
Balik lagi ke cerita Gilang.
Gilang dan Meilani sampai di rumah orang tua Meilani. Ayah Meilani kaget ketika anak dan cucunya datang bersama laki-laki yang seharusnya sudah menikahi Meilani beberapa saat yang lalu.
"Mel, kamu kenapa ngajak nak Gilang ke sini?" tanya ayah Meilani yang terkejut.
"Assalamualaikum, Pak." Gilang memberikan salam dan meraih tangan calon mertuanya itu.
"Waalaikumsalam."
"Boleh saya masuk? Ada yang ingin saya sampaikan pada bapak." Ayah Meilani mempersilakan Gilang masuk ke dalam rumahnya.
"Kok saya tidak melihat ibu, Pak?" tanya Gilang. Ayah Meilani menghela nafas. "Ibunya meninggal sebulan yang lalu."
Gilang terkejut. "Maaf saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu."
"Tidak apa-apa. Ibunya banyak pikiran setelah kejadian yang menimpa Meilani dia jadi sakit dan akhirnya meninggal sebulan yang lalu. Jadi apa yang ingin kamu sampaikan sampai jauh-jauh datang bersama anak saya?"
Gilang mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin menikahi Meilani."
"Bukankah keluargamu yang membatalkan pernikahan kalian dulu?" Sindir ayahnya Meilani.
"Saya minta maaf soal itu pak. Saya tahu saya salah karena tidak bisa melawan kemauan orang tua saya. Tapi perlu anda tahu kalau saya hancur setelah gagal menikah dengan Meilani. Setiap hari saya habiskan dengan mabuk-mabukan karena saya begitu frustasi."
"Lalu apa yang membuat kamu kembali?"
"Saya sadar, kalau saya masih bisa menjadikan Meilani istri saya. Saya janji akan menerima dia apa adanya. Termasuk menerima Meisya sebagai anak saya. Soal orang tua saya akan saya atasi nanti."
"Tidak bisa begitu, nak. Kamu menikah harus dapat restu dari orang tua kamu. Meski kamu tidak perlu wali nikah karena kamu laki-laki tapi setidaknya mereka yang telah merawat kamu dari kecil. Jadi hormati mereka."
"Saya mengerti Pak. Tapi apakah anda merestui kami? Saya tidak akan menyia-nyiakan Meilani dan anaknya."
Ayah Meilani melihat kesungguhan Gilang. Akhirnya dia mengangguk setuju. Meilani memeluk ayahnya. "Terima kasih banyak, Yah."
"Ayah ingin kamu bahagia. Semoga tidak ada lagi yang bisa memisahkan kalian selain maut." Meilani mengangguk setuju. Air matanya tak bisa ditahan. Dia kembali memeluk orang tuanya bersama Meisya yang sedari tadi ada di pangkuan wanita itu.
__ADS_1
Setelah dari rumah orang tua Meilani. Gilang pulang ke rumahnya. Meilani ditinggal di rumah orang tuanya. Dia diminta oleh Gilang menunggu di sana sementara waktu sampai Gilang memberi kepastian.
Gilang berjalan menemui papanya. "Pa. Aku ingin bicara." Sikap Gilang begitu serius. Ayahnya curiga tapi dia tidak tahu kenapa.
"Bicaralah!"
"Aku ingin menikahi Meilani."
Plak
Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi Gilang. Gilang tahu ini akan terjadi. "Kamu terus mengucapkan nama itu. Papa menamparmu agar kamu sadar dia bukan wanita yang cocok untukmu."
"Lalu bagaimana yang cocok itu? Di dunia ini tidak ada yang sempurna Pa. Semua orang punya masa lalu. Lalu apa salahnya jika aku yang menerima masa lalu Meilani? Aku mencintainya sebelum dia mendapatkan musibah itu. Tapi aku malah meninggalkan dia ketika dia sedang hancur dan terpuruk. Seharusnya aku yang tidak pantas untuk dia."
"Diam kamu! Papa tidak mau menerima dia sebagai menantu papa. Apa kata orang nanti?"
"Jika papa terus mendengar kata orang maka hidup papa tidak lebih untuk mencari perhatian orang lain. Aku ingin melakukan apa yang aku mau. Aku sudah dewasa jadi biarkan aku mengambil keputusan sendiri. Ini hidupku jadi jangan halangi aku menikah dengan wanita pilihanku."
"Baik, kalau begitu jangan harap kamu bisa kembali ke rumah ini. Lupakan kalau kamu pernah menjadi bagian dari keluarga ini."
"Gilang, jangan pergi!" Mamanya berteriak.
"Maaf, Ma. Aku pasti akan kembali. Tapi sementara waktu kita harus berpisah."
"Tidak, nak. Mama tidak bisa hidup tanpa kamu. Pa tolong restui mereka."
"Ma, sudahlah. Aku tidak akan memaksa papa." Gilang keluar dari rumahnya. Meninggalkan ibunya yang menangis histeris.
Sebenarnya dia tidak tega tapi dia harus melanjutkan hidupnya. Gilang pun mencari sebuah hotel untuk tempat tinggal malam ini. Dia tidak mungkin lontang-lantung tanpa tujuan. Rencananya besok dia akan mencari tempat tinggal tetap untuk memboyong keluarga kecilnya.
Keesokan harinya, Gilang cek out dari hotel tersebut. Dia harus kembali bekerja di restoran milik sepupunya. Tapi siapa sangka hotel itu adalah milik keluarga Kristal.
Pagi itu Kristal datang pagi sekali karena akan ada tamu spesial yang datang ke hotelnya. Dia ingin memastikan semua persiapan beres.
"Mas Gilang," panggil Kristal. Gilang pun terkejut ketika melihat istri sepupunya itu.
__ADS_1
"Kamu kerja di sini?" tanya Gilang.
"Iya, ini hotel milik keluargaku. Mas Gilang ngapain di sini? Apa semalam Mas Gilang tidur di hotel?"
"Iya, tapi kamu jangan salah sangka. Aku tinggal sendiri di sini. Aku hanya sedang berdebat dengan orang tuaku," akunya.
Kristal melihat jam yang melingkar di tangannya. "Aku turut prihatin tapi maaf ini waktunya aku kerja."
"Tidak apa. Aku juga akan kembali ke restoran." Kristal mengangguk paham.
Setelah cek out dari hotel, Gilang bekerja kembali di restoran Ruli. "Wajah Lo ko pucat, Bro."
"Gue kurang tidur," jawab Gilang.
Ruli duduk di samping Gilang. "Bagaimana pencarian Lo kemaren?"
"Aku berhasil menemukan Meilani dan anaknya," ungkap Gilang.
"Anak? Jadi Meilani...." Ruli tak meneruskan kata-katanya. Gilang telah paham apa yang akan diomongkan oleh Ruli.
"Meski dia telah memiliki anak aku tidak akan menyia-nyiakan mereka. Aku akan menerima Meilani dan anaknya. Aku juga sudah meminta restu pada orang tua Meilani. Sayangnya orang tuaku masih tidak merestui. Jadi aku keluar dari rumah."
Ruli tidak menyangka kalau sepupunya itu bertengkar dengan orang tuanya. "Terus rencananya Lo mau apa?"
"Gue akan nikahi Meilani meski tidak mendapatkan restu papa."
"Gue bisa bantu apa?" tanya Ruli.
Gilang tersenyum. "Ntar siang gue mau cari rumah apa Lo mau ikut?" Ajak Gilang.
"Gue temenin. Oh ya kapan rencana mau menikahi Meilani?" tanya Ruli penasaran.
"Secepatnya. Oh ya aku baru tahu kalau keluarga Kristal sangat kaya. Semalam aku menginap di hotelnya."
"Baru tahu?" Ruli menyombongkan diri.
__ADS_1
"Harusnya gue yang menikah dengan Kristal waktu itu," goda Gilang. Dia mendapatkan pukulan di lengannya dari Ruli. Ruli sama sekali tidak tersinggung karena dia tahu kalau Gilang hanya becanda.