluar dari mata Ruli.
"Mas dia itu asistennya Bang Alex. Kami hanya rekan kerja tidak lebih dari itu," ucap Kristal membela diri. Dia ingin meraih tangan Ruli tapi Ruli menghempaskan tangan Kristal. Kristal melihat perubahan sikap Ruli. Ada rasa sesak di dadanya ketika dia mendapatkan penolakan.
"Tapi yang kulihat kalian sangat akrab."
"Kamu tidak merasa kalau kamu sudah salah selama ini? Kamu mengabaikan panggilan teleponku. Apa tidak ada waktu untukmu untuk menjawab teleponku barang lima menit saja?"
Kepala Kristal mulai pusing. Dia sangat kelelahan karena berhari-hari dia lembur di kantor untuk menggantikan tugas abangnya. Alex masih menemani istrinya yang sakit.
Sebenarnya hari ini Kristal belum makan dari tadi siang. Niatnya malam ini ingin keluar makan bersama Agung tapi dia tak sengaja meninggalkan handphonenya di lobi. Jadi dia kembali untuk mengambil handphonenya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas. Aku sangat sibuk. Tidak ada waktuku untuk melakukan sesuatu selain bekerja. Percayalah aku ...." Kristal tumbang seketika.
"Kristal, Kristal," Ruli memanggil nama kekasihnya itu tapi tak ada jawaban. Agung menyingkirkan tangan Ruli kalau menggendongnya.
"Pergilah jika kamu tidak lagi percaya padanya. Kecemburuan kamu hanya akan menyiksanya saja," ucap Agung dengan nada dingin. Dia tidak suka melihat Ruli mendekati Kristal. Walaupun dia tahu mereka berpacaran.
Agung membawa Kristal masuk ke dalam mobil. Dia kemudian menjalankan mesin mobilnya untuk membawa Kristal ke rumah sakit.
__ADS_1
Ruli me*re*mas rambutnya karena frustasi. "Aaa... Kenapa jadi begini?" Dia menyesal karena kehilangan kesempatan untuk kembali pada Kristal.
Laki-laki itu tidak tinggal diam. Dia segera masuk ke dalam mobil lalu mengikuti mobil yang membawa Kristal pergi.
Agung turun dan menggendong Kristal untuk diperiksa. Ruli mengikuti di belakang mereka. Saat Ruli akan mendekat Agung menghalangi dengan tangannya. "Pulanglah, temui dia jika kondisinya sudah membaik," kata Agung yang mengusir Ruli secara halus.
"Tidak aku berhak tahu bagaimana kondisinya sekarang," balas Ruli. Agung tersenyum miring. "Apa kamu terikat hubungan yang sah dengannya?" tanya Agung setengah meledek.
Ruli mengepalkan tangannya. "Sebenarnya apa pedulimu hingga kamu berusaha mengusirku? Apa kamu menyukai Kristal?" Ruli dan Agung saling menempelkan bahunya. Mereka saling menatap tajam seolah ada kilatan petir yang keluar di antara mata keduanya.
"Kalau kamu peduli padanya, jangan mengusik hidupnya lagi!" Agung memperingatkan.
"Aku tidak mengusik hidupnya tapi kami memang perlu bicara setelah dia mengabaikan aku selama beberapa hari ini."
Saat itu Alex berada di rumah sakit yang sama. Dia tidak sengaja melihat Agung dan Ruli saling bertatapan. Dia tahu mereka akan bertengkar. "Berhenti," teriak Alex yang datang dari kejauhan.
Alex menengahi keduanya agar tidak lagi berselisih. "Agung siapa yang sakit?" tanya Alex.
"Kristal tiba-tiba pingsan," jawab Agung.
Setelah itu Alex menatap Ruli. "Mari kita bicara!" Ajak Alex. Dia membawa Ruli jauh dari Agung.
"Kenapa kalian bertengkar?" tanya Alex pada Ruli.
"Aku tidak pernah ingin berselisih dengan laki-laki itu. Aku hanya mendatangi Kristal karena ada hal yang perlu kami bicarakan."
Sepertinya Alex memahami permasalahan Ruli. Dia menepuk bahu Ruli. "Maafkan aku, selama ini aku meminta Kristal menggantikan aku sementara waktu karena istriku sedang sakit. Apa dia tidak sempat menghubungimu?" tebak Alex. Ruli mengangguk.
"Aku harap kamu memaklumi dia. Mungkin dia belum bisa menyesuaikan diri sehingga masih kerepotan mengurus perusahaanku. Soal Agung, dia hanya asistenku. Mereka hanya rekan kerja."
Ruli mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Alex
__ADS_1