
Assalamualaikum readerku tercinta. Terima kasih ya yang sudah membaca sampai bab ini. Dengan penuh harap othor ingin mengingatkan untuk membagi poinnya ya reader-reader ku yang baik.
Selamat membaca kembali
...♥️♥️♥️...
Saat ini Kristal sedang bercermin. Dia melihat posisi badannya dari samping. "Udah makin besar ya kamu nak," gumamnya seorang diri. Tak lupa mengusap perutnya dengan sayang. Dia tidak menyangka setelah kehilangan anak pertamanya, Tuhan memberikan anak kembar padanya.
Setelah itu Ruli datang dan memeluk istrinya dari belakang. "Kamu makin se*ksi sayang." Sebuah kecupan diberikan di bagian pundaknya.
"Halah, bohong banget badanku udah kaya ikan buntal begini coba." Kristal merasa tidak percaya diri. Semua baju-bajunya tidak ada yang muat lagi.
Ruli membalik tubuh sang istri agar menghadap dirinya. "Bagiku kamu tetap wanita yang paling cantik meskipun pipi kamu ini makin gembul kayak bakpao," ledek Ruli sambil mencubit pipi istrinya gemas.
"Tuh, kan ngeledek. Pokonya habis melahirkan aku mau diet." Kristal menghentakkan kakinya kesal.
"Nggak usah diet-dietan. Aku cuma becanda sayang. Pipimu ini menggemaskan hingga aku ingin memakannya." Ruli mencium pipi istrinya itu. Wajah Kristal memerah karena malu.
Ruli melihat jam yang melingkar di tangannya. "Sudah waktunya ke dokter, aku tunggu di luar ya." Kristal mengangguk paham.
Hari ini jadwal Kristal memeriksakan kandungan. Ruli setia menemani. Tapi hari ini mama Berlian ikut serta karena dia ingin melihat bayi kembar putrinya. Menikah dengan orang yang memiliki kembaran ternyata tak membuatnya mengandung bayi kembar. Justru putrinya (Kristal) lah yang beruntung mengandung bayi kembar.
"Nanti mama ikut masuk ke dalam ya," mama Berlian meminta izin pada Ruli dan Kristal.
"Iya, Ma. Boleh dong kan mama neneknya."
"Ibu, Kristal," panggil seorang perawat. Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam ruangan.
"Wah berame-rame ya," Dokter Sinta, dokter spesialis kandungan yang memeriksa Kristal menyapa mereka dengan ramah.
"Iya, Dok. Saya neneknya," ungkap Mama Berlian.
__ADS_1
"Bagaimana Bu Kristal apa ada keluhan?" Dokter mulai pemeriksaan.
"Kaki saya bengkak, Dok," jawab wanita itu.
Dokter pun memeriksa kaki Kristal. "Kemungkinan ini bukan bengkak Bu tapi karena penambahan berat badan ibu. Saya sarankan banyak berolahraga seperti jalan pagi atau berenang. Bagus sekali untuk kesehatan ibu hamil. Selain itu jangan makan makanan olahan. Kurangi makan makanan berkarbohidrat tinggi misal sudah makan nasi jangan lagi makan roti, makanlah sedikit tapi sering. Tekanan darahnya agak tinggi ya, saya sarankan kurangi makan makanan yang terlalu asin." Dokter Sinta menjelaskan panjang lebar.
Kristal terlalu bingung, sedangkan Ruli hanya manggut-manggut. Untung saja ada mama Berlian yang menyimak penjelasan dokter jadi dia akan memberi tahu sedikit demi sedikit apa yang disampaikan oleh Dokter Sinta barusan.
"Bayinya sehat ya, berat badannya juga cukup." Dokter Sinta memeriksa kandungan kristal melalui layar komputer saat dilakukan USG.
"Jenis kelaminnya apa, Dok?" Mama Berlian dan Ruli bertukar pandang. Ternyata pikiran mereka sama. Keduanya pun terkekeh karena merasa lucu.
"Laki-laki dan perempuan, Pak, Bu." Semua orang jadi bahagia setelah mengetahui jenis kelamin anak kembar Kristal dari penjelasan Dokter Sinta.
Usai melakukan USG dokter Sinta memberikan resep vitamin pada Kristal. "Jangan lupa vitaminnya diminum secara teratur ya, Bu. Kembali sebulan lagi."
"Baik, Dok."
"Ma, aku tebus obat dulu ya." Mama Berlian mengangguk. Ruli pergi ke bagian apotek. Sementara itu Kristal dan mamanya duduk di kursi tunggu.
"Tunggu di sini ya. Mama mau beli minuman buat kamu di minimarket depan." Kristal mengangguk.
Kristal ditinggal sendirian oleh ibunya. Tak sengaja dia melihat seseorang yang menempel pada punggung orang lain. Tapi tangannya merogoh saku orang yang ada di depannya. Ingin sekali Kristal menghajar laki-laki itu tapi dia tidak boleh gegabah. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada dirinya dan bayi kembarnya.
Lalu dia punya ide. Kristal memanggil seorang laki-laki yang lewat di depannya. "Mas."
Laki-laki itu berhenti dan menunjuk pada dirinya sendiri. "Saya mbak?" Kristal mengangguk.
Laki-laki itu mendekat. "Ada apa mbak?"
"Tolong panggilkan security karena laki-laki itu pencopet." Kristal menunjuk ke arah laki-laki yang memakai topi hitam.
__ADS_1
Sedangkan pria yang ada di hadapan Kristal mengikuti arah tangannya. Apa yang dilihat memang benar, laki-laki yang diduga pencopet itu baru saja memasukkan sebuah dompet ke saku jaketnya.
"Baik, mbak." Setelah itu dia mencari petugas keamanan di rumah sakit tersebut. Mama Berlian yang baru saja selesai membeli minuman untuk putrinya tak sengaja melihat security tengah mengejar seorang pencopet di dalam rumah sakit.
"Berhenti, tangkap dia," seru petugas keamanan yang sedang mengejar.
Mama Belian langsung ambil tindakan. Dia menjulurkan kaki tepat di depan pencopet itu hingga dia terjatuh. Pencopet itu menatap tajam ke arah mama Berlian tapi dia pura-pura tidak tahu. Saat pria itu menepuk pundaknya. Mama Berlian berbalik dan membanting pria itu. Security yang mengejar akhirnya bisa menangkap pencopet itu.
Semua orang memperhatikan tindakan mama Belian yang heroik tersebut. Tapi dia tak memperdulikannya. Mama Berlian segera menghampiri putrinya yang sudah sejak tadi menunggu air minumnya datang.
"Mama kenapa lama sekali?" Protes Kristal. Mama Berlian tak menjawab dia buru-buru membukakan air mineral yang dibeli untuk putrinya.
Sesaat kemudian, Ruli berjalan menghampiri kedua wanita beda generasi itu. "Ma, aku lihat mama tadi..."
Mama Berlian memberikan kode agar Ruli diam. "Sayang ayo pulang supaya kamu bisa istirahat," ajaknya sambil menuntun Kristal.
Mereka menunggu di depan rumah sakit sementara Ruli mengambil mobil. Sesampainya di depan istri dan mertuanya, Ruli turun guna membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah memastikan keduanya masuk, Ruli menutup pintu.
Ruli mengantar mama mertuanya dulu. Setelah itu barulah mereka pulang ke rumah. "Mau mampir makan dulu tidak?" tanya Ruli.
"Aku ingin daftar kelas yoga, apa boleh?"
Ruli mengusap kepala istrinya dengan sayang. "Tentu saja boleh." Kristal membalas dengan senyum.
"Tapi nanti aku minta imbalannya ya?" Goda Ruli sambil tersenyum tipis.
"Iya, satang aku tahu kok. Kamu ingin nengokin si kembar kan?"
"Ih, mana bisa ditengok?" Ruli pura-pura tidak tahu maksud Kristal.
Kristal pun memukul lengan suaminya. "Awas ya nanti kalau bilang mau nengokin si kembar, aku pura-pura amnesia," ucap Kristal sambil mengerucutkan bibirnya. Ruli hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jan ngambek gitu dong sayang. Senyum biar cantik. Ingat ibu hamil harus selalu bahagia," bujuk sang suami. Sedangkan Kristal membuang pandangannya.
Setelah lama di perjalanan mereka akhirnya sampai di tempat yoga. Mereka akan mendaftar kelas yoga sesuai saran dokter Sinta yang menyarankan banyak berolahraga saat hamil. Kristal pikir yoga juga bagus untuk kesehatan bayinya.