
Usai dari kantor polisi, Alex mengantarkan adiknya pulang. Disusul mobil Kristal yang dikendarai oleh bodyguard Alex.
"Makasih Bang udah dianter sampai rumah. Abang pulangnya hati-hati ya," pesan Kristal setelah turun.
Alex mengangguk. "Sudah sana masuk istirahat. Besok jangan telat kerja," ucapnya dengan ketus. Kristal mencebik kesal.
"Hish, kerja mulu kerja mulu. Aku jadi nggak bisa hubungin ayang kan, Hua...." Kristal pura-pura menangis. Tengah malam begini Ruli pastilah sudah tertidur. Kristal tidak mau mengganggu waktu istirahatnya.
Kristal berjalan gontai memasuki rumah. "Kristal kamu dari mana saja?" tegur Jaden yang memakai piyama tidur.
"Malam, Pa." Gadis itu tidak menjawab malah memberikan ucapan perpisahan. Badannya sudah remuk karena berkelahi tadi. Tenaganya habis dan ingin segera diisi dengan beristirahat di kamarnya.
Jaden mencekal tangan Kristal. "Jangan abaikan papa. Jawab dulu kamu dari mana? Kamu habis clubbing ya?" tuduh Jaden. Kristal menghela nafas. Tak lama kemudian Berlian mendekat setelah mendengar suara keributan.
"Bukan, Pa. Aku habis lembur. Bang Alex memberikan tugas segunung padaku," jawab Kristal.
"Papa tidak percaya. Kalau memang benar Alex memberimu banyak pekerjaan kenapa tidak dikerjakan di rumah saja?"
Akhirnya Kristal memilih jujur dari pada waktunya terbuang untuk berdebat dengan ayahnya. "Sebenarnya aku habis dari kantor polisi, Pa. Jadi di perjalanan pulang ketika aku lembur hari ini, aku dihadang oleh beberapa orang penjahat yang mencoba memerasku. Akhirnya aku berkelahi dibantu oleh Mas Agung. Kami berhasil mengalahkan mereka tapi sayangnya Mas Agung terluka."
Berlian terkejut mendengar cerita anaknya. "Bagaimana denganmu? Apa ada yang terluka?" Berlian mengecek seluruh bagian tubuh Kristal.
"Tidak, Ma. Hanya Mas Agung yang lengannya tergores pisau. Tapi Bang Andi dan Bang Amar telah membawanya ke rumah sakit. Sedangkan aku pulang diantar oleh Bang Alex tadi," terang Kristal panjang lebar menjelaskan kronologi kejadian yang dia alami.
"Maafkan papa sudah curiga padamu. Sekarang beristirahatlah." Kristal mengangguk lalu menaiki tangga.
Di tempat lain, Sandra mendengar kedatangan mobil Alex. Dia pun menengok ke jendela kamarnya. Dia bisa melihat sang suami sedang memarkirkan mobil di halaman rumahnya.
Sandra antusias menyambut suaminya pulang hingga dia kurang hati-hati ketika berjalan. Kaki Sandra kesrimpet saat menuruni tangga hingga dia harus terguling dari tangga.
Alex yang baru masuk ke dalam rumah terkejut ketika melihat istrinya tergeletak persis di bawah tangga. "Sandra," teriak Alex. Dia panik dan bingung melihat sang istri pingsan.
Alex segera menggendong Sandra masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia membangunkan asisten rumah tangganya agar menemani Zavier tidur di kamar. "Tolong jaga anakku, istriku jatuh jadi aku harus membawanya ke rumah sakit," pesannya pada asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Baik, tuan."
Alex kembali ke dalam mobil lalu menyalakan mesin dan melaju dengan kencang. "Aku mohon bertahanlah sayang," ucapnya lirih. Sudut matanya menetes. Alex takut terjadi apa-apa pada istri dan bayi yang dikandung di dalam perutnya saat ini.
Sesampainya di rumah sakit, Alex segera menggendong Sandra dan memanggil perawat. "Tolong istri saya, dia jatuh dari tangga. Saat ini dia sedang hamil," ucap Alex pada salah seorang perawat.
Alex mengusap wajahnya dengan kasar. Tapi dia harus bisa menguasai dirinya. Setelah itu, Alex menghubungi orang tuanya. "Hallo, Pa. Sandra masuk rumah sakit karena jatuh, Pa," adunya.
"Apa? Lalu apa kamu mengajak Zavier?" tanya Jaden.
"Tidak, aku meninggalkannya di rumah bersama asisten rumah tanggaku," jawab Alex.
"Baiklah, papa akan segera menyusul ke sana. Lalu papa akan memberi tahu mama untuk menemani anakmu."
"Terima kasih, Pa."
Berlian bangun saat mendengar suaminya sedang mengangkat telepon. "Dari siapa, Pa? Kenapa jam segini telepon?" Berlian melihat jam dindingnya, waktu menunjukkan pukul satu pagi.
Jaden menyibak selimutnya lalu bangun. "Sandra masuk rumah sakit, Ma. Mama siap-siap. Pergilah untuk menemani cucu kita di rumah. Aku akan menyusul Alex ke rumah sakit sekarang." Berlian mengangguk paham.
Jaden dan istrinya mengendarai mobil yang berbeda. Jaden menuju ke rumah sakit dengan mengendarai mobil seorang diri sedangkan sang istri meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah Alex. Dia harus menemani cucunya. Berlian tidak mau Zavier menangis saat tidak menemukan orang tuanya ketika bangun besok pagi.
Tak butuh waktu lama Jaden sampai di rumah sakit. Dia melompat dan berjalan dengan langkah cepat mencari keberadaan anaknya. "Papa," panggil Alex dari kejauhan. Jaden berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Jaden pada Alex.
"Dia sedang ditangani," jawabnya.
Sesaat kemudian seorang dokter wanita keluar dari ruang UGD. "Apa anda keluarga pasien?" tanya sang dokter.
"Benar, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" Alex menunggu jawaban yang keluar dari mulut dokter itu. Dia berharap tidak ada hal buruk yang menimpa istrinya.
"Alhamdulillah bayi yang ada di dalam kandungan istri anda selamat. Akan tetapi kaki istri anda mengalami retak hingga harus menjalani operasi. Tolong urus dulu di bagian administrasi untuk mendapatkan surat persetujuan."
__ADS_1
"Baik, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya." Dokter itu mengangguk paham.
"Biar papa saja yang mengurusnya. Kamu tunggu sini," cegah Jaden. Dia tahu kondisi Alex sedang kacau. Jadi dia memilih untuk mengurus segala keperluan yang dibutuhkan pihak rumah sakit agar segera mengambil tindakan pada menantunya itu.
Di tempat lain, Berlian telah sampai di rumah Alex. Dia mengecek kamar cucunya.
"Anda di sini, nyonya?" tanya asisten rumah tangga Alex.
"Iya, aku sudah dengar tentang Sandra. Biarkan aku yang menemani cucuku tidur di sini. Kamu boleh beristirahat kembali. Tolong persiapkan saja baju-baju Alex dan Sandra. Kami bisa membawanya besok ke rumah sakit." Asisten itu mengangguk paham dengan perintah majikannya.
Keesokan harinya, Kristal merasa aneh ketika orang tuanya tidak ada. "Papa mama ke mana Bi?" tanya Kristal pada asisten rumah tangganya.
"Semalam mereka pergi tapi saya tidak tahu ke mana, Non." Kristal merasa curiga padahal semalam ayah ibunya itu sempat berbincang dengannya. Lalu mereka pergi jam berapa, pertanyaan itu terus berputar-putar di kepal Kristal.
Sesaat kemudian handphonenya bergetar. Kristal mengangkat telepon dari abangnya. "Pagi, Bang. Aku baru mau berangkat kerja nih."
"Kristal mulai saat ini kamu yang mimpin perusahaan sementara."
Kristal menyemburkan susu yang dia minum. "Maksudnya apa, Bang?"
"Sandra masuk rumah sakit tadi malam. Aku tidak bisa fokus bekerja untuk sementara waktu sebaiknya kamu saja yang handle perusahaan sementara waktu."
Alex memutuskan telepon secara sepihak. "Bang, Abang..." Teriak Kristal dengan frustasi. Dia bingung jika disuruh memimpin perusahaan. Apalagi Agung, asisten pribadi Alex juga sedang sakit.
"Aaa... Aku bisa gila."
*
*
*
Hari ini aku crazy up ya jadi jangan lupa subscribe supaya kalian bisa dapat notifikasi updateku.
__ADS_1
Sambil menunggu aku up lagi kalian bisa baca novel temanku ya