Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Menengok calon bayi


__ADS_3

Usai makan es krim di sebuah kafe, Kristal meminta suaminya mampir ke rumah orang tuanya untuk membicarakan masalah syukuran empat bulanan Kristal.


"Assalamualaikum, Ma." Kristal mencium tangan ibunya setelah itu giliran Ruli.


"Waalaikumsalam, kenapa nggak bilang dulu kalau mau datang? Mama bisa masakin banyak buat kamu. Gimana? Masih mual muntah?"


"Nggak terlalu ma, agak berkurang. Oh ya ma sebentar lagi usia kehamilanku menginjak empat bulan. Jadi kapan sebaiknya diadakan acara empat bulanan?" tanya Kristal.


"Bagaimana kalau hari Minggu nanti. Soalnya biar nggak ganggu kerjaan masing-masing. Kita undang seluruh anggota keluarga kita seperti waktu acara akikah baby Liora." Kristal dan Ruli mengangguk setuju.


"Masalah catering serahkan saja padaku, Ma." Mama Berlian tersenyum. "Iya deh pak Bos," ledek mama Berlian. Semua orang jadi terkekeh.


"Oh iya. Kalian sudah tahu belum jenis kelamin bayi kembar kalian? Mama nggak nyangka kamu bener menuruni gen papamu."


"Rencananya besok, Ma. Aku akan mengantarkan Kristal untuk periksa dokter," jawab Ruli.


"Mama boleh ikut tidak? Mama penasaran hamil bayi kembar itu seperti apa?" Ruli dan Kristal sama-sama tersenyum. Ibunya sangat antusias pada bayi kembar yang ada di dalam perut putrinya itu.

__ADS_1


Kalau ditelusuri gen kembar berasal dari kakek Kristal dari pihak ibu yang tak lain adalah kakek Rasya dan juga ayah kandungnya, Jaden. Baca di novel Kepincut Cinta Miss Ojol dan My Beloved Partner.


Usai dari rumah mamanya, Kristal dan suaminya langsung pulang. "Kita nggak mampir ke mana-mana lagi kan Yang?"


"Nggak Mas. Pinggang aku capek, aku ingin rebahan di atas kasur."


Kemudian Ruli menambah laju mobilnya agar cepat sampai di rumah. Belum juga sampai seperti biasa Kristal ketiduran di mobil. Ruli ingin mengangkat tapi dia tidak kuat karena bobot istrinya itu naik enam kilo dari berat badan awal. Akhirnya Ruli terpaksa membangunkan istrinya.


Dia menepuk pipi sang istri dengan lembut. "Bangun, Yang. Kita sudah sampai." Ruli memberi tahu.


Kristal membuka matanya perlahan. Lalu dia pun membuka pintu mobilnya. "Hati-hati sayang." Ruli memapah istrinya sampai ke dalam kamar. Setelah itu dia menyandarkan bantal agar istrinya duduk di kepala ranjang. Dia juga menaikkan kaki Kristal lalu dengan telaten memijitnya.


"Besok kita tanyakan pada dokter ya."


Setelah itu Ruli menunduk kepalanya hingga wajahnya sejajar dengan perut istrinya. Ruli berbisik di depan perut istrinya. "Hai anak-anak papa. Nggak nyangka ya kalian sudah makin besar. Papa harap kalian tumbuh dengan sehat di dalam perut mama. Lima bulan lagi kita ketemu sayang." Ruli mencium perut istrinya. Jelas rona bahagia terpancar di wajahnya.


"Mas aku ngantuk."

__ADS_1


"Ngantuk banget ya?" Kristal mengangguk. "Yagh padahal aku mau ngajak main sebentar." Ruli pura-pura kecewa.


Wajah Kristal langsung memerah saat mendengar kata 'main' versi suaminya.


"Mas," protes Kristal. Tapi suaminya itu tak menghiraukan rengekan sang istri. Ruli membaringkan sang istri secara perlahan. "Aku mau kamu, boleh kan sayang? Aku janji akan main pelan. Aku hanya ingin menengok mereka sebentar saja."


Kalau sudah begini Kristal tak dapat menolak. Kalau dia menolak suaminya bukankah termasuk dosa?


"Iya boleh," jawab Kristal dengan malu-malu.


"Tumben langsung bilang iya, apa kamu juga pengen?" Goda Ruli.


"Nanti kalau aku menolak Mas Ruli akan menyebutkan dalil kalau menolak ajakan suami untuk berhubungan badan itu termasuk dosa." Ruli tersenyum menang.


"Pinter." Ruli mencolek hidung mancung istrinya.


Meski berat badannya semakin bertambah, Ruli tak peduli. Kristal malah terlihat sek*sii di matanya. Meskipun sebenarnya dia mengeluh mengenai kenaikan berat badannya yang terlalu cepat. Namun, Ruli selalu memuji bentuk tubuh istrinya agar Kristal selalu percaya diri.

__ADS_1


Ruli mulai mencium bagian bibir istrinya yang merah meski tanpa pewarna itu. Lalu tahap demi tahap mereka lalui untuk mencapai kenikmatan. Ruli tak melupakan posisi nyaman istrinya agar percintaan mereka tidak menyakiti janin yang dikandung.


__ADS_2