
Sudah hampir seminggu Kristal dirawat dirawat di rumah sakit. Tapi tanda-tanda perkembangan itu hampir tidak ada. Namun, Ruli dengan setia menemani Kristal. Dia yakin istrinya akan sembuh.
"Papa," panggil Siena. Anak itu rajin menjenguk Kristal. Kebetulan di rumah sakit tempat Kristal dirawat, anak-anak diperbolehkan untuk masuk.
"Apa kabar mama hari ini?" tanya Siena yang sedang menanyakan kabar Kristal.
"Mama baik. Kamu masih rajin berdoa untuk kesembuhan mama bukan?" tanya Ruli. Siena mengangguk. Ruli mengusap kepala anak kecil yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Siena datang bersama Amara. "Mana mama? Kenapa kamu tidak datang bersama beliau?" tanya Ruli.
"Mama kurang enak badan jadi aku yang menemani Siena ke sini," jawab Amara.
"Papa aku ingin papa merekam suaraku agar mama bisa mengenali suaraku ketika bangun nanti," usul Siena. Ruli menuruti kemauan anaknya.
Setelah itu Ruli mengeluarkan handphone miliknya. "Mama, ini aku Siena. Cepat bangun, Ma. Kami sangat merindukan mama. I love you Ma."
Ruli meneteskan air mata haru ketika anak kecil itu begitu menyayangi Kristal. Dia benar-benar wanita yang istimewa. Tanpa berpikir panjang, dia rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Siena.
"Papa akan masuk. Nanti di sana papa akan memutar rekaman suara Siena." Siena mengangguk setuju. Anak kecil seperti Siena tidak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan khusus.
Sesaat kemudian Ruli menyapa istrinya. "Apa kabar hari ini sayang?" Ruli mengecup kening Kristal. Wanita itu masih tak bereaksi.
Dada Ruli terasa sesak setiap kali melihat istrinya. Masih ingat kejadian seminggu yang lalu di mana dia mengangkat tubuh Kristal yang penuh darah.
"Hari ini Siena ingin kamu mendengarkan suaranya." Ruli pun memutar rekaman suara anak kecil itu.
Usai rekaman diputar, Kristal menunjukkan pergerakan di bagian jarinya. Ruli sempat melihat itu. Dia senang akhirnya istrinya itu akan segera sembuh. "Sayang apa kamu sudah bangun?"
Ruli pun memencet tombol panggil untuk dokter dan perawat. Mereka segera datang setelah mendapatkan intruksi.
__ADS_1
"Anda bisa keluar sebentar, Pak." Perintah salah seorang perawat. Ruli pun menurut. Siena dan Amara ikut senang ketika melihat Kristal mengalami perkembangan.
Sesaat kemudian dokter menyatakan kalau keadaan kristal sudah membaik. Dia telah melewati masa kritisnya.
Ruli segera mengabari keluarga Kristal. Mereka sangat senang dan segera menuju ke rumah sakit. Kristal akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Mereka dapat menjenguk Kristal dengan leluasa.
Semua orang menunggu wanita yang terbaring selama seminggu di rumah sakit itu sadar. Tak lama kemudian mata Kristal mulai membuka. Matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah itu dia mengedarkan pandangannya.
Berlian membantu Kristal duduk bersandar dengan bantal. Kristal mengenali satu per satu keluarganya. "Mas," panggilnya pada sang suami. Ruli datang mendekat lalu memeluk istri tercintanya.
Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan Kristal. "Terima kasih sayang kamu sudah bertahan demi orang-orang yang mencintaimu," ucapnya di sela-sela tangisannya.
Kristal meringis sambil memegangi kepalanya. Ruli pun merebahkan tubuh Kristal kembali. "Apa yang terjadi padaku?" tanya Kristal yang tak mengingat kecelakaan yang menimpanya.
"Kamu kecelakaan sayang," jawab Ruli.
Siena sudah menahan tangis sejak tadi dia ingin memeluk Kristal orang yang menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan. Andai saja kristal tidak berkorban mungkin Sienalah yang akan terbaring di rumah sakit.
"Maafkan aku ma, karena aku mama celaka," ucap Siena yang merasa bersalah.
Dia merasa terharu Siena mau memanggil dirinya dengan sebutan mama. Panggilnya yang dirindukan Kristal sejak lama. Andai saja waktu itu dia tidak keguguran mungkin akan ada anak yang memanggilnya mama. Tapi Kristal sadar semua sudah diatur oleh Sang Penguasa Alam Semesta.
"Sstt jangan bicara seperti itu," ucapnya dengan lemah.
Tak lama kemudian dokter dan perawat datang untuk memeriksa kondisi Kristal. "Bapak ibu silakan keluar dulu agar dokter bisa memeriksa pasien." Perintah suster pada keluarga Kristal.
Semua orang menunggu di luar. Setelah sepuluh menit dokter keluar. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Ruli.
"Semakin membaik. Kalau tidak ada lagi keluhan Lisa dia sudah boleh pulang," kata dokter yang memeriksa.
__ADS_1
Semua orang bersyukur mendengar kabar yang membahagiakan itu. Mereka merasa lega karena orang yang mereka cintai akhirnya kembali pulih.
"Ruli, pulanglah biar mama yang jaga. Mama tahu sudah berhari-hari kamu kurang tidur," kata Berlian. Dia begitu bijak. Berlian paham kondisi Ruli begitu terpuruk saat istrinya itu terbaring di rumah sakit.
"Baiklah, Ma. Aku juga ingin melihat kondisi mamaku di rumah yang sedang tidak enak badan."
Ruli pun berpamitan pada istrinya. "Maaf hari ini aku pulang sebentar. Mama sedang sakit jadi aku akan melihat kondisinya." Kristal mengangguk lemah.
Setelah itu giliran Amara dan Siena yang berpamitan. "Ma bolehkah aku mencium pipi mama?" tanya Siena dengan polos. Berlian yang menyaksikan itu meneteskan air mata haru. Kristal benar-benar telah mengambil hati Siena.
Kristal pun mengizinkannya. Siena memberikan kecupan di pipi sebelah kiri. "Aku sayang padamu, Ma." Ungkapan sayang dari Siena membuat Kristal meneteskan air mata. Dia tak pernah sebahagia ini. Meskipun dia bukan anak yang tidak dilahirkan dari rahimnya, tapi Kristal tak mempermasalahkan hal itu. Baginya Siena sudah memberikan gelar yang dia damba sejak lama.
"I love you Siena sayang," balas Kristal.
Ruli, Amara, dan Siena sudah kembali ke rumah mereka. Jadi saat ini hanya ada orang tua Kristal.
Sesampainya di rumah, Ruli melihat Grace bersama Hans. Dia membatalkan surat gugatan cerainya. "Ada apa kalian ke sini?" tanya Ruli dengan nada dingin.
"Kembalikan Siena padaku!" Pinta Hans dengan kasar.
"Bukankah istrimu itu yang meninggalkan Siena di sini. Kenapa mau diambil lagi?"
"Dia bukan barang Ruli jadi jangan kamu oper sana sini."
"Cih seharusnya aku yang berkata demikian Hans. Kamu mengoper Siena ke sana kemari sampai anak ini bingung ingin tinggal di mana? Apa kamu bisa bayangkan anak sekecil ini dijadikan rebutan oleh kalian?"
"Siena kemarilah nak!" Grace merentangkan tangannya lebar agar Siena berlari ke pelukannya. Tapi Siena malah bersembunyi di belakang punggung Ruli.
"Siena," tegur Grace yang merasa kecewa karena anaknya itu malah memilih laki-laki yang bukan ayah kandungnya.
__ADS_1
"Jangan paksa dia. Biarkan Siena sendiri yang memilih dia akan tinggal di mana?"