Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kapan hamil


__ADS_3

Leo datang bersama Rere untuk meminta maaf pada Agung. "Maafkan aku yang sudah menuduhmu sembarangan."


"Aku paham. Kamu hanya mengkhawatirkan adikmu," jawab Agung.


"Terima kasih," kata Leo. Tiba-tiba Agung memeluk Leo dengan erat. "Lupakan semua permasalahan yang telah lalu. Mulai sekarang terimalah aku sebagai kekasih adikmu," bisik Agung dengan seringai licik.


Leo mengurai pelukannya. Lalu menarik tangan Agung dan Rere kemudian menyatukan keduanya. "Aku merestui hubungan kalian," ucap Leo menatap Agung dan Rere secara bergantian.


"Berjanjilah untuk selalu menjaga adikku," pesan Leo kepada Agung. Laki-laki yang usianya tak jauh beda dari Leo itu mengangguk paham.


Rere tersenyum pada Agung. Dia bahagia akhirnya sang kakak merestui hubungannya dengan sang pujaan hati.


Keesokan harinya Rere kembali bekerja dengan Kristal. "Selamat datang kembali, Re." Kristal memeluk Rere dengan posesif. "Aku senang kamu kembali menjadi asistenku."


"Terima kasih banyak Bu. Saya berhutang budi pada Ibu," ucap Rere dengan tulus.


"Jangan berlebihan, aku tidak melakukan apa-apa. Bagaimana kalau kita rayakan dengan makan di luar?" Usul Kristal. Rere mengangguk.


Kristal memilih makan di restoran milik suaminya. "Ini sih maunya ibu," sindir Rere. Kristal memang sengaja mengunjungi suaminya di saat jam kerja.


"Sayang, tumben jam segini ke sini?" tanya Ruli.


"Aku mengajak Rere makan untuk merayakan kembalinya dia bekerja padaku," jawab Kristal sambil tersenyum.


Ruli mengacak rambut istrinya sayang. "Apa kamu akan pulang malam hari ini?" tanya Ruli.


"Aku belum tahu. Memangnya kenapa?" tanya Kristal penasaran.


"Aku ingin mengajakmu nonton," jawab Ruli. Kristal sangat bersemangat mendapatkan ajakan kencan dari suaminya. Setelah selesai makan dia kembali ke kantor.


"Re, hari ini aku ingin pulang cepat. Jadi ayo selesaikan pekerjaan dengan cepat." Perintah Kristal pada asisten pribadinya.


"Baik, Bu."


Kristal terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari sudah mulai petang, tapi pekerjaannya belum selesai. Dia merasa gelisah. Saat ini di luar sedang hujan dan angin kencang. Tak mudah baginya untuk pulang dalam kondisi cuaca buruk seperti ini.


Kristal menghela nafasnya berat. "Acara kencanku gagal," gumamnya lirih. Wajahnya terlihat sendu.


"Re, bagaimana kamu akan pulang?" tanya Kristal.


"Saya dijemput sama Mas Agung, Bu," jawabnya. Kristal merasa iri dengan Rere. Andai saja Ruli tiba-tiba datang menghampirinya. Namun, hal itu hanyalah angan-angan belaka.


Setelah itu Kristal mencoba menghubungi suaminya karena kemungkinan dia pulang terlambat. Sayangnya, listrik tiba-tiba padam, sinyal di handphonenya juga menghilang. Kristal akhirnya pasrah.


Rasa lelah bekerja seharian membuatnya mengantuk. Dia pun tertidur di dalam ruangan kantornya seorang diri.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam akan tetapi Kristal belum juga pulang. "Nak, apa tidak sebaiknya kamu susul istrimu," usul mama Lira.


"Iya, Ma. Aku akan menyusulnya ke kantor. Handphonenya tidak bisa kuhubungi."


Setelah itu Ruli melajukan mobilnya menuju ke hotel tempat Kristal bekerja. Tak sengaja dia bertemu dengan ayah mertuanya.


"Papa kenapa malam-malam di sini?" tanya Ruli pada Jaden.


"Papa hanya berteduh, kebetulan hujan begitu lebat jadi mengurangi pandangan papa," jawabnya. "Kamu sendiri ngapain ke sini?" tanya Jaden.


"Kristal belum pulang, Pa. Jadi aku menyusulnya."


Jaden terkejut. "Apa? Dia belum pulang?" Ruli mengangguk.


"Aku sudah menghubungi dia tapi handphonenya mati."


"Ayo kita periksa. Listrik di sini sempat padam." Ruli mengangguk setuju.


Setelah itu mereka naik ke ruangan Kristal. Saat Ruli ingin membukanya, ternyata pintunya terkunci. "Bagaimana kalau kita dobrak saja, Pa." Jaden setuju dengan usulan menantunya itu.


Ruli pun mendorong pintu itu dengan badannya berulang kali hingga engsel pintu itu rusak. Kristal terlihat merebahkan kepalanya di atas meja.


"Sayang," panggil Ruli. Dia menyentuh kening Kristal ternyata dia demam. "Dia demam, Pa."


"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit?" tanya Jaden meminta pendapat.


Setelah itu Ruli menggendong Kristal sampai ke dalam mobil. "Kalian hati-hati di jalan," pesan Jaden.


Setelah itu, Ruli membawa pulang istrinya ke rumah. "Kak, kenapa dengan kak Kristal?" Tanya Amara.


"Dia demam," jawab Ruli sambil berlalu menuju ke lantai atas.


Ruli membuka pintu dengan mendorong menggunakan kakinya. Tangannya menggendong sang istri. Ruli merebahkan Kristal di atas ranjang. Kemudian melepas sepatu dan blazer yang dia kenakan.


"Mas," panggil Kristal.


Ruli mendekat. "Kamu demam sayang," ucapnya.


"Aku sedang datang bulan," jawabnya. Ruli akhirnya tahu kenapa sang istri mengalami demam. Kristal memang sering mengalami sakit ketika datang bulan.


"Aku akan ambil obat penurun panas untukmu." Ruli menyandarkan Kristal ke kepala ranjang. Setelah itu dia menyuruh sang istri meminum obat.


"Aku malas minum obat," tolaknya.


Ruli memasukkan obat itu ke dalam mulutnya lalu memasukkan obat tersebut ke dalam mulut Kristal. Kristal menahan senyum karena malu. Ada-ada kelakuan suaminya itu. Setelah berhasil masuk ke dalam mulut Kristal Ruli segera memberikan air minum.

__ADS_1


"Lain kali aku akan memberikan obat dengan cara itu jika kamu tidak mau minum obat," ancam Ruli.


"Itu mah maunya kamu, Mas," cibir Kristal.


"Tidurlah sayang, supaya kamu lebih enakan."


Kristal merentangkan tangannya. Ruli mengulas senyum. Lalu dia naik ke atas ranjang. Laki-laki itu memeluk istrinya sampai tertidur. "Apa perlu kubacakan dongeng?" Goda suami Kristal.


"Aku bukan anak kecil, Mas," sahutnya.


Keesokan harinya, Berlian datang ke rumah Ruli. "Assalamualaikum jeng, saya dengar dari papanya, Kristal lagi sakit."


"Waalaikumsalam, jeng. Semalam mereka pulang agak larut, saya sudah tidur jadi saya tidak tahu jeng. Mari masuk!" Ajak mama Lira.


Setelah itu Ruli turun dari lantai atas seorang diri. "Mama, kapan datang?" tanya laki-laki itu seraya mengalami tangan ibu mertuanya.


"Barusan. Apa keadaan Kristal sudah membaik?" tanya Berlian cemas.


Ruli mengangguk. "Mama naik saja ke atas. Hari ini dia tidak berangkat kerja. Aku melarangnya, Ma."


"Iya tidak apa-apa. Biar dia istirahat dulu. Boleh mama naik ke atas?"


"Tentu saja, Ma." Wanita yang masih cantik di usianya itu pun segera berjalan menuju ke kamar Kristal.


Tok tok tok


Berlian mengetuk pintu kamar Kristal. "Masuk!" Terdengar suara dari dalam kamar. Berlian membuka engsel pintu dengan perlahan.


"Mama." Kristal berhambur ke pelukan ibunya.


"Kamu udah baikan? Kata papa semalam kamu pingsan."


Kristal mengerutkan keningnya. "Dari mana papa tahu?"


"Semalam papamu berada di hotel untuk berteduh lalu dia bertemu dengan Ruli saat sedang mencarimu," terang Berlian.


"Ma, kapan aku hamil?" Berlian seolah ingin tertawa mendengar pertanyaan dari putrinya.


"Kamu ini nikah saja belum sebulan mana mungkin hamil secepat itu. Apa jangan-jangan kalian sudah kredit duluan?" Tuduh Berlian pada putrinya.


Kristal tahu apa yang dimaksud dengan kredit duluan oleh ibunya. "Hish mama, Mas Ruli tidak pernah berbuat macam-macam padaku, jangan menuduh sembarangan."


"Ya habisnya kamu juga lucu, nikah belum ada sebulan mana tahu kalau kamu hamil."


"Jadi kapan aku bisa hamil, Ma?"

__ADS_1


"Buatlah saat masa suburmu!"


__ADS_2