Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Happy mother's day


__ADS_3

"Happy mother's day, sayang." Ruli mengucapkan kalimat itu tepat di tanggal 22 Desember. Dia juga memberikan buket bunga besar untuk istrinya. Kristal tentu saj sangat senang menerima hadiah dan ucapan dari suaminya.


"Kamu romantis sekali sih," puji Kristal pada suaminya. Dia mencium bunga segar yang dijadikan buket itu.


"Mama," seru Baby Glen dan Baby Gwen yang berlari ke arahnya. Saat ini usia mereka sudah hampir dua tahun. Keduanya sedang lucu-lucunya.


"By the way aku kangen mama, bagaimana kalau kita nanti ke makam mamaku," usul Ruli. Kristal mengangguk setuju.


"Tapi habis itu kita ke tempat mamaku ya. Aku juga ingin berterima kasih dan ngasih kado buat mama."


"Boleh, sayang. Nanti kita beli kado buat mama," jawab Ruli.


Baby Gwen tiba-tiba menangis karena Baby Glen memukul kepalanya. "Glen, kalau mau sayang kakak Gwen caranya begini." Kristal memberikan contoh pada Glen dengan mengelus kepala Gwen.


Gwen tidak menangis lagi ketika Kristal mengelus rambutnya. Glen pun mengikuti cara yang ditunjukkan Kristal. "Anak pintar," puji Kristal.


"Mas kapan Amara akan pulang?" tanya Kristal. Setelah kematian ibunya Amara merasa depresi karena dia terus menerus menyalahkan diri akibat kecelakaan yang menyebabkan ibunya meninggal. Ruli sampai membawa Amara untuk berobat ke luar negeri. Hampir setahun lebih Amara baru dinyatakan sembuh dari depresinya. Kemudian dia bekerja di sana.


Pulang ke negara asalnya menjadikan Amara ingat akan kesalahan yang membuatnya depresi. Jadi Ruli menyarankan untuk adiknya tinggal di luar negeri.


"Aku sendiri tidak tahu sayang. Tapi terakhir dia memberi kabar padaku kalau keadaannya sudah lebih baik. Dia juga di terima bekerja di perusahaan bonafit di sana," kata Ruli memberi tahu.


"Aku berharap dia selalu bahagia," ucap Kristal mendoakan adik iparnya itu.


Ruli melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Hari sudah mulai siang, jalannya pasti akan macet soalnya ini week end jadi kemungkinan banyak mobil pribadi yang datang dari arah luar kota."


"Oke aku siap-siap dulu. Oh ya, apa kita perlu ajak Lala?"


Lala adalah baby sitter yang membantu Kristal menjaga kedua balitanya semenjak Mama Lira meninggal dunia. Usianya masih sangat muda karena dia baru lulus SMA. Karena tidak ada uang untuk meneruskan sekolah, dia melamar sebagai baby sitter di sebuah yayasan. Di sana dia mendapatkan pelatihan.


"Ya sebaiknya dia ikut," jawab Ruli.


Setelah itu Kristal memanggil Lala dan meminta dia untuk bersiap-siap. "Kita akan ke mana, Bu?" tanya Lala.


"Kita akan ke makam mertua saya dan setelah itu ke rumah orang tua saya. Kamu bantu saya jaga Baby Glen dan Baby Gwen ya," pinta Kristal.

__ADS_1


Lala tentu saja tidak menolak. Setiap kali dia diajak pergi oleh majikannya itu dia bisa mendapat makanan gratis yang enak karena jika mereka makan, Ruli selalu mampir di restoran mewah. Lala bisa menikmati makanan mahal tanpa harus mengeluarkan uang serupiah pun.


"Baik, Bu."


"Jangan lupa bawa pakaian dan susu anak-anak ya. Rencana kami akan menginap sehari di sana." Lala mengangguk.


Ruli menunggu istrinya di ruang tengah sambil menemani anak-anaknya bermain. Tak lama kemudian Kristal turun dari kamarnya. "Mas ayo berangkat sekarang. Aku sudah siap."


"Saya juga sudah siap, Bu," seru Lala.


"Lho kenapa bawa koper, La?" tanya Ruli pada baby sitter itu.


"Bu Kristal memerintahkan saya untuk membawa pakaian anak-anak. Katanya mau menginap di sana." Ruli menoleh ke arah istrinya ketika dia mendengar penuturan Lala.


"Apa betul itu, Sayang? Kenapa tidak bilang sebelumnya?" Cecar Ruli.


"Sehari aja. Anak-anak kan sudah lama tidak bermain dengan kakek neneknya. Biar mereka puas main bareng sama anak-anak Mas."


Ruli menghela nafas. "Baiklah," jawab Ruli pasrah. Lala menahan senyum melihat Ruli tak berdaya menolak permintaan istrinya.


"Terima kasih, sayang," ucap Kristal lalu memberikan cium di pipi suaminya.


Ruli merasa tidak enak ketika disaksikan oleh Lala. Lala pun menunduk malu ketika suami istri itu berciuman. "Mataku tercemar," batin Lala meronta. Jujur saja dia merasa iri melihat Kristal yang bucin pada suaminya.


"Kapan aku punya suami setampan dan semapan Pak Ruli?" Lala tanpa sadar mengagumi majikannya itu. Ya, Ruli masih masih menjadi incaran para wanita karena parasnya yang amat tampan.


"La, Lala," panggil Kristal. Tangannya melambai di depan wajah Lala.


"Maaf, Bu. Saya kurang Akua," jawab Lala asal.


"Bawa Baby Glen dan Baby Gwen masuk!" Perintah Kristal pada baby sitter anaknya itu.


"Baik, Bu."


Tujuan pertama mereka adalah ke makam mama Lira. Ruli dan Kristal meninggalkan anak-anaknya di dalam mobil bersama Lala.

__ADS_1


Ruli berjalan bersama istrinya sambil membawa bunga yang akan ditaburkan di atas makam ibunya. Mereka mengenakan pakaian hitam dan kacamata yang senada.


"Ma, kami datang," ucap Ruli ketika baru sampai di makam ibunya. Dia memunguti daun-daun yang ada di atas makam tersebut. Setelah itu pasangan suami istri tersebut berdoa bersama.


Setelah cukup lama berdoa keduanya meninggalkan makam tersebut. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah orang tuanya. Namun, sebelumnya Kristal mampir ke sebuah toko roti untuk membeli kue untuk ibunya.


"Assalamualaikum, Ma." Kristal berteriak ketika masuk ke dalam rumahnya.


"Sepertinya tidak ada orang sayang," sahut Ruli.


"Sebaiknya kita tanya ART," usul Kristal.


"Bi, mama ke mana?" tanya Kristal.


"Nyonya sedang belanja bulanan, Non," jawabnya.


"Lho biasanya yang belanja bulanan kan kamu, Bi."


"Hari ini ibu ingin keluar katanya bosan di rumah makanya beliau yang belanja kebutuhan bulanan," terang ART nya.


"Sebaiknya kita tunggu saja sayang," usul Ruli.


Kristal membuatkan teh untuk suaminya. Sementara itu Lala membawa anak-anak ke kamarnya. "Wah kamarnya luas sekali," batin Lala ketika masuk ke dalam salah satu kamar di rumah orang tua Kristal.


"La tolong temani anak-anak ya. Aku mau ke bawah nunggu mama." Lala mengangguk paham.


Cukup lama Kristal menunggu ibunya tapi Mama Berlian baru sampai saat tengah hari. Dia pun terkejut ketika melihat anak dan menantunya berada di ruang tengah sedang mengobrol sambil menonton televisi.


"Kristal Ruli kapan kalian sampai di sini?" tanya Mama Berlian heran.


"Sudah dari tadi, Ma. Mama ke mana aja?" tanya Kristal.


"Mama habis belanja," jawab Mama Berlian.


Kristal berdiri lalu memeluk ibunya. "Happy mother's day, Ma," ucapnya sambil mendongak. Mama Belian merasa terharu. Ruli yang mengerti keadaan pun mengambil kue yang mereka beli.

__ADS_1


"Selamat hari ibu, Ma." Ruli juga memeluk ibu mertuanya itu.


__ADS_2