Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Modus


__ADS_3

Kristal main ke rumah kakaknya. Dia ingin menemui Zavier tapi anak itu malah menginap di rumah orang tuanya. "Tahu gitu aku nyusul ke sana tadi," keluhnya.


"Bagaimana kalau kamu temani kakak belanja?" Usul Sandra. Kristal langsung berbinar mendengar ajakan belanja dari kakak iparnya.


"Apa belanja kebutuhan bayi?" tanya Kristal antusias.


"Iya, sudah masuk bulan tujuh jadi kakak perlu persiapan."


"Apakah perlu beli baju lagi, Kak? Bukankah baju-baju Zavier masih bagus?"


"Mana mungkin baju anak cowok dipakai sama anak cewek?"


"Jadi anak kakak ini perempuan?" Kristal mengelus perut Sandra yang membuncit. "Kapan perutku sebesar ini?" Kristal merasa iri pada kakak iparnya.


"Nanti ada waktunya, ayo kita berangkat sekarang!" Kristal mengangguk.


Di tempat lain, kepala Ruli tiba-tiba merasa pusing ketika mencium bau masakan saat memasuki dapur. Padahal dia sedang mengecek kinerja karyawan seperti biasanya.


"Bau apa ini? Kenapa menyengat sekali di hidungku?" Keluh Ruli. Sedangkan Gilang tidak mencium bau apapun.


Merasa tidak nyaman, Ruli keluar dari dapur restorannya. "Pak, anda terlihat pucat?" Ucap Gilang saat mengamati wajah Ruli.


"Aku tidak apa-apa hanya pusing sedikit," jawabnya. Setelah itu Meilani masuk membawakan teh hangat atas perintah Gilang.


Ruli langsung menutup hidungnya ketika mencium bau parfum Meilani. "Tolong cepat keluar," usirnya. Meilani merasa tidak percaya diri. Dia mengira badannya bau hingga mencium bau badannya sendiri. "Wangi kok," ucapnya setelah mencium ketiaknya sendiri.


Gilang duduk di hadapan Ruli. "Apa kamu sakit? Mau aku antar ke dokter?" Gilang menawarkan bantuan.


"Aku ingin pulang saja. Mungkin aku kelelahan," tolak Ruli. Ruli pun memilih pulang cepat hari ini.


Sementara itu Kristal sedang berada di toko perlengkapan bayi. Matanya berbinar melihat pernak-pernik bayi perempuan. "Ya ampun lucunya." Dia memeluk rok rumbai-rumbai bayi berwarna pink itu.


"Yang hamil siapa yang antusias siapa?" Ledek Sandra. "Memangnya kamu belum merasakan tanda-tanda hamil?" tanya Sandra penasaran.


"Terakhir kali setelah aku berhubungan aku melakukan tes lewat tespek tapi hasilnya negatif," balas Kristal dengan wajah sendu.


"Lakukan tes yang kedua kali. Biasanya tes pertama samar-samar. Apa kamu tidak merasakan mual muntah di pagi hari?" tanya Sandra. Kristal menggeleng.

__ADS_1


"Tidak, Kak."


"Gejala yang dialami setiap orang memang berbeda, kemungkinan kamu tidak mengalaminya, tapi bisa jadi suami kamu," terang Sandra.


"Sewaktu hamil Zavier juga gitu, abangmu yang merasakan mual selama trimester pertama." Sandra memutar ingatannya kembali.


Kristal tertawa karena membayangkan Alex yang lemah saat mengalami morning sickness.


Puas berbelanja kedua wanita yang sama cantiknya itu pulang ke rumah mereka masing-masing. Sandra memilih menaiki taksi dari pada adiknya itu memutar jalan.


Sesampainya di rumah, Kristal terkejut karena Ruli sudah sampai di rumah terlebih dahulu. "Mas, tumben pulang cepat?"


"Aku agak tidak enak badan sayang," jawabnya.


"Ya sudah aku mandi dulu ya, Mas," pamit Kristal masuk ke dalam kamar mandi.


Kristal mandi sambil berendam. Jalan-jalan seharian bersama Sandra membuat badannya terasa capek jadi dia berendam di air hangat untuk merilekskan tubuhnya. Ruli mengetuk pintu kamar mandi saking lamanya sang istri berada di dalam sana.


"Sayang, kamu nggak tidur kan?" Teriaknya dari luar.


"Ah, modus," cibir Kristal yang berjalan melewati suaminya. Dia mengambil pakaian yang ada di dalam lemarinya.


"Tidak usah pakai pakaian. Aku suka jika kamu tidak memakai sehelai benang pun di depanku," goda Ruli.


Kristal memukul dada bidang Ruli. Dia malu mendengar ucapan suaminya itu. "Katanya tidak enak badan?" Ruli hanya terkekeh mendapatkan pukulan kecil dari istrinya.


"Aku selalu sehat saat berada di dekatmu." Dengan sekali hentakan Ruli mengangkat tubuh istrinya lalu merebahkannya perlahan di atas ranjang.


Lidah Kristal terasa kelu saat ini. Dia berbaring bak manekin yang tidak bisa bergerak. Bernafas pun rasanya sangat sulit karena dia merasa gugup. Meskipun dia sudah sering melakukannya dengan Ruli tapi nyatanya jantungnya selalu berdebar saat sang suami akan memulai permainan panas dengannya.


Perlahan tangan Ruli mengelus bagian perutnya. Kemudian mulai merangkak ke atas. Kristal menahan nafas ketika Ruli mulai membuka kimononya dengan sekali tarikan. Meski Kristal ingin menepis tangan nakal suaminya tapi nyatanya dia hanya bisa pasrah. Yang dilakukan saat ini adalah menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa gugup.


"Mas," Kristal berusaha mengumpulkan kewarasannya kembali saat Ruli melahap dua buah pepaya miliknya.


Di saat mereka sedang asik menikmati surga dunia gangguan datang dari luar. Suara ketukan pintu membuat Ruli mengerang kesal.


Kristal menutupi bagian tubuhnya yang polos dengan selimut. Sementara Ruli merapikan rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


Dia membuka pintu perlahan. "Ada apa Ma?" tanya Ruli pada sang ibu.


"Mama bawakan jahe hangat untukmu. Apa kamu masih merasa mual?" tanya Lira.


"Tidak, Ma." Ruli meraih gelas yang dipegang oleh mamanya.


Lira mengintip tapi dia tidak bisa melihat ke dalam kamar Ruli. "Kristal di mana?" tanya mama Lira.


"Dia sudah tidur, Ma," bohongnya.


"Hati-hati kalau main, jangan kasar nanti akan menyakiti dia." Ruli merasa aneh dengan ucapan ibunya. Namun, laki-laki itu hanya mengangguk mengiyakan agar mamanya cepat pergi.


Tak mau beranjak pula, Ruli mengucapkan salam agar ibunya peka. "Selamat malam, Ma." Lira akhirnya pergi.


"Kamu masuk angin, Mas. Kenapa mama memberimu jahe hangat?" tanya Kristal.


"Mungkin, kepalaku agak pusing dan sedikit mual," akunya.


"Sini aku pijitin, Mas. Tapi aku ganti baju dulu ya."


Ruli segera menangkap Kristal sebelum dia beranjak dari tempat tidurnya. "Peluk aku! Aku butuh kehangatan," bisiknya pada sang istri. Wajah Kristal merah merona karena malu mendengar godaan sang suami.


Kali ini Kristal mulai mencium suaminya lebih dulu. Awalnya hanya sebuah kecupan lama kelamaan menjadi lummaatan dan gigitan kecil di bibir sang suami. Ruli membalas ciuman istrinya. Dia membalik tubuh Kristal dengan perlahan.


Ruli mengecup kembali bibir ranum Kristal. Melakukannya dengan lembut sesuai anjuran sang mama. Entah kenapa dia mengingat pesan mamanya itu. Namun, yang dia yakini saat ini adalah membuat istrinya senang dan menikmati permainannya.


Adegan demi adegan panas itu mulai dilakukan. Ruli dan Kristal sama-sama menikmati malam dingin hari ini dengan kehangatan yang mereka buat bersama. Meskipun kulit tak terbungkus benang nyatanya sentuhan kulit masing-masing membuat keduanya mengeluarkan banyak peluh.


"Aku sangat menyukai olah raga malam denganmu. Terima kasih telah memberiku kebahagiaan malam ini," ucap Ruli setelah merasa puas.


"Aku akan memberimu kebahagiaan yang kamu mau kapan pun kamu minta Mas." Kristal menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Mereka tidur dengan lelap saling memeluk satu sama lain.


...♥️♥️♥️...


Hai mampir dulu ya ke novel teman aku, jangan lupa like, dan subscribe


__ADS_1


__ADS_2