Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Akhir bahagia


__ADS_3

Di minggu-minggu terakhir masa kehamilan Kristal, Ruli sengaja menemani istrinya. Pagi ini mereka sekeluarga jalan-jalan di taman. Kristal sedang mengikuti kelas yoga yang dilakukan oleh instrukturnya di sebuah taman.


Sedangkan anak-anak bermain tak jauh dari tempat yang digunakan untuk Kristal melakukan yoga.


"Aku haus," kata Kristal usai mengikuti kelas yoga pagi ini.


"Akan aku ambilkan minum sayang," kata Ruli. Dia mendekat ke arah Lala yang membawa tas bekalnya. Kemudian Ruli membukakan air mineral untuk sang istri. "Minumlah!"


Kristal menerima botol dari tangan suaminya. "Aku lapar, di mana kita bisa cari makan?" tanya Kristal. Ruli kemudian mengedarkan pandangannya. Tak jauh dari tempat mereka duduk ada penjual bubur ayam.


"Bagaimana kalau kita sarapan bubur ayam pagi ini. Bukankah anak-anak suka?" usul Ruli.


"Baiklah," jawab Kristal pasrah. Kini dia tak lagi pilih-pilih makanan. Apa saja asal yang tidak berbau menyengat bisa dia makan.


Ruli pun memanggil penjual bubur ayam itu agar mendekat. "Pesan lima mangkok bubur ayam, Pak."


"Baik, Den."

__ADS_1


Ketika sedang makan bubur ayam, perut Kristal mulai mulas. "Perutku mulas sekali. Agak nyeri."


"Kamu tidak apa-apa sayang? Apa mau aku ganti menunya?" tawar Ruli.


"Bukan, Mas." Semakin lama semakin sering gejala kontraksi yang dirasakan. Hingga air keluar dari pangkal pahanya. "Mas aku pecah ketuban," adunya.


Ruli panik. Dia langsung menggendong istrinya. Anak-anak dalam pengawasan Lala dibantu Siena. "Tunggu di sini papa akan telepon kakek untuk menjemput kalian."


Si kembar malah menangis. Tapi Lala dan Siena berusaha agar keduanya tidak menjaga lagi. Mereka pun pergi membeli es krim.


Ruli menelepon Jaden ketika akan berangkat ke rumah sakit. "Pa, tolong jemput anak-anak. Aku harus mengantar istriku. Dia akan melahirkan. Akan aku share lokasinya," kata Ruli panjang lebar.


Sepanjang jalan Kristal menahan rasa sakitnya tapi tidak berhasil. Dia mengusap perutnya sambil menangis. "Sakit sekali, Mas," rengeknya.


Ruli merasa tidak tega. Sesekali dia menggenggam tangan istrinya untuk menguatkan. "Tahan sebentar lagi sayang. Kita hampir sampai."


Tak lama kemudian, mobil Ruli memasuki area parkir rumah sakit. "Tolong, istri saya mau melahirkan," teriak Ruli pada perawat yang berjaga.

__ADS_1


Setelah itu beberapa perawat membantu Kristal berpindah ke atas brankar. Dia segera dibawa ke ruang persalinan. "Maaf, Pak. Anda tunggu di luar saja."


Ruli pun mematuhi peraturan rumah sakit. Tak lama kemudian orang tua Kristal dan saudaranya datang ke rumah sakit untuk menunggu kelahiran anak Ruli dan Kristal.


"Belum selesai?" tanya Mama Berlian. Ruli menggelengkan kepalanya.


Sepuluh menit kemudian dokter keluar dari ruang persalinan. "Bagaimana, Dok?" tanya Ruli.


"Selamat, anak anda laki-laki," kata dokter tersebut.


"Sementara belum bisa dijenguk ya nanti setelah dibersihkan dan dipindahkan ke ruang perawatan baru bisa kalian jenguk," pesan dokter itu.


"Terima kasih banyak, Dok."


Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, semua orang masuk untuk memberikan ucapan selamat dan melihat bayi mungil yang menggemaskan itu.


"Akhirnya buah hati yang dinanti ke dunia lahir juga, selamat buat kalian," ucap Mama Berlian.

__ADS_1


"Terima kasih sayang telah memberikan aku anak-anak yang lucu. Semoga keluarga kita selalu bahagia." Ruli mengucapkan harapannya. Setelah itu dia mencium kening istrinya.


__ADS_2