
Tak terasa empat bulan kehamilan Kristal. Sesuai janji mama Berlian, mereka mengadakan acara syukuran empat bulanan Kristal pada hari Minggu. Semua keluarga besar Kristal dan Ruli diundang. Meilani juga datang karena Gilang mengajaknya. Sedangkan Rere datang atas undangan khusus dari Kristal.
Acara tersebut juga mengundang anak - anak panti asuhan. Selain pengajian, mereka juga membagikan uang dan bingkisan pada anak-anak yatim itu.
"Gini ya acara syukuran empat bulanan orang kaya," gumam Meilani yang mengagumi dekorasi acara empat bulanan Kristal.
"Kenapa sayang, kamu juga pengen?" Goda Gilang. Meilani mengangguk tanpa sadar. Gilang tersenyum. "Jadi kode nih?" Meilani menoleh lalu wajahnya memerah.
"Kode apa?" Dia bukannya tidak tahu tapi dia hanya tidak ingin berangan-angan.
"Kode buat anak." Gilang tertawa setelah memberi tahu jawabannya.
Meilani menempatkan satu jarinya di depan mulut. "Jangan asal ngomong kalau yang lain dengar bagaimana?" Gilang hanya tertawa.
"Aku serius. Jadi kapan aku bisa nikahin kamu biar aku bisa bikinin acara yang nggak nggak kalah meriah dari ini?"
Apa ini? Gilang melamar Meilani di tengah acara empat bulanan sahabatnya? Meilani sampai susah berkata-kata. Antara percaya tidak percaya Gilang seserius itu padanya.
"Mas, kamu gila ya melamar di acara orang lain?" Meilani malah mengerucutkan bibirnya. Setidaknya melamar di bawah sinar bulan begitu pikir Meilani.
Gilang tertawa. Sesaat kemudian dia menggenggam tangan kekasihnya. "Aku akan meminta orang tuamu melamar secara resmi." Mata Meliani berkaca-kaca saat mendengarnya.
"Aku tunggu kedatangan mereka." Gilang senang Meilani menyambut niatnya dengan senang hati.
Tinggalkan mereka, di acara empat bulanan ini Mama Berlian khusus membuat acara di belakang rumahnya yang cukup luas. Mama Berlian sengaja mendekor acara sebaik mungkin karena dia mengundang seluruh keluarga besarnya.
"Nenek tidak menyangka kamu akan memiliki anak kembar sayang. Semoga kehamilan kamu berjalan lancar sampai kelahiran ya." ujar nenek Celine, ibu dari papa Jaden.
"Terima kasih, Nek."
Semua orang memberikan ucapan selamat dan hadiah pada Kristal. Setelah selesai mereka menginap semalam di rumah mama Berlian. "Kalian menginap di sini kan?" tanya Papa Jaden memastikan.
"Iya, Pa. Kamu pulang besok pagi. Kasian Kristal kelihatannya dia kecapekan," ungkap Ruli.
"Baiklah, sebaiknya kalian istirahat di kamar tamu saja biar kristal tidak naik turun tangga." Jaden memberikan saran.
"Baik, Pa."
__ADS_1
Sementara itu Kristal sudah menunggu suaminya di dalam kamar. Ruli yang melihat istrinya langsung bergabung dengannya di atas ranjang. "Mau aku pijit?" Kristal mengangguk.
"Kata dokter memijat bagian kaki bisa mengurangi bengkak."
"Kata dokter aku terlalu gemuk, Mas," sanggah Kristal.
"Itu karena kamu mengandung anak kembar sayang. Kira-kira anak kita akan kamu namai siapa?" tanya Ruli tangannya masih mode memijat.
Kristal mengetuk-ngetuk dagunya. "Aku akan cari referensi di Doodle," jawabnya tak mau ambil pusing. Ruli tertawa pelan.
"Nanti gantian ya, badan aku juga pegal-pegal karena menyambut banyak tamu hari ini." Ruli tak bermaksud memerintah istrinya yang sedang hamil tapi dia hanya menggoda.
"Papa mau dipijit bagian yang mana?" Kristal meniru suara anak-anak. Tangannya mengusap perutnya yang sudah kelihatan membuncit.
"Bagian mana saja."
"Ya sudah sini." Kristal merentangkan tangannya. Ruli kemudian memeluk istrinya. "Kok peluk sih?"
"Dingin peluk dulu baru aku pijit," kata Kristal beralasan. Padahal dia hanya ingin berdekatan dengan sang suami. Rasanya dada Ruli itu nyaman sekali.
"Mau aku pijit juga di sebelah sini?" Ruli memegang pinggang istrinya. Kristal mengangguk.
"Usap saja bagian punggungku agar aku bisa tidur malam ini dengan nyenyak."
Ruli pun menuruti permintaan sang istri. Dia bisa memaklumi kalau akhir-akhir ini pinggang istrinya sering merasa sakit karena ukuran perutnya yang semakin membesar. Ruli mengusap punggung istrinya dengan telaten sampai dia tertidur.
"Selamat tidur sayang." Ruli mencium kening istrinya lalu dia memejamkan mata sambil memeluk istrinya.
Ruli meraba tempat tidur tapi tidak menemukan istrinya. Ternyata Kristal bangun lebih dulu. Dia duduk di bawah lantai.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Ruli. Kristal memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Sini, Mas. Aku lagi buka kado." Semalam dia tidak sempat buka kado karena kecapekan. Setelah badannya terasa segar habis bangun tidur, Kristal melihat kado-kado yang diberikan oleh keluarga dan sahabatnya menumpuk di lantai. Dia pun turun untuk membukanya.
Kristal seperti anak kecil yang berulang tahun. Dia begitu antusias membuka kado-kado itu. Ruli duduk di samping istrinya. "Mas, bantuin aku buka kado ya."
Ruli melihat wajah Kristal yang begitu bahagia. "Kamu nggak mandi sayang?" tanya Ruli.
__ADS_1
"Nanti aja mandinya setelah selesai membuka kado," jawab wanita itu. Tangannya sibuk menyobek sampul yang membungkus kado yang sedang dia pegang.
"Wah baju baju bayi, lucu ya." Kristal melebarkan baju yang dia pegang. Satu kotak berisi beberapa potong baju bayi kembar laki-laki dan perempuan.
Ruli jadi kepikiran soal kamar anak. "Ah, aku akan memberikan surprise pada istriku nanti," batin Ruli.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar mereka. "Non, dipanggil ibu katanya disuruh sarapan bareng." Suara itu berasal dari asisten rumah tangga yang bekerja di rumah orang tua Kristal.
"Yagh masih banyak yang belum dibuka, Mas."
"Nanti saja sayang. Anak kita juga perlu asupan nutrisi." Kristal mendengarkan saran suaminya.
"Ya sudah ayo." Kristal berdiri dengan menggandeng tangan suaminya.
"Lho Yang apa nggak sebaiknya mandi dulu? Malu sama orang tua kamu." Ruli menahan langkahnya.
"Nggak usah Mas. Perut aku sudah keroncongan." Kristal dan suaminya keluar kamar dengan keadaan belum mandi.
"Lho kalian belum mandi?" tanya papa Jaden memastikan.
Kristal hanya tersenyum. "Udah pa, makan dulu yuk." Ajak Kristal dengan santainya. Sedangkan Ruli sungguh malu di hadapan mertuanya dalam keadaan baru bangun tidur.
Jaden hanya menggelengkan kepalanya. "Oh ya sayang, papa ingin kamu dan suamimu datang ke kantor papa hari ini."
"Ada apa Pa?" tanya Ruli.
"Akan papa sampaikan di sana," jawab Jaden. Kristal jadi penasaran. Dia menoleh pada ibunya. Sang ibu menggedikkan bahu.
Usai sarapan, Kristal dan Ruli masuk ke kamar untuk membersihkan diri. "Mas kamu mandi duluan," perintah Kristal pada suaminya.
Kening Ruli berkerut. "Lah kamu mau ngapain?" Dia melihat istrinya itu kembali duduk di depan kado-kado yang belum dibuka.
"Mau buka kado lagi sambil nunggu Mas Ruli mandi. Dari pada nggak ada kerjaan...." Ruli tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya.
"Mas mas mau ngapain? Turunin aku mas. Nanti jatuh." Kristal ingin berontak tapi dia takut kalau suaminya goyang.
"Mandi bareng," putus Ruli. Dia tidak membiarkan istrinya turun dari gendongannya.
__ADS_1