Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Baikan


__ADS_3

"Zavier, sekarang tidur ya nak," bujuk Kristal.


"Aku belum ngantuk, onty." Padahal jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Hari ini Alex menemani Sandra di rumah sakit. Mereka telah mendapatkan kabar kalau operasi Sandra sudah selesai. Dia melahirkan anak perempuan. Tapi untuk sementara mereka menginap di rumah sakit.


"Onty, kapan mama sama adikku pulang?"


"Mungkin besok, sayang. Onty belum tahu," jawab Kristal sambil mengelus kepala keponakannya itu.


"Siapa nama adikku onty?" Zavier terus menanyakan soal adiknya. Sepertinya anak itu tidak sabar menyambut kedatangan adiknya di rumah.


"Nanti kita tanya papa ya." Kristal masih berusaha sabar menghadapi Zavier.


"Onty, bagaimana kalau nama adikku Siena?"


Deg


Dada Kristal kembali sesak saat Zavier menyebutkan nama anak gadis yang tak lain anak dari suaminya dengan wanita lain.


Dada Kristal kembali sesak saat mengingat kebohongan suaminya. Bagaimana bisa suaminya itu menyembunyikan masa lalunya. Bukankah seharusnya Ruli berterus terang dari awal. Seandainya itu benar Kristal akan coba menerima masa lalu suaminya.


Setelah menidurkan Zavier, handphone Kristal berbunyi. Dia melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Kristal sebenarnya malas menjawab telepon dari suaminya, tapi dia tidak bisa terus menghindar.


"Hallo."


"Sayang, bisakah kamu memberiku kesempatan untuk menceritakan tentang masa laluku? Aku mohon. Kali ini aku janji tidak akan ada lagi kebohongan."


Kristal mende*sah pelan. "Baiklah, datang saja ke rumah Bang Alex. Aku tidak bisa keluar karena aku harus menjaga Zavier."


"Baiklah sayang, aku akan datang secepatnya."


Kristal cukup lama menunggu kedatangan suaminya di ruang tamu. Akan tetapi matanya malah tidak bisa diajak berkompromi. Wanita itu ketiduran di sofa. Saat itu, Ruli langsung masuk ke rumah Alex. Dia melihat istrinya tidur dengan posisi duduk. Tanpa membangunkannya lebih dahulu, Ruli langsung menggendong istrinya. Dia memindahkan Kristal ke kamar tamu.


Kristal mungkin sangat kelelahan sehingga dia tidak terbangun saat Ruli mengangkatnya. Ruli menaikkan selimut hingga ke bawah leher. Setelah itu dia mencium kening istrinya agak lama. "Maafkan aku karena tidak jujur padamu," gumam Ruli dengan lirih agar tak membangunkan istrinya.

__ADS_1


Setelah itu, dia pun merebahkan diri di samping Kristal. Malam ini Ruli tidur di rumah kakak iparnya bersama sang istri.


Keesokan harinya, Kristal merasakan sesuatu melingkar di bagian perutnya. Lalu dia menoleh ke belakang. Dia terkejut saat melihat sang suami tidur satu ranjang dengannya. Kristal pun memindahkan tangan Ruli secara perlahan. Dia harus membangunkan Zavier karena hari ini dia harus sekolah.


Namun, saat Kristal menyentuh tangan suaminya, dia terbangun. Ruli tersenyum ke arah Kristal. Dia memaksa Kristal untuk kembali tertidur. "Mas, aku harus membangunkan Zavier," protes Kristal.


Ruli tak menanggapinya. Dia memberikan kecupan sekilas di bagian bibir istrinya. "Morning kiss."


Kristal hanya terdiam. Ruli naik ke atas tubuh sang istri. Ruli langsung mencium bibir Kristal dengan rakus. Laki-laki itu sangat rindu pada bibir warna merah milih istrinya. Kristal hanya bisa pasrah mendapat ciuman dari suaminya. Dia memejamkan matanya saat Ruli menyentuh bibirnya. Setelah lumayan lama mereka berciuman, Ruli menempelkan keningnya di kening sang istri.


"Terima kasih sayang," ucap Ruli. Setelah itu Kristal buru-buru bangun agar wajahnya yang merah tak dilihat oleh suaminya.


Ruli tersenyum ketika melihat istrinya tak merajuk lagi. Dia pun bangkit untuk membersikan diri.


Sementara itu Kristal sedang menyiapkan makanan untuk Zavier. Dia menggulung rambutnya ke atas hingga membuat lehernya terlihat jelas. Hal itu tak luput dari pandangan Ruli. Laki-laki itu pun memeluk istrinya dari belakang.


Kristal tersentak kaget ketika Ruli tiba-tiba mencium lehernya. "Mas, jangan begini. Nanti repot Zavier lihat," protes Kristal.


Ruli pun melepas pelukannya. Lalu membalik tubuh Kristal. "Aku ingin bicara setelah kamu selesai mengurus Zavier," ucap Ruli dengan serius. Kristal mengangguk paham.


Setelah itu Ruli membawa Kristal ke sebuah taman yang sepi. Kebetulan lokasinya tak jauh dari sekolah Zavier.


Ruli menggenggam kedua tangan istrinya. "Maaf telah menyembunyikan masa laluku."


"Mulailah bercerita!"


"Ini semua berawal saat aku dan Grace menghabiskan malam bersama di bar ketika seorang teman kami berulang tahun."


"Cerita klasik, kamu mabuk lalu kamu tidak sengaja tidur dengannya? Begitu?" Cibir Kristal. Entah kenapa hatinya teras panas ketika suaminya menyebut nama mantan istrinya itu.


"Dengarkan dulu! Tapi alurnya berbeda." Kristal terdiam menyimak cerita suaminya.


"Aku memang tidak sengaja tidur dengannya hingga aku terpaksa menikah saat aku baru semester lima. Aku tidak mau dia hamil di luar nikah akibat perbuatanku. Tapi apa kamu bisa bayangkan betapa aku kesulitan untuk menafkahi tiga orang di rumahku? Sedangkan aku belum memiliki pekerjaan tetap waktu itu?"

__ADS_1


"Pantas usia anaknya seumuran Zavier," batin Kristal.


"Aku mengira akan bahagia setelah menikah. Terlebih dia ternyata hamil setelah aku menidurinya. Tapi belakangan aku tahu kalau dia menjebakku. Grace tidak hamil anakku tapi anak laki-laki lain."


"Apa?" Kristal terkejut. Ruli mengangguk meyakinkan istrinya.


"Jadi saat aku mabuk tidak terjadi apa-apa di antara kami. Dia hanya menelanjangiku malam itu. Lalu dia berpura-pura menjadi korban. Aku tahu dia berbohong saat aku memergoki dia bersama laki-laki lain setelah Siena lahir."


"Dasar wanita licik. Jadi apa tujuannya menjebakmu?"


"Dia hanya ingin menutupi aibnya dengan menikahiku. Karena pacarnya saat itu tidak setuju menikah di usia muda apalagi mereka masih kuliah."


"Maaf, aku telah berprasangka buruk padamu, Mas."


"Setelah itu aku menceraikan Grace. Tapi aku meminta padanya untuk memperbolehkan aku mengunjungi Siena sewaktu-waktu."


"Apa Mas begitu menyayangi anak itu?" Ruli mengangguk.


"Meski dia bukan darah dagingku tapi aku merawatnya selama dia di dalam kandungan ibunya. Aku begitu antusias menantikan kelahirannya. Walau pada akhirnya aku kecewa dengan perbuatan ibunya."


Kristal merasa terharu mendengar cerita suaminya. Lalu dia memeluk Ruli. "Mulai sekarang jangan ada lagi rahasia di antara kita."


Ruli mengeratkan pelukannya. "Aku janji. Apa kamu masih membenciku?" tanya Ruli memastikan.


Kristal mengurai pelukannya. "Bagaimana aku bisa membenci orang sebaik kamu, Mas. Aku hanya tidak suka kalau ada wanita lain yang mendekati kamu."


"Apakah Siena termasuk?"


"Bukan Siena tapi ibunya. Aku tidak suka dia kembali ke masa depanmu," ucap Kristal dengan mengerucutkan bibirnya.


Ruli mengelus pipi putih istrinya. "Jangan khawatir, di hatiku hanya ada namamu seorang. Meskipun Grace pernah menjadi bagian hidupku tapi kuanggap itu sebagai bagian dari masa lalu. Sudah tidak ada urusanku dengannya."


"Aku percaya padamu, Mas." Kristal menggenggam tangan suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang."


__ADS_2