
Amara tak sengaja mendengar perdebatan Ruli dan ibunya. Awalnya dia keberatan dengan sikap mamanya yang pacaran diam-diam dengan Rama. Tapi setelah itunya menjelaskan keinginannya Amara jadi tidak tega.
"Panggil dia ke sini, Ma. Minta dia untuk melamar mama," seru Amara. Dia paham akan perasaan ibunya. Menjadi single parent selama bertahun-tahun untuk merawat dua anaknya tidaklah mudah. Jika dengan menikah lagi ibunya akan menjadi bahagia, Amara ingin mewujudkan keinginan orang tuanya itu. Amara hanya ingin berbakti pada ibunya.
Berbeda dengan Amara, Ruli malah bingung dengan omongan adiknya. "Bagaimana mungkin laki-laki yang baru dikenal oleh mama bisa diminta datang untuk melamar?" Ruli merasa keberatan.
Amara mendekati kakaknya. Dia tahu berat untuk Ruli melepaskan mama. "Kak Ruli tidak mau kan mama merasa kesepian?" tanya Amara. "Apa kakak tidak ingin melihat mama bahagia?"
Hati Ruli melembut. "Tentu saja aku ingin tapi aku hanya tidak rela jika mama menikah dengan laki-laki sembarangan. Bukankah kesannya buru-buru?"
"Mama sudah tidak muda lagi, Kak. Apa pantas pacaran lama-lama seperti anak ABG kebanyakan? Kak Ruli jangan khawatir. Jika nanti mama disia-siakan oleh suaminya, aku rela menerima mama kembali. Aku yang akan merawat mama sampai akhir hayatnya."
"Aku pun akan melakukan hal yang sama," sahut Ruli.
Mama Lira terharu mendengar omongan anak-anaknya. Dia pun berjalan mendekat kemudian memeluk Ruli dan Amara. "Terima kasih banyak." Mama Lira mencium anaknya secara bergantian. Kristal yang melihat mereka bertiga berpelukan juga merasa terharu.
"Baiklah, Ma. Minta pria itu datang ke rumah kita secara resmi," perintah Ruli.
"Besok mama akan menemuinya," balas Mama Lira. Mama Lira pun mengirim pesan singkat pada Rama untuk bertemu di restoran milik Ruli.
Keesokan harinya Mama Lira ditemani Ruli tengah menunggu kedatangan Rama. "Kenapa kamu ikut mama duduk di sini?" tanya Mama Lira heran.
"Aku juga ingin meminta maaf karena telah memukul wajahnya kemaren," jawab Ruli.
Mama Lira manggut-manggut. "Semoga saja dia mau memaafkan kamu," ucapnya penuh harap.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Rama memasuki restoran. Ruli berdiri untuk menyambut kedatangan laki-laki yang usianya jauh dia atasnya itu.
"Selamat datang," ucap Ruli sambil mengulurkan tangan. Namun, Rama tidak menyambut uluran tangan dari Ruli. Dia tampak tak peduli. Rama duduk begitu saja tanpa berbasa-basi. Bisa disimpulkan kalau laki-laki itu masih menyimpan rasa dendam pada Ruli setelah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari suami Kristal itu.
Ruli menarik kembali tangannya. Lira segera memulai obrolan untuk memecah kecanggungan.
"Mas bagaimana kabarmu hari ini? Apa wajahmu masih sakit?" tanya Lira berbasa-basi.
Rama menarik ujung bibirnya. "Sudah tidak terlalu sakit," jawabnya dengan nada datar.
"Saya meminta maaf atas perlakuan saya terhadap anda kemaren," kata Ruli. Jujur dia sangat gugup ketika menyampaikan permintaan maafnya pada Rama. Dia takut karena perbuatannya, laki-laki itu malah memutuskan hubungan dengan ibunya. Ruli tidak tega jika melihat sang ibu bersedih karena menangisi laki-laki yang dia cintai.
"Sudahlah, lagi pula salahku juga karena aku mengajak ibumu keluar tanpa sepengetahuan darimu. Aku paham jika kamu mengkhawatirkan ibumu. Kamu pasti berpikir untuk melindungi ibumu dari laki-laki yang sembarangan mendekatinya."
Ada perasaan lega ketika Ruli dan mama Lira mendengar tanggapan Rama. Dia telah memaafkan perbuatan Ruli. Kalau diingat-ingat mungkin Ruli salah paham karena tangan Rama tengah memegang pipi ibunya kemaren.
"Jadi kamu mengundangku hanya untuk menyampaikan permintaan maaf saja?" tanya Rama lebih lanjut.
"Tidak, Pak. Saya ingin anda melamar ibu saya jika anda benar-benar serius menjalin hubungan dengannya. Namun, jika anda hanya berniat mempermainkan perasaan ibu saya, maka sebaiknya jauhi ibu saya. Jangan membuatnya mencintai anda semakin dalam. Karena hal itu akan membuat lukanya makin sulit disembuhkan jika mengalami patah hati." Ruli menyampaikan apa yang harus dia sampaikan dengan tegas. Sebagai anak dia bertanggung jawab atas kehidupan ibunya. Termasuk melindungi ibunya seperti melindungi nyawanya sendiri.
Mama Lira menunggu jawaban dari Rama. Dia masih setia jadi pendengar yang baik ketika Ruli dan Rama berbicara serius. Rama merasa diremehkan. "Apa aku ada tampang penipu?" Rama meminta Ruli untuk berpikir.
Ruli tersenyum tipis. "Saya belum lama mengenal anda jadi saya tidak tahu bagaimana kepribadian anda, Pak. Namun, saya percaya kalau pilihan ibu saya tidak jatuh pada seorang penipu. Syaa harap anda juga tidak berniat untuk menipu siapapun."
Rama tertawa renyah. "Aku akui kamu memang anak yang berbakti pada oran tuamu. Kamu begitu posesif tapi aku rasa itu memang seharusnya kamu lakukan untuk melindungi ibumu. Namun, untuk kedepannya biar aku yang mengambil alih tugasmu dalam menjaga Lira. Aku akan menjaganya sampai akhir hayatku. Aku berharap kamu berjodoh hingga maut memisahkan."
__ADS_1
Mama Lira terharu mendengar ucapan Rama. Dia menahan air mata bahagianya agar tidak tumpah. Sudah dapat dipastikan kalau Rama akan melamar dirinya dalam waktu dekat. Dia tidak menyangka akan memiliki suami kedua. Mama Lira berharap pernikahan keduanya nanti akan mendatangkan banyak kebahagiaan di sisa hidupnya.
Sedangkan Ruli, dia sebenarnya bingung harus bahagia atau sedih. Bahagia karena sang ibu juga bahagia, ataukah sedih karena dia harus hidup terpisah dengan ibunya. Tapi dia harus mengesampingkan rasa egoisnya dan lebih mementingkan perasaan ibunya.
Bukankah tingkatan tertinggi dalam mencintai seseorang itu jika membiarkannya hidup bahagia bersama orang yang dia cintai?
"Aku akan persiapkan lamarannya besok." Rama memberi tahu. Ruli mengangguk paham. Setelah pertemuan itu selesai Rama pamit pulang.
"Sampai ketemu besok," pamit Rama sambil berjabat tangan dengan Ruli. Ruli membalas uluran tangan tersebut dengan ikhlas.
Usai kepergian Rama, Ruli ingin mengatakan ibunya pulang akan tetapi Mama Lira menolaknya. "Tidak usah repot-repot sayang. Kembalilah bekerja seperti biasa. Mama bisa pulang naik taksi," ucapnya dengan lembut.
Ruli nampak keberatan tapi Mama Lira segera memberi penjelasan. "Mama janji akan langsung pulang." Mama Lira memegang tangan Ruli. "Mama akan mengabari kamu jika mama sudah sampai di rumah nanti." Wanita itu tersenyum pada putranya.
"Baiklah, Ma. Aku akan menunggu kabar dari mama. Hati-hati pulangnya." Ruli meraih tangan ibunya untuk dikecup.
Mama Lira berjalan ke arah taksi yang telah dipesan. Lalu dia melambaikan tangan. Tak lupa senyum merekah tetap ditunjukkan.
Sayangnya, ketika dalam perjalan pulang, taksi yang ditumpangi Mama Lira ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang dari arah yang berlawanan. Taksi itu terseret lumayan jauh.
Bagaimana nasib Mama Lira? Siapa yang menabraknya? Apa itu disengaja?
Tunggu kisah selanjutnya ya, jangan lupa kasih vote buat yang masih nyimpan. Kembang atau kopi yang masih punya poin. Dukungan kalian sangat berarti.
...♥️♥️♥️...
__ADS_1
Sambil nunggu mampir ke sini dulu ya