
Mau ingetin nih buat ngasih ratenya. Othor sangat menghargai dukungan kalian. Jangan lupa subscribe ya
♥️♥️♥️
Meilani diboyong ke rumah Gilang yang baru. "Maaf ya rumahnya tidak terlalu besar," kata Gilang menatap istrinya.
Meilani tersenyum pada suaminya. "Tidak apa-apa, Mas."
Gilang membantu Meilani mengangkat koper yang berisi pakaian. "Sepertinya aku akan menidurkan Meisya dulu," pamit Meilani.
"Tidurkan saja di kamar kita. Aku belum sempat membuatkan kamar untuknya. Besok akan aku cari tukang untuk membuat kamar khusus Meisya."
"Tidak usah, Mas. Sebaiknya dia tidur bersama kita. Meisya masih terlalu kecil untuk ditinggal tidur sendirian. Nanti kalau pas tengah malam dia bangun dia bisa nangis karena takut sendirian," tutur Meilani.
"Baiklah, aku ikut saja bagaimana baiknya," jawabnya pada sang istri.
Sementara Meilani menidurkan Meisya, Gilang pergi mencari makanan. Karena hari ini pertama kalinya mereka tinggal bersama jadi belum ada bahan makanan di dapur.
Gilang keluar dengan berjalan kaki. "Anda baru pindah ke sini ya Pak?" tanya seorang lelaki yang ada di warung makan yang sama. Tak jauh dari rumah Gilang ada warung makan yang buka. Dia pun memilih untuk membeli makanan di tempat itu.
"Iya, kami baru pindah hari ini," jawab Gilang dengan ramah. Gilang memang selalu ramah pada siapa pun.
"Owh, kenalkan saya Tio, rumah saya ada di sana." Tunjuk laki-laki itu pada rumah yang berjarak tiga rumah dari rumah Gilang.
"Saya Gilang, saya tinggal bersama anak dan istri saya, itu rumah saya." Dia menunjuk rumahnya.
"Wah kita bertetangga, kapan-kapan mampir. Ajak main anaknya ke rumah saya. Saya punya anak yang masih kecil nanti bisa diajak main bersama," tuturnya pada Gilang. Gilang pun mengangguk. Setelah mendapatkan makanan, dia pamit pulang duluan.
"Dari mana, Mas?" tanya Meilani.
__ADS_1
Gilang menunjukkan kresek yang berisi nasi bungkus. "Aku beli makanan untukmu. Tadinya mau ngajak keluar, tapi Meisya sedang tidur jadi aku memilih membeli makanan di sekitar sini. Ayo makan bersama," ajak Gilang.
Meilani sungguh terharu pada suaminya yang sangat pengertian itu. Jujur saja setelah perjalanan jauh dia sangat lapar apalagi dia masih memberikan ASI pada Meisya.
"Aku ambil piring dulu."
"Sayang," panggil Gilang. Meilani pun menghentikan langkahnya saat akan menuju ke dapur.
"Ada apa, Mas? Apa aku ambilkan gelas juga?" tanya Meilani lebih lanjut.
"Bukan. Aku belum beli perabot rumah tangga," jawab Gilang. Meilani tersenyum.
"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi tadi dikasih sendok plastik kan Mas?" Gilang mengangguk sambil menunjukkan sendoknya. Cukup sederhana tapi acara makan siang itu dinikmati berdua dengan romantis ala mereka.
Gilang mengusap mulut Meilani ketika ada nasi yang belum masuk ke mulutnya. "Maaf.'" Meilani jadi malu.
Sesaat kemudian Gilang terkekeh. "Ternyata kamu lucu juga ya," ucap Gilang sambil terkekeh. Namun, sesaat kemudian dia malah tersedak karena makan sambil bicara. Meilani pun memberikan air minum kemasan untuknya.
Setelah kemaren melaksanakan ijab qobul, mereka belum sempat melakukan hubungan suami istri karena di rumah ayah orang tuanya masih ramai. Meski tidak dihadiri banyak orang, tapi mereka berbincang-bincang cukup lama hingga malam. Meisya pun minta tidur bersama ibunya jadi Gilang belum ada kesempatan berdua saja. Namun, Gilang tak mempermasalahkan hal itu. Masih ada malam-malam berikutnya yang bisa dia habiskan dengan sang istri.
"Mas, sepertinya Meisya bangun," ucap Meilani saat mendengar suara tangis anaknya.
"Kamu ke sana dulu sayang lihat dia. Mungkin dia mencari ibunya," perintah Gilang pada sang istri.
"Iya, Mas." Setelah mencuci tangannya Meilani pergi ke kamar untuk melihat anaknya.
"Anak ibu sudah bangun ya," ucap Meilani dengan lembut. Dia mencium kening Meisya yang masih menangis. Sesaat kemudian dia terdiam setelah Meilani memberikan ASI untuknya.
Kebetulan Gilang yang selesai makan masuk ke dalam kamar begitu saja. Dia pun tak sengaja melihat buah dada Meilani yang terpampang nyata di depannya. Sesaat mata Gilang tertegun. Baru pertama kali dia melihat bentuk buah dada secara langsung.
__ADS_1
Meilani jadi salah tingkah. Gilang yang menyadari juga mengalihkan pandangannya. "Maaf aku tidak sengaja," ucapnya merasa menyesal.
"Tidak apa-apa, Mas. Kamu halal melihatnya. Tapi saat ini aku sedang menyusui Meisya. Harap bersabar ya papa," ucap Meilani menirukan suara anak kecil. Gilang terkekeh. Meilani paham dia harus memberikan haknya pada sang suami nantinya. Jadi dia tidak merasa risi ketika Gilang menatap asetnya.
"Aku tunggu di luar ya." Di luar kamar Gilang mengatur nafasnya. Jujur jantungnya berdebar saat ini. Tapi dia harus bersabar untuk hal itu. Dia harus memaklumi karena istrinya memberikan ASI pada sang anak.
Sesaat kemudian Meilani keluar sambil menggendong Meisya. "Papa." Gilang menoleh. Dia tersenyum pada istri dan anaknya. Laki-laki itu pun mengambil alih gendongan Meisya dari tangan Meilani.
"Main yuk!" Ajak Gilang.
Sementara Gilang main bersama anaknya, Meilani membersihkan rumah dan memindahkan pakaiannya dari koper ke lemari.
"Ibu lagi apa?" Gilang menghampiri istrinya sambil menggendong Meisya. Meilani tersenyum. Dia bahagia melihat anaknya begitu lengket dengan Gilang.
"Ibu lagi beresin pakaian. Sebentar lagi selesai kok. Adek mau apa?" tanya Meilani dengan lembut.
"Keluar bentar yuk Yang habis ini. Belanja sekalian beli keperluan rumah. Nanti stok bahan makanan juga," ajak Gilang.
"Boleh, Mas. Meisya pasti senang."
Meninggalkan kisah Gilang dan keluarganya, ayah dan ibu Gilang merasa kesepian karena ditinggal anaknya. Gilang memutuskan untuk pindah rumah setelah menikah.
"Sepi sekali ya, Pa. Bagaimana kalau kapan-kapan kita main ke rumah Gilang," usul sang istri.
"Boleh, Ma. Apa mama tidak berencana membuat perayaan atas pernikahan anak kita? Bukankah saudara dari pihak mama perlu tahu juga?" tanya papa Gilang.
"Besok kita tanya Gilang. Mama ingin sekali mengajak anak Meilani main. Dia sangat lucu dan menggemaskan. Nanti antar mama beli baju-baju anak ya Pa buat siapa ya nama anaknya? Mama lupa nanya."
"Iya, Ma. Nanti papa temani."
__ADS_1
Mama Gilang sangat antusias dan membeli banyak barang dan mainan untuk cucu barunya. Meskipun bukan anak kandung Gilang tapi mama Gilang jatuh cinta pada pandangan pertama pada anak kecil itu. Dia akan menyayangi Meisya seperti cucunya sendiri.