Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Musibah


__ADS_3

Maaf ya readersku kalau updatenya malam banget, soalnya sedang pekan ulangan jadi harus belajari anak dulu 🙏


Mari baca lagi jangan lupa subscribe biar tahu updatenya kapan 😘


Selamat membaca


...♥️♥️♥️...


Kristal berniat pergi ke toilet. Namun, dia melihat Brian menemui seseorang. "Aku seperti pernah melihat wanita itu?" Kristal memutar ingatannya kembali. "Ah, wanita yang ada di foto bersama suamiku waktu itu," gumam Kristal dengan lirih. Dia diam-diam menguping pembicaraan antara Brian dan wanita itu.


"Aku minta bayaranku sekarang!" Wanita itu menengadahkan tangannya pada Brian.


"Nanti akan kutransfer," jawab Brian.


"Tidak, aku mau dibayar kontan sekarang juga, atau aku akan..." wanita itu tak meneruskan kata-katanya tapi Brian tahu maksudnya.


Brian mencengkeram dagu wanita itu. "Jangan coba-coba mengancamku," ucapnya lirih. Namun, dengan penuh penekanan. Setelah itu dia membuang dagu wanita itu dengan kasar.


Perempuan itu ketakutan tapi dia tetap meminta uang pada Brian. "Kau sudah berjanji padaku apa aku salah menagih bayaran atas segala tindakan yang telah kulakukan atas perintahmu?"


"Berisik," bentak Brian seraya menampar pipi wanita itu. Kristal sangat terkejut ternyata Brian sangat kasar terhadap wanita.


"Kirimkan saja nomor rekeningmu ke ponselku." Perintah Brian pada wanita yang beberapa waktu lalu dibayar untuk pura-pura terjatuh di pelukan Ruli.


"Ingat, Brian. Aku tidak sekedar mengancam. Kalau sampai besok kamu belum mentransfer uang ke rekeningku, maka niat jahatmu untuk menghancurkan pemilik restoran itu akan aku bongkar."


Brian mengepalkan tangannya. Kristal menutup mulut tak percaya jika dalang dibalik rumor jelek tentang restoran Ruli adalah Brian. "Sebenarnya siapa kamu?" Gumam Kristal lirih. Setelah itu, wanita itu meninggalkan Brian.


"Dari mana Bu?" Tanya Rere.


"Kamu mencari saya?" Rere mengangguk. "Ada berkas yang mau saya serahkan, Bu." Kristal tidak fokus karena memperhatikan Brian.


"Re, nanti sepulang kerja saya mau naik taksi saja," kata Kristal pada bawahannya.


"Tapi, Bu. Nanti kalau pak Ruli tahu saya bisa diprotes," keluhnya.


"Nggak akan."

__ADS_1


Kristal mengikuti mobil Brian saat pulang kerja. Namun, dia menaiki taksi untuk mengikutinya. Kristal terkejut saat mobil Brian memasuki rumah tahanan.


Kristal turun setelah membayar uang kepada sopir taksi tersebut. Seingat dia, ada seorang yang ditahan di rutan tersebut. "Apa dia ada hubungannya dengan Vano?" Gumam Kristal.


Bria menemui kakaknya lagi. Kristal ragu untuk masuk, tapi dia berpikir untuk menunggu laki-laki itu di luar. Setelah Brian selesai menemui Vano dan pergi meninggalkan rutan, barulah Kristal masuk untuk bertanya pada petugas polisi yang ada di sana.


"Pak, saya boleh tahu siapa yang ditemui oleh laki-laki yang baru saja keluar tadi?"


"Anda siapanya? Saya harus memastikan kalau anda bukan komplotan *******?" tuduh polisi tersebut.


"Idih bapak, memang saya ada tampang *******? Yang bener aja dong Pak," protes Kristal tak terima.


Tak mau berdebat dengan wanita cantik di depannya, polisi tersebut akhirnya memberi tahu. "Dia menemui tahanan bernama Vano. Apa urusan anda bertanya?"


"Saya curiga padanya kalau sepupu saya itu menyelundupkan barang terlarang, Pak," ucap Kristal asal.


"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Kristal.


"Sekarang aku sudah tahu, kalau kamu sebenarnya punya niat jahat Brian," gumam Kristal.


"Aku pergi ke suatu tempat," jawab Kristal.


"Ke mana?" tanya Ruli. Dia benar-benar khawatir pada istrinya.


"Aku tidak bisa cerita sekarang, Mas." Kristal berniat menceritakan pada Ruli jika kecurogaanmy sudah terbukti.


"Jangan membuatku khawatir sayang. Ceritakan semua yang kamu lakukan padaku hari ini." Ruli memeluk Kristal dari belakang. Dia juga sempat mengecup pundak Kristal.


"Aku geli, Mas."


Ruli mengangkat Kristal dalam gendongannya. "Turunkan aku Mas." Kristal memukul dada bidang suaminya. Ruli terkekeh, dia tak menghiraukan protes dari istrinya.


Keesokan harinya, Kristal sengaja menemui Brian. "Bisa bicara sebentar?" kata Kristal. Brian tak curiga sama sekali. Dia mengekori atasannya itu.


Kristal membawa Brian di sebuah ruangan dekat tangga darurat. "Kenapa membawaku ke sini?"


"Jujur saja, ada hubungan apa kamu dengan Vano?" tanya Kristal to the point.

__ADS_1


Brian menarik ujung bibirnya. "Apa kamu mengikuti aku kemaren?" tebak Brian. Dia melangkah maju dan terpaksa membuat Kristal mundur hingga punggungnya membentur dinding. Tangan Brian langsung mengunci Kristal.


"Brian, jangan kurang ajar kamu!" Bentak Kristal.


"Berteriaklah sayang. Bukankah kamu yang mengajakku ke sini?" Tangannya hendak menyentuh pipi Kristal tapi segera ditepis oleh wanita itu.


Kristal menendang bagian inti Brian hingga laki-laki itu mengerang kesakitan. "Kamu pikir aku ini wanita lemah yang tidak bisa melawanmu?" Ucap Kristal dengan penuh percaya diri.


Brian mengerang kesakitan hingga dia berjongkok memegang bagian intinya. Namun, saat Kristal akan melangkahkan kakinya pergi, Brian memegang kaki Kristal. Seketika Kristal langsung terjatuh. Naas wanita hamil itu malah terjatuh dari tangga hingga berguling ke bawah.


Waktu itu seorang karyawannya tak sengaja lewat dan menemukan Kristal tergolek tak berdaya. "Tolong, tolong," teriaknya.


Rere melihat yang kerumunan segera mendekat. Dia sangat terkejut ketika atasannya itu terbaring dengan darah yang keluar dari bagian kakinya. Rere panik dan berjongkok mengangkat kepala Kristal.


"Jangan diam saja! Cepat panggil ambulan!" Perintahnya.


Alex dan Agung yang visit rutin ke hotel cabangnya ikut mendekat. Mereka membelah kerumunan. Alex sangat kaget melihat adiknya tak terbaring di lantai. "Kristal," panggil Alex dengan berteriak. Tak mendapat respon, Alex langsung memerintahkan Agung untuk menyiapkan mobil. Sementara itu dia mengendong adiknya yang sedang pingsan.


Alex masuk ke dalam mobil bersama adiknya. "Bertahanlah Kristal, Abang mohon." Alex tak pernah sepanik ini. Dia begitu khawatir apalagi mengingat Kristal sedang hamil muda. Dia tidak peduli meski jas mahalnya itu terkena darah adiknya. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah keselamatan Kristal.


"Gung, cepat sedikit," perintahnya pada asisten pribadinya. Agung tak menanggapi. Dia tahu Alex sedang kacau. Agung juga sakit melihat gadis yang biasanya kuat itu kini tak bergerak sedikitpun.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah sakit, kini mobil mereka telah berada di depan ruang UGD. Alex cepat-cepat membawa Kristal turun. Para perawat langsung menangani Kristal.


Tak lama kemudian Ruli sampai di rumah sakit. Rere langsung menghubungi suami atasannya itu ketika Alex membawanya. "Bang, bagaimana keadaan Kristal dan bayinya?" Ruli terlihat kacau mendengar istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


Alex memegang kedua pundak adik iparnya itu. "Tenanglah, kita tunggu di luar. Biarkan dokter mengobati dia." Alex berusaha memenangkan Ruli. Dia tahu Ruli sangat mengkhawatirkan istrinya.


Tak lama kemudian dokter yang menangani keluar. "Bagaimana, Dok?" tanya Ruli.


"Kami akan melakukan kuretase karena pasien mengalami keguguran." Ucapan dokter itu seketika membuat Ruli hampir saja kehilangan keseimbangan.


Air matanya tumpah tak tertahan lagi. "Jadi istri saya harus kehilangan anaknya?"


Mampir ya ke novel teman aku ini


__ADS_1


__ADS_2