Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
The day


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ruli senang sekaligus sedih karena pernikahan mewah yang dia idamkan menjadi gagal karena kesalahpahaman yang terjadi semalam. Jaden memberikan ultimatum agar Ruli segera menikahi Kristal hanya karena dia melihat Ruli keluar dari kamar putrinya itu.


Meskipun sederhana tapi pernikahan Ruli dan Kristal berlangsung sangat hikmat di rumah keluarga Jaden. Keluarga besar yang diundang sangat kaget dan bertanya pada Jaden. Jaden sampai pusing menjawabnya.


"Salahmu sendiri menikahkan anak tanpa persiapan yang matang. Kamu terlalu curiga pada anakmu sendiri Mas. Tanggung sendiri akibatnya," ejek Berlian.


Sedangkan mempelai pengantin sangat bersemangat menyambut tamu-tamu yang datang.


"Selamat ya Bu. Saya kaget hari ini ibu tiba-tiba menikah," kata Rere.


"Apa kalian melakukan one night stand?" tuduh Agung.


"Enak saja jangan menuduh sembarangan pada kami. Dia sangat menjaga keperawananku selama ini. Tapi hari ini aku tidak akan biarkan dia terus menjaganya," kata Kristal dengan seringai licik. Sedangkan Ruli merasa malu dengan omongan istrinya.


"Maaf karena aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu menikah dengan acara yang mewah," ucap Ruli dengan menyesal.


"Ah tidak apa-apa Mas. Aku terlalu bahagia sampai tidak memikirkan sampai ke sana. Bagiku menikah denganmu adalah kebahagiaan yang tak terkira." Kristal memeluk suaminya dengan erat. Lalu Ruli mencium kening istrinya.


"Terima kasih sayang." Kristal mengangguk.


"Hei, belum waktunya kalian bermesraan," tegur Andi dan yang lainnya.


"Hish Bang Andi mengganggu saja," omel Kristal. Lalu dia menyalami istri Andi. "Selamat ya Kristal." Kristal mengangguk.


Pesta pernikahan sudah selesai. Para tamu undangan satu persatu pamit pulang. Malam ini di malam pernikahannya, Kristal duduk di tepi ranjang. Mereka sedang berada di kamar Kristal yang sudah dihias sedemikian rupa. Kristal merasa gugup saat ini.


Pintu kamar terbuka dan Ruli masuk. Dia masih memakai jas yang dia pakai saat pesta tadi meskipun dia telah melepas dasinya.


Ruli mendekati Kristal. "Kenapa tegang begitu?" tanya Ruli. Dengan lembut dia mengangkat bahu Kristal agar berdiri sejajar dengannya.


"Apa kamu tidak mau ganti baju dulu?" tanya Ruli kemudian. Ah, Kristal sampai lupa berganti baju. Saat dia hendak melewati Ruli dengan terburu-buru kakinya tersandung karena dia memakai kebaya yang sangat ketat. Beruntung Ruli menangkap tubuhnya.


Mereka sama-sama terjatuh di atas ranjang. Jantung Ruli dan Kristal sama-sama berdegup kencang. Keduanya bisa merasakan debaran jantung masing-masing.


"Kamu terlihat lelah, kita bisa melanjutkan kegiatan malam ini besok." Tatapan Ruli terlihat sensual.

__ADS_1


"Tidak, lebih baik lakukan sekarang," bisik Kristal di telinga suaminya. Yang ada di dalam hatinya sekarang adalah menyenangkan suaminya.


"Aku akan menyentuhmu dengan lembut malam ini." Kristal mengangguk pelan sambil tersenyum.


Sepersekian menit Ruli mencium bibir Kristal dengan liar. Janjinya untuk menyentuh Kristal dengan lembut telah dilupakan ketika merasakan hasratnya yang begitu menggebu.


Kristal membalas ciuman dari laki-laki yang baru saja sah menjadi suaminya itu. Ruli memang sangat handal ketika berciuman hingga membuat Kristal terbuai. Harus Kristal akui ciuman suaminya itu sangat menggoda.


Hasrat Ruli semakin liar. Tangannya sudah ke mana-mana menelusuri setiap lekuk tubuh Kristal. Begitupun dengan bibirnya, Ruli mencium setiap jengkal tubuh istrinya itu.


Selanjutnya adegan demi adegan panas mereka lakukan hingga Kristal menjerit saat milik Ruli masuk ke dalam area sensitif Kristal.


Ruli mencium bibir Kristal untuk mengalihkan rasa sakitnya. Satu tangannya menarik tangan Kristal agar mengalungkan tangannya ke leher Ruli. Malam ini akan menjadi malam pertama yang tak terlupakan bagi keduanya.


Keesokan harinya Kristal terbangun pagi sekali setelah mendengarkan adzan subuh. Kristal membangunkan suaminya perlahan. Meski sudah mengguncang tubuh Ruli laki-laki itu tidak juga membuka matanya.


Lalu Kristal memiliki ide untuk membangunkan Ruli dengan cara lain. "Suamiku," bisik Kristal di telinga Ruli. Ruli merasa terusik. Lalu dia membuka matanya. Ruli tersenyum pada Kristal.


"Bangunlah lalu mandi," pinta Kristal dengan lembut. Ruli mengangguk paham. Lalu dia menyibak selimutnya. Ruli menggendong Kristal secara tiba-tiba hingga membuat gadis yang sudah tak perawan itu terkejut.


"Mandi bareng," jawab Ruli sambil tersenyum licik.


Setelah selesai mandi dan sholat subuh bersama, Ruli mengajak Kristal duduk di balkon kamarnya. "Apa masih sakit?" tanya tak tega melihat istrinya itu. Kristal menggeleng.


"Nanti juga sembuh sendiri," jawabnya.


Ketika waktunya sarapan, Berlian menggoda anaknya. "Apa semalam kamu sudah merenggut keperawanan putriku Ruli?" Pertanyaan yang tak terduga dari Berlian itu membuat Jaden tersedak saat makan.


"Papa pelan-pelan makannya." Berlian menepuk punggung suaminya lalu memberikan air putih.


Jaden merasa tidak rela putri kesayangannya itu telah jadi milik orang lain.


"Jadi apa rencana kalian setelah ini?" tanya Jaden.


"Bolehkah saya mengajak Kristal tinggal di rumah saya, Pa?" Ruli mengumpulkan keberanian untuk meminta izin dari Jaden.

__ADS_1


"Sebagai seorang laki-laki satu-satunya di keluarga saya, saya hanya ingin menjaga mama dan adik perempuan saya. Saya berjanji akan berlaku baik pada Kristal."


Jaden menghela nafas. Ternyata konsekuensi menikahkan Kristal sungguh berat untuknya. Tapi Jaden mencoba mengerti posisi Ruli. "Baiklah, kamu sudah menjadi suami Kristal kamu lebih berhak atas hidupnya."


Kristal terharu dengan ucapan ayahnya. Tak terasa dia meneteskan air mata. "Sayang kenapa menangis?" tanya Berlian.


"Aku sedih karena akan meninggalkan kalian."


"Hush, jangan ngomong begitu. Kamu hanya akan pindah rumah saja. Lain kali kamu bisa menjenguk kami," balas Berlian sambil menasehati anaknya.


"Terima kasih banyak Pa telah mempercayakan putri papa padaku." Jaden mengangguk.


Sore harinya Ruli langsung mengajak Kristal ke rumahnya. "Selamat datang di rumah kami sayang," sambut Lira dengan senang hati.


"Aku senang akhirnya bisa satu rumah denganmu kak Kristal. Selamat karena telah menjadi bagian dari keluarga kami." Amara memeluk Kristal.


"Terima kasih Amara."


"Ayo sayang aku antar kau ke kamar," ajak Ruli.


"Ruli, istrinya jangan diajak ngamar mulu. Ajak dia makan juga," seru Lira yang membuat wajah Kristal merona karena malu.


Ketika berada di dalam kamar Ruli mengambil sebuah kotak untuk diberikan pada istrinya. "Apa ini Mas?" tanya Kristal.


"Bukalah!" Kristal bersemangat membuka kado pemberian sang suami.


Dia melebarkan baju berwarna merah menyala itu. "Dari mana kamu memiliki ide untuk memberiku pakaian kurang bahan ini?" tanya Kristal heran.


"Ini pakaian dinasmu di malam hari. Aku sudah membelikan banyak model. Ini salah satunya." Kristal melotot tak percaya dengan perkataan sang suami.


"Dasar mesum."


"Bagaimana kalau kamu coba. Aku ingin lihat apa ukurannya pas dengan tubuhmu."


Ah sa ae Mas Ruli...

__ADS_1


__ADS_2