
Sejak resmi bertunangan dengan Kristal, Ruli selalu datang untuk mengantar jemput layaknya sopir pribadi bagi Kristal.
Kristal meminta abangnya untuk memindahkan dia ke kantor cabang. Dia bilang karena dia ingin menjadi wanita karir seperti ibunya tapi sebenarnya Kristal ingin mempertahankan Rere sebagai asisten pribadinya.
Kantor tempat Kristal bekerja tidak jauh dari restoran milik Ruli jadi dia sekalian pergi bekerja setelah mengantar Kristal.
"Apakah nanti siang mau aku jemput untuk makan siang bersama?" tanya Ruli.
"Nanti aku kabari lagi Mas. Kalau aku tidak sibuk kita bisa makan siang bersama," jawab Kristal sebelum dia turun dari mobil.
"Baiklah aku mengerti. Selamat bekerja sayangku."
Cup
Kristal mencium pipi Ruli singkat lalu dia turun dari mobil. Rere tengah menunggu kedatangan atasannya di lobi hotel. "Selamat pagi Bu. Hari ini kita tidak ada jadwal meeting di luar tapi ada yang harus Ibu tanda tangani. Berkasnya sudah saya siapkan di meja," lapor Rere.
Rere sebenarnya suka menjadi asisten Kristal tapi dia tidak rela jauh-jauh dari Agung. Semenjak insiden ciuman di depan bar waktu itu dia merasa memiliki perasaan yang berbeda terhadap Agung. Semakin hari perasaan itu tumbuh dan berkembang semakin kuat dia yakin kalau dia menyukai Agung.
Kristal memeriksa berkas yang harus dia tanda tangani lalu dia mengecek surel yang masuk hari ini.
"Re, kamu bisa nggak antarkan ini ke asistennya Pak Alex?" Rere mengangguk cepat dia pun menerima berkas yang disodorkan oleh Kristal lalu segera melakukan perintah atasannya itu.
"Baik, Bu," jawab Rere bersemangat.
Rere tersenyum senang akhirnya setelah sekian purnama ada alasan untuk menemui pujaan hatinya.
Kemudian Rere berangkat menuju ke kantor Alex yang jaraknya lumayan jauh dari kantor dia bekerja sekarang. Waktu itu Agung meminta rekapan data-data pada Kristal atas perintah Alex. Tapi data-data itu tidak bisa dikirim secara virtual karena berkas yang diminta akan dipresentasikan oleh Alex pada kliennya siang ini. Jadi kristal menyuruh Rere untuk mengantarkan langsung ke sana.
Sesampainya di kantor Alex, Rere langsung mencari keberadaan Agung. Alih-alih memberikan berkas tersebut saat ini dia ingin melihat wajah pujaan hatinya walau sekilas.
"Pak Agung," panggil Rere dari kejauhan. Laki-laki yang disebut namanya itu pun menoleh.
"Ini saya bawa berkas yang anda minta dari atasan saya." Rere menyodorkan berkas tersebut kepada Agung. Namun tak sengaja tangan aku menyentuh tangan Rere.
Gadis itu jadi terperanjat kaget. Jantungnya berdebar kencang dan wajahnya menjadi merah merona karena malu. "Maaf saya tidak sengaja," kata Agung. Rere mengangguk malu-malu.
"Oh ya terima kasih sebaiknya lain kali kamu telepon saya saja agar kamu tidak perlu repot mengantarkan berkas ini sampai ke sini."
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa, saya tidak merasa direpotkan. Lagi pula saya tidak memiliki nomor ponsel Pak Agung," balas Rere.
"Benarkah Apakah kita tidak pernah bertukar nomor ponsel sebelumnya?" Rere menggalakan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu di sini handphone-mu berikan padaku." Rere mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya lalu memberikan handphone tersebut kepada Agung.
Agung mengetik nomor ponsel di handphone Rere setelah itu mengembalikannya pada sang pemilik. Rere tersenyum senang.
Di tempat yang sama seseorang melihat gadis yang dia kenal berdiri bersama seorang pria lalu dia pun menyerukan namanya. "Rere."
Agung dan Rere menoleh ke sumber suara. Rere mendelik tajam saat laki-laki yang dia kenal berjalan ke arahnya. "Kamu ngapain di sini? Bukankah kantor kamu sudah pindah?" tanya Leo.
Agung menautkan kedua alisnya. "Lho kalian saling kenal?" tanya Agung yang penasaran. Rere menganggukkan kepala mengakui kalau mereka memang saling kenal.
"Kenal di mana?" tanya Agung lagi.
"Kami..." Sebelum menyelesaikan kalimatnya Rere menyela omongan Leo lebih dulu.
"Kami kenal di acara pertunangan Bu Kristal. Benar kan Pak Leo?" Rere seolah memohon dukungan dari tatapannya kepada sang kakak.
Agung hanya bisa percaya karena waktu itu dia tidak datang ke acara pertunangan Kristal.
"Apa kamu sudah tahu Re kalau Pak Leo ini adalah asisten Pak Zidan, sepupunya Pak Alex?" Rere menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak tahu siapa nama atasan kakaknya itu yang jelas dia hanya tahu kalau Leo bekerja sebagai asisten pribadi.
Rere melihat jam yang melingkar di tangannya. "Maaf Pak Agung sudah saatnya saya kembali ke kantor kalau begitu saya permisi," pamit Rere meninggalkan keduanya. Tak lupa dia mengangguk ke arah Leo.
Setelah berada di parkiran mobil Rere mengirim pesan kepada kakaknya untuk meminta maaf karena dia telah mengajak kakaknya berbohong kepada rekan kerjanya.
Maaf Kak aku tidak mau teman sekantor kita tahu kalau kita ini saudara. Aku hanya ingin diperlakukan adil agar aku bisa fokus bekerja.
Sekarang Leo paham mengapa adiknya bersikap demikian setelah membaca pesan yang dikirim oleh Rere.
Rere kembali ke kantornya secepat mungkin. "Re, kamu baru kembali?" Rere mengangguk. "Maaf, Bu."
"Nggak apa-apa, aku mau makan siang sama Mas Ruli, kamu juga bisa istirahat sekarang."
"Baik, Bu."
__ADS_1
Kemudian Kristal menunggu lift terbuka. Saat lift terbuka, seseorang menabrak Kristal hingga barang-barang yang dia bawa terjatuh. "Maafkan saya," ucap laki-laki paruh bay tersebut.
Kristal berjongkok sambil memunguti barang-barang yang terjatuh itu. "Seharusnya saya yang meminta maaf. Belanjaan anda jadi jatuh berantakan." Laki-laki asing tersebut tersenyum pada Kristal.
Setelah selesai kedua orang itu berdiri. "Apa anda menginap di hotel ini?" tanya Kristal.
"Iya, sementara waktu selama rumah saya direnovasi," jawabnya.
"Oh, semoga anda betah menginap di hotel ini," ucap Kristal lalu menutup pintu lift.
Ruli sudah menunggu di parkiran. Kristal datang dengan wajah yang riang menyapa pujaan hatinya. "Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Kristal pada Ruli.
"Tidak, sayang. Kita jalan sekarang?" Kristal mengangguk.
Mereka makan di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat kerja Kristal. "Kenapa kita tidak makan di restoran kamu, Mas?" tanya Kristal heran.
"Terus terang aku merasa bosan dengan menu yang sama," jawab Ruli.
"Oh ya? Apa nanti jika aku memasak menu makanan yang sama Mas Ruli juga kan merasa bosan?" tanya Kristal dengan wajah sendu.
Ruli tersenyum mendengar pertanyaan Kristal. "Tentu saja." Ruli menggantung kalimatnya sehingga terdengar ambigu. Wajah Kristal berubah sedih.
Lalu Ruli menggenggam tangan Kristal. "Tentu saja aku tidak akan bosan dengan masakan istriku nantinya. Meskipun kamu hanya menggoreng telur setiap hari untuk sarapanku," ucap Ruli dengan lembut hingga membuat hati Kristal berdesir.
Namun, sesaat kemudian Kristal memukul lengan Ruli. "Mas Ruli nyindir aku ya karena tidak bisa memasak?" Tuduh Kristal.
Ruli tertawa. "Benarkah kamu tidak bisa memasak?" Kristal mengangguk malu-malu saat mengakuinya.
"Tidak apa-apa tugasmu hanya membuat anak, masak bisa dilakukan oleh asisten rumah tangga." Kristal tak percaya calon suaminya semesum itu.
*
*
*
Sambil nunggu aku up bab selanjutnya kalian bisa baca novel di bawah ini ya
__ADS_1
Jangan lupa like dan subscribe