
Hari ini Kristal main ke rumah Ruli untuk belajar memasak bersama calon mertuanya. "Jadi hari ini kita mau masak apa, Ma?" Kristal sudah membiasakan diri untuk memanggil Lira dengan sebutan mama.
"Mama mau ajarin kamu masak yang mudah dulu. Bagaimana kalau kita masak nasi goreng spesial kesukaan Ruli," usul Lira.
"Wah boleh, Ma. Aku pengen bisa masakin makanan kesukaan suamiku nantinya," jawab Kristal bersemangat.
"Kenapa nggak minta ajarin mama kamu sayang?" tanya Lira. Dia ingin tahu kenapa Kristal lebih memilih dirinya ketimbang orang tuanya sendiri.
"Aku memang sengaja pengen main ke sini. Ngumpul bareng kalian," ucapnya sambil tersenyum.
"Kalau gitu kamu potong bawang bisa kan?" tanya Lira.
Lalu Kristal mengambil bawang merah di tempat bumbu. "Ma, aku boleh tanya?"
"Iya, ngomong aja."
"Papanya Mas Ruli ke mana?" Pertanyaan tersebut membuat Lira terkejut. Tiba-tiba tangannya bergetar saat memotong wortel hingga tak sengaja terkena pisau.
Lira meringis kesakitan ketika tangannya berdarah. "Mama tidak apa-apa?" Kristal panik melihat darah yang ada di tangan calon ibu mertuanya.
"Ah, apa kamu sudah selesai memotong bawangnya?" Lira mengalihkan pembicaraan. Ruli tak sengaja mendengar percakapan kedua wanita beda generasi tersebut. Lalu dia pun ikut bergabung dengan keduanya di dapur.
"Sebaiknya mama obati luka mama terlebih dahulu." Lira menurut perkataan anaknya.
"Maafkan aku," kata Kristal yang merasa bersalah karena membuat Lira terluka.
"Kenapa minta maaf? Mama terluka bukan karena kamu. Dia hanya kurang hati-hati."
"Lalu bagaimana ini? Aku tidak bisa memasak, bagaimana melanjutkannya?" tanya Kristal bingung.
"Aku bisa mengajarimu memasak."
"Benarkah?" tanya Kristal yang tidak percaya.
"Tentu saja, tapi aku lebih pandai dalam hal lain." Ruli mengangkat tubuh Kristal ke atas meja dapur.
__ADS_1
"Hei, apa yang kamu lakukan Mas? Turunkan ...!"
Ruli mencium bibir Kristal secara tiba-tiba. Kristal terperanjat kaget. Ruli mencium tanpa aba-aba lebih dulu. Namun, Kristal menikmatinya hingga entah sejak kapan tangannya telah melingkar di bagian leher Ruli.
Sayangnya ciuman itu tak berlangsung lama karena mereka melakukannya di tempat yang salah. "Ehem, kalian ini, belum juga matang masakannya sudah incip duluan," sindir Lira yang melihat kelakuan mereka.
Kristal cepat-cepat turun dari meja. Dia merasa malu karena terpergok ciuman dengan tunangannya di dapur. Sedangkan Ruli hanya terkekeh menanggapi omongan mamanya. "Ma, yang ini lebih enak tahu." Ruli menunjuk bibir Kristal. Gadis itu melotot tak percaya saat Ruli terang-terangan mengatakannya pada sang mama.
"Hish kamu ini nggak sabaran Ruli. Ingat kamu harus jaga kehormatan Kristal sesuai pesan ayahnya," tegur Lira pada putranya.
"Iya mamaku sayang. Aku tahu kok. Aku janji tidak akan macam-macam sama Kristal kecuali aku khilaf," gurau Ruli. Lira memukul lengan anaknya itu.
"Awas ya kalau macam-macam sama Kristal. Mama sunat milik kamu nanti," ancam mamanya hingga membuat Kristal tertawa terpingkal-pingkal.
Ruli tak terima Kristal menertawakan dirinya. Kemudian Ruli mengejar dan menggelitikinya. "Ampun, ampun Mas."
Lalu seseorang menekan bel rumah Ruli. Lira pun membukakan pintu. Wanita itu mematung di tempatnya ketika melihat tamu yang datang. Ruli penasaran siapa yang bertamu sehingga Ruli melihatnya sendiri. Laki-laki itu mengepalkan tangan ketika melihat sang ayah berdiri di depan pintu.
"Pak Heru," panggil Kristal yang mengenal laki-laki itu. "Ada keperluan apa ke sini?" Beberapa waktu lalu mereka sepakat bekerja sama untuk memajukan perusahaan. Heru menarik ujung bibirnya.
Ya, begitu keras Heru memukul Ruli yang saat itu berusia belasan tahun dengan stick golf hingga dirinya dinyatakan koma selama beberapa minggu. Saat itu Lira pontang-panting mencari uang untuk biaya pengobatan anaknya yang tidak sedikit. Bahkan Lira menjual beberapa aset kekayaan mereka yang tersisa setelah Heru pergi begitu saja.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini Mas," usir Lira. Luka di hatinya sulit untuk disembuhkan. Ingatan tentang Ruli yang pernah dipukulinya hingga babak belur membuat tubuh Lira bergetar.
"Aku merindukan kalian," kata Heru tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Ingin sekali Ruli menghajar ayahnya. Tapi dia berusaha menahan diri di depan Kristal. "Sayang, bisakah kamu naik ke atas? Tunggu di kamar Amara." Kristal tak tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan laki-laki bernama Heru itu. Tapi Kristal menurut pada perintah Ruli.
Kristal naik ke lantai atas dengan rasa penasarannya. Dia akan bertanya nanti pada Ruli jika kondisi sudah kondusif.
"Pergi dari sini!" Usir Ruli dengan nada rendah tapi penuh dengan penekanan. Dia takut laki-laki itu akan menyakiti anggota keluarganya lagi.
"Apa kau tidak merindukan ayahmu ini?" tanya Heru.
"Ayahku sudah lama mati," jawab Ruli. Heru mengepalkan tangan menahan amarah. Dia tak terima dianggap mati oleh anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Sebaiknya jaga omongan kamu itu. Apa kamu tidak pernah diajari oleh ibumu ini tentang sopan santun?" Cibir Heru.
"Tahu apa kamu tentang mendidik anak? Bahkan anak sekarat pun kamu tidak peduli," sindir Lira yang merasa geram telah diremehkan oleh laki-laki yang tidak jelas status hubungan dengannya saat ini.
"Ingat kita belum bercerai."
"Tapi menurut agamaku kita sudah bercerai. Kamu telah meninggalkan aku selama bertahun-tahun tanpa menafkahiku. Itu sudah termasuk syarat perpisahan. Aku akan ajukan surat resmi melalui pengacara besok kalau kamu mau."
Heru berusaha menahan diri. "Baik, mungkin aku akan memberikan waktu padamu untuk berpikir. Aku tidak ingin berpisah darimu jadi jangan berharap kita bisa bercerai," bisik Heru di telinga Lira. Lira memejamkan matanya. Dadanya begitu sesak mendengar ucapan laki-laki yang pernah menjadi bagian hidupnya itu.
Setelah itu Heru pergi meninggalkan rumah Ruli. "Kenapa dia harus kembali di kehidupan kita yang sudah tenang ini?" Ucap Lira di tengah tangisannya.
Ruli memeluk sang ibu. "Aku tidak akan biarkan dia mengusik kehidupan kita lagi Ma. Jangan khawatir aku akan selalu melindungi kalian."
Kemudian Ruli mengajak ibunya ke dalam kamar. Setelah itu barulah dia menemui tunangannya di kamar Amara. "Mas, ada apa sebenarnya?" tanya Kristal ketika Ruli masuk ke dalam kamar itu.
"Maaf, selama ini aku tidak pernah menceritakan soal ayahku."
"Jadi dia adalah ayahmu?" tanya Kristal memastikan. Ruli mengangguk.
"Apa kalian berselisih paham?" Kristal menunggu Ruli agar bercerita lebih detail tentang ayahnya. Lalu Ruli berkata jujur pada Kristal. Dia menceritakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya di masa lalu.
Kristal sangat terkejut ternyata Heru melakukan perbuatan yang tak terduga. "Aku tidak menyangka dia orang yang sejahat itu. Aku akan batalkan kerja sama dengannya."
Setelah berdiskusi dengan Alex, Kristal tidak bisa membatalkan kerja sama yang telah disepakati dengan Heru. "Kamu tidak bisa membatalkan kontrak itu secara sepihak. Kamu bisa dituntut Kristal. Denda yang diajukan di kontrak kalian akan membuat perusahaanku hancur."
Kristal merasa frustasi mendengar ucapan abangnya. Dia tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah karena perusahaan tersebut milik abangnya. Dia tidak mau merugikan anggota keluarganya.
"Mungkin papa punya solusi."
...♥️♥️♥️...
Jangan lupa dukungannya ya. Like dan komen serta rate bintang lima 😘
Sambil nunggu lagi mampir dulu ke novel yang satu ini
__ADS_1