Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kalut


__ADS_3

Ruli tiba di rumah sakit. Ketika dia masuk ke dalam ruangan Kristal, istrinya itu sedang tertidur. Kini tinggal mama Lira dan Amara yang berjaga di sana. Mama Berlian dan suaminya pulang untuk istirahat. Mereka akan kembali lagi besok.


"Kamu dari mana saja Ruli?" tanya Mama Lira. "Kenapa wajahmu itu?" Mama Lira memegang wajah putranya tapi dia segera menepis pelan.


"Tidak apa-apa Ma. Hanya luka kecil. Bagaimana keadaan istriku?" Ruli menatap sendu istrinya.


"Dia tertidur setelah menangis," jawab mama Lira.


Ruli mendekat lalu mencium kening istrinya sekilas. "Ma, untuk saat ini aku tidak bisa menemui Kristal. Aku tidak mau dia melihatku dengan muka babak belur begini. Aku takut akan membuat dirinya bertambah sedih. Tolong jaga Kristal untukku," pinta Ruli pada ibu dan adiknya.


"Tapi kak, Kak Kristal butuh kakak. Dia sudah mencarimu sejak tadi apa kakak tidak kasihan padanya?"


Ruli memejamkan matanya sejenak. "Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Kehilangan anak bagiku sungguh menyakitkan. Tapi aku tidak mau terlihat cengeng di hadapan istriku. Tolong beri aku waktu untuk menyendiri."


Mama Lira dan Amara mencoba memahami Ruli. "Baiklah, tapi kembalilah besok jangan sampai kamu mengabaikan istrimu. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika kamu sampai tidak muncul di hadapannya. Mama tahu kamu kecewa tapi Kristal juga tidak mau kecelakaan terjadi padanya. Dia sama hancurnya dengan kamu." Mama Lira membela menantunya.


Mama Lira menasehati putranya itu. Sebagai wanita dia paham posisi Kristal. Dia tidak mau anaknya menyalahkan istrinya atas kejadian yang tanpa sengaja menghilangkan nyawa bayi dalam kandungan Kristal.


Tak lama kemudian Kristal terbangun. "Ma, apa mas Ruli belum kembali?" tanya Kristal pada ibu mertuanya.


Mama Lira menggelengkan kepalanya. Dia tidak banyak bicara. Sulit untuk menjelaskan kondisi Ruli saat ini pada Kristal karena menantunya itu juga sedang hancur.


Mama Lira menaikkan selimut Kristal. "Tidurlah kembali. Kamu harus memulihkan kesehatanmu," ucapnya dengan lembut.


Kristal tak banyak tenaga untuk bertanya. Selain tubuhnya yang masih lemah, menangis seharian membuat dirinya tak berdaya. Apalagi dia masih dalam kondisi berduka setelah kehilangan bayi dalam kandungannya. Kristal memejamkan matanya. Dia berharap ni semua hanyalah mimpi dan akan berakhir ketika dia bangun esok.


Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Ruli tak kunjung menemui Kristal. Kristal merasa sangat sedih. "Ma, apa mas Ruli membenciku? Kenapa sampai sekarang aku tidak pernah melihat dia datang mengunjungi ku? Apa dia marah karena aku tidak becus menjaga kehamilanku?" tanya Kristal pada ibu kandungnya.

__ADS_1


"Jangan bilang begitu sayang, mana mungkin dia membencimu." Berlian tahu kalau Ruli selalu datang di saat Kristal tidur. Tapi dia tak menampakkan batang hidungnya di depan sang istri. Ruli lebih memilih menyibukkan diri untuk melupakan kesedihannya.


Hatinya masih belum bisa terima saat dia kehilangan anaknya. "Apa kamu tidak sebaiknya menemui istrimu? Aku dengar hari ini dia pulang? Apa kamu tidak akan menyambutnya?" tanya Gilang. Dia kasihan melihat Ruli seperti orang yang tak punya arah.


Mama Lira menghampiri putranya di restoran. "Ruli mama ingin bicara sama kamu," pinta mama Lira. Gilang memberi ruang agar kedua orang yang masih kerabat dengannya itu cepat menyelesaikan masalah.


"Ada apa denganmu nak? Apa kamu tidak merindukan istrimu? Dia terus menanyakan kamu tapi kamu tidak mau menampakkan batang hidung di depannya."


"Aku belum siap, Ma."


"Apa yang membuat kamu jadi seperti ini? Jangan sampai kamu dinilai mengabaikan wanita yang kamu cintai. Apa kamu tidak takut kehilangan dia?"


Ucapan sang ibu terngiang-ngiang di kepalanya. Ruli memutuskan untuk menyusul Kristal. Namun, saat dia kembali ke rumah sakit, ruangan yang ditempati Kristal sudah kosong. Setelah itu, dia menuju ke rumah mertuanya.


"Bang, di mana istriku?" tanya Ruli.


"Maafkan aku, Bang. Aku sudah egois. Sekarang izinkan aku untuk menemui istriku, Bang," mohon Ruli.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Suara berat itu muncul dari belakang mereka.


"Pa, tolong pertemukan aku dengan Kristal," rengek Ruli pada ayah mertuanya. Jaden sebenarnya ingin sekali memarahi Ruli karena sudah beberapa hari dia terlalu sibuk bersedih. Tapi dia pernah mengabaikan Berlian di situasi yang sama dulu. Jadi Jaden bisa paham akan perasaan Ruli.


"Dia ada di kamarnya." Jaden memberi tahu. RI mengulas senyum lebar. "Terima kasih, Pa."


Ruli segera berlari ke lantai atas di mana Kristal berada. Namun, dia terkejut ketika Agung menggendong istrinya. Bukannya menegur Ruli malah meninggalkan rumah itu tanpa memberi tahu.


Berlian yang berpapasan dengan Ruli sangat terkejut ketika menantunya itu tak menyapa dirinya. Dia menatap curiga. "Agung terima kasih sudah membantu mengangkat Kristal," kata Berlian.

__ADS_1


Kristal masih dalam keadaan lemah, terlebih kakinya juga terkilir saat insiden itu.


"Sama-sama Tante," jawab Agung.


"Kristal mama tadi lihat Ruli tapi dia seperti terburu-buru. Apa kamu sudah bertemu dengannya?"


Kristal terkejut apakah suaminya itu melihat dirinya yang sedang digendong oleh Agung. Kristal sungguh merasa bersalah. "Ma, aku ingin menyusul suamiku," rengek Kristal.


"Sayang, kamu masih lemah. Nanti mama akan menemui Ruli dan mengajaknya kemari."


Jaden melihat mobil Ruli meninggalkan halaman rumahnya. Dia mengerutkan keningnya. "Apa yang terjadi?" Gumamnya.


Ruli memukul kemudi setir mobilnya saat mengingat Kristal yang sedang digendong oleh laki-laki lain. Apalagi Agung pernah menyukainya. Ruli tidak tahu kalau dia sudah jadian dengan Rere. Dia hanya ingat Agung pernah menjalin hubungan dengan istrinya di masa lalu.


"Kristal kamu sungguh keterlaluan." Saat ini Ruli benar-benar kalut. Hatinya dipenuhi rasa cemburu. Cemburu buta yang malah menjauhkan dia dari belahan jiwanya.


"Ruli, mana Kristal?" tanya Mama Lira yang melihat putranya datang seorang diri tanpa membawa pulang istrinya.


Ruli tak menjawab dia masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan kasar. Mama Lira terkejut bukan main. "Apa yang terjadi pada dia dan istrinya?" Gumam Mama Lira lirih.


Ruli mengemasi barang lalu dia turun dari lantai atas. "Ma, aku ingin keluar kota untuk meninjau restoranku di sana," pamit Ruli.


"Jangan pergi, Nak. Apa kamu bertengkar dengan istrimu?" Ruli menggeleng.


"Lantas apa yang membuatmu jadi begini? Ingat Ruli jika kamu terlalu lama mencampakkan istrimu kamu akan menyesal nantinya."


"Aku rasa aku akan berpisah dengannya, Ma. Dia selalu di kelilingi banyak laki-laki yang menyukainya. Lagipula dia telah membuat aku kehilangan anakku. Dia sudah mengabaikan nasehatku, Ma."

__ADS_1


"Cukup!"


__ADS_2