
Hallo
Aku ingetin lagi ya buat tebar bunga sama kopinya. Kalau ada yang masih menyimpan vote othor siap menampung 😍
♥️♥️♥️
"Ibu Kristal silakan masuk!" Panggil perawat yang bertugas di poli kandungan tersebut. Ruli dan Kristal masuk secara bersama-sama.
"Selamat pagi, silakan duduk," ucap dokter kandungan bernama David tersebut.
Ruli tidak pernah menyangka dokter obgyn yang akan memeriksa istrinya masih sangat muda. Bisa diperkirakan kalau mereka seumuran. Ruli tiba-tiba merasa gelisah, ingin keluar tapi tidak mungkin karena sama saja dia tidak beretika.
"Sudah pernah periksa sebelumnya?" tanya Dokter David. Dia bertanya sambil tersenyum manis pada istrinya. Suaranya begitu merdu membuat Ruli merasa gerah. Sebagai laki-laki normal tentu saja dia merasa cemburu jika melihat laki-laki lain tersenyum pada istrinya. Tapi dia mencoba menahan diri karena laki-laki tampan di hadapannya itu adalah seorang dokter yang akan memeriksa istrinya.
"Belum pernah, Dok. Ini pertama kalinya saya periksa ke dokter," jawab Kristal dengan jujur.
"Apakah anda sudah mengetahui usia kandungan?" Kristal menggeleng.
"Kalau begitu mari saya periksa dulu." Dokter David berdiri dan meminta asistennya menyiapkan alat untuk USG.
Ruli berdehem setelah dokter menyuruh istrinya berbaring di atas brankar. Dia merasa tidak suka. Dokter David yang menyadari kecemburuan Ruli mengajak serta laki-laki itu agar mendekat ke arah istrinya.
"Anda bisa melihat kalau mau," ucap Dokter David. Ruli pun mendekat. Dia sangat antusias ketika dokter tersebut mulai menerangkan tentang kehamilan istrinya.
"Kenapa kecil sekali?" tanya Ruli yang tak paham soal kehamilan.
"Usia kandungannya sekitar enam minggu jadi masih belum kelihatan," terang David.
"Apa sudah bisa diketahui jenis kelaminnya?" Dokter David mengulas senyum tipis saat Ruli banyak bertanya. Itu artinya laki-laki itu sudah tidak cemburu lagi pada dirinya.
Setelah itu Dokter David meresepkan vitamin yang harus dikonsumsi Kristal selama hamil. "Kembali sebulan lagi ya," pesan Dokter David pada pasangan suami istri tersebut.
Ruli kembali berpikiran negatif. "Haih, sebulan lagi dia menyentuh perut istriku," batinnya menahan geram.
"Terima kasih banyak, Dok," ucap Kristal sebelum pergi. Keduanya keluar dari ruangan dokter itu.
Kristal menyadari wajah suaminya yang masam. "Kamu kenapa sih Mas, dari tadi aku lihat wajahnya ditekuk melulu?"
__ADS_1
Ruli tersenyum dengan terpaksa di depan Kristal. "Masa sih sayang? Maaf," jawabnya agar dia tidak ketahuan. Pastilah malu jika ketahuan cemburu pada seorang dokter.
"Mas, ayo kita ke rumah mama," ajak Kristal. Dia ingin memberi tahu kabar gembira ini pada ibunya.
"Ayo, kita ke sana. Aku sudah lama tidak mengunjungi orang tuamu," balas Ruli.
Ketika di perjalanan menuju ke rumah orang tua Kristal, Ruli hampir saja menabrak pengendara sepeda motor yang mengendarai motornya dengan ugal-ugalan. Dia mengerem mobilnya secara mendadak. "Aw," teriak Kristal saat kepalanya terbentur dashboard mobil.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Ruli yang cemas. Kristal menggeleng.
"Maaf, aku kurang hati-hati," ucapnya sedikit menyesal karena hampir saja membuat istrinya celaka.
"Tidak , Mas. Bukan salah kamu, tapi salah pengendara motor itu."
"Aku akan lebih hati-hati supaya kamu dan anak kita baik-baik saja." Ruli mengelus kepala istrinya dengan lembut. Kristal mengangguk setuju.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Kristal turun dari mobil dengan terburu-buru.
"Sayang, jangan lari!" Ruli sangat khawatir karena istrinya itu tidak bisa bersikap lembut apalagi dia sedang hamil. Ruli sangat was-was melihat kelakuan Kristal.
"Mama," teriak Kristal memanggil ibunya.
"Lho kakak ada di sini?" tanya Kristal yang melihat kakak iparnya sedang berdiri di hadapannya.
"Tadi pagi Mas Alex mengantarkan aku ke sini karena aku bosan berada di rumah," jawabnya.
"Apa kabar, Kak?" Sapa Ruli pada Sandra.
Sandra tersenyum. "Baik," jawabnya singkat. Berbeda dengan Kristal, pembawaan Sandra begitu tenang.
"Mama di mana, Kak?"
"Ada apa sayang?" Sahut sang ibu.
"Ma, aku punya kabar gembira," ucap Kristal. Senyum lebar tak pernah surut dari wajahnya.
"Apa kamu..." Berlian tak meneruskan kata-katanya. Dia berharap Kristal sedang hamil seperti bayangannya. Kristal mengangguk.
__ADS_1
Berlian dan Sandra ikut bahagia mendengarnya. Berlian langsung memeluk anaknya erat. "Alhamdulillah ya sayang, kamu cepat diberi momongan." Lalu mengurai pelukannya. "Jaga baik-baik kandungan kamu. Kurangi tingkahmu yang pecicilan itu," pesan Berlian pada putrinya.
Kristal mendongak. "Iya, mamaku sayang. Sekarang aku ingin makan masakan mama. Aku lapar." Kristal mengusap-usap perutnya.
"Ayo makan ajak suamimu juga."
Setelah lama berada di rumah ibunya, Kristal dan Ruli pamit pulang. "Tidak bisakah kalian menginap saja?" Pinta Berlian yang tak rela berpisah dengan anaknya.
"Lain kali saja, Ma. Besok aku harus kembali bekerja," kata Kristal.
"Ingat ya Kristal jaga kandungan kamu. Trimester awal itu rawan sekali. Jadi jangan ceroboh." Lalu Berlian beralih menatap menantunya. "Titip anak dan cucu mama ya Ruli," ucap Berlian dengan lembut.
Ruli mengangguk. "Jangan khawatir, Ma. Aku akan menjaga mereka dengan baik," jawab Ruli sambil memeluk istrinya dari samping.
"Baiklah, kami pamit." Pasangan suami-istri itu melambaikan tangan pada Sandra dan Berlian.
Baru saja mobil Ruli keluar dari halaman, kini mobil Jaden memasuki halaman. Ruli membunyikan klakson untuk menyapa ayah mertuanya.
"Ma, itu Kristal dan Ruli kan?" tanya Jaden memastikan saat dia sudah turun dari mobil.
"Iya, Pa. Tadi mereka main ke sini cukup lama," jawab Berlian seraya mengambil tas kerja suaminya.
Jaden mengendorkan dasi yang dia pakai. "Kenapa mereka ke sini, Ma?"
Berlian tersenyum sebelum menjawab. "Kristal hamil," jawab Berlian secara to the point.
Jaden sangat terkejut sekaligus senang. "Benarkah?" Berlian mengangguk. Matanya mengembun. Dia tidak menyangka kalau putrinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Gadis kecil yang dulu dia gendong ke mana-mana kini akan memiliki anak.
"Papa ingin menemuinya, Ma. Papa sangat bahagia dengan kabar kehamilan Kristal," rengeknya pada sang istri.
"Iya, Pa. Besok kita ke sana. Sekarang lebih baik papa mandi dulu. Aku akan siapkan air hangat untukmu."
Di tempat lain, Kristal mampir ke warung makan pinggir jalan. Ruli awalnya keberatan karena dia menilai makanan yang dijual di pinggir jalan tidak higienis menurutnya. Tapi Kristal memaksa untuk membeli makanan di pinggir jalan itu dengan alasan ngidam. Mau tak mau Ruli menuruti kemauan dirinya.
Wajah Ruli terlihat aneh saat mengamati sekeliling penjual itu. Wajahnya pucat pasi seakan ingin muntah. Kristal tak menghiraukan suaminya. Dia hanya fokus pada martabak yang sedang dipesannya itu.
...♥️♥️♥️...
__ADS_1
Yuk mampir dulu ke novel yang satu ini jangan lupa subscribe ya