
Kristal meminum susu yang dibuat suaminya dengan ragu. Selama ini dia tidak menyukai semua jenis susu.
"Ehmm... Enak banget, Mas." Kristal menikmati segelas susu hangat rasa coklat itu. Dia bahkan menghabiskan susu yang dibuat oleh suaminya tersebut. Ruli merasa senang karena istrinya itu menyukai susu coklat buatannya.
"Hari ini mau makan apa?" tanya Ruli. Dia menyangga dagu di depan istrinya. Sedangkan Kristal mengetuk-ngetuk dagunya dengan satu jari untuk berpikir.
"Nasi goreng spesial tapi nggak pakai bawang ya," request Kristal. Ruli mengacungkan jempolnya. Setelah itu Ruli mengajak istrinya turun. Dia pun memakai apron kemudian mengambil telur dan bahan-bahan lainnya. Kristal mengamati suaminya memasak. Ruli layaknya seorang chef profesional yang mahir dalam meracik makanan.
Dia menggunakan bumbu instan nasi goreng karena Kristal tidak mau nasinya dicampur bawang. "Mas, kamu jago masak ya kayaknya," kata Kristal. Ruli hanya tersenyum. Dia belum tahu kalau Ruli pernah ikut sekolah masak. Kecintaannya pada masakan diwujudkan dengan mendirikan restoran.
Kristal sudah tidak sabar menunggu makanan jadi. "Sabar ya Dek. Sebentar lagi kita makan masakan papa," seru Kristal pada bayi yang ada di dalam perutnya.
Setelah jadi, Ruli menghidangkan makanan pada istrinya. Mama Lira ikut bergabung. "Wah sudah lama kamu tidak masak."
Kristal menoleh pada mama mertuanya. "Memangnya suamiku bisa masak, Ma?" tanya Kristal penasaran.
"Bisa dong. Dia kan pernah sekolah masak dulu," ungkap Mama Lira.
"Wah, kamu banyak rahasia ya Mas. Kalau begitu masakkan aku tiap hari," pinta sang istri pada Ruli.
"Siap tuan putri."
"Aku coba ya." Kristal mulai menyendok nasi goreng buatan suaminya.
"Emm, enak banget Ma. Cobain deh!" Kristal menyendokkan nasi goreng itu ke mulut ibu mertuanya. "Iya, enak sekali. Masakan mama saja kalah."
"Oh ya, Amara belum pulang, Ma?" tanya Kristal yang tidak melihat adik iparnya itu. Biasanya dia akan ikut sarapan bersama.
"Dia menginap di luar kota. Katanya pulang besok," jawab mama Lira.
"Sayang apa hari ini kamu masuk kerja?" tanya Ruli. Kristal mengangguk. "Iya, kasian Rere kalau aku tinggal terus. Nanti Mas Ruli antar aku sampai ke hotel." Ruli mengangguk setuju.
"Ya sudah kamu naik ke atas buat siap-siap dulu, Ma."
Sementara itu di rumah orang tua Kristal, Mama Berlian sedang memasangkan dasi pada suaminya. "Kemaren putri kita ke sini lho pa sama suaminya." Mama Berlian memberi tahu. "Tapi papa pulangnya malam banget."
"Iya, ada lembur di kantor. Maklum mau akhir tahun Ma."
__ADS_1
"Papa tahu nggak?"
"Nggak tahu, Ma," sela Jaden. Mama Berlian menjadi kesal. "Papa ini pagi-pagi bikin Mama kesel." Jaden tersenyum.
Cup
Jaden memberikan istrinya sebuah ciuman di bibir. Meskipun mereka sudah punya dua cucu pasangan itu masih tetap mesra. Wajah mama Berlian jadi merah merona.
"Hish papa ini cucu sudah dua dan sebentar lagi mau nambah masih genit saja," cibir sang istri. Jaden mencerna omongan istrinya.
"Mau nambah? Sandra hamil lagi?"
"Bukan Sandra tapi Kristal." Wajah Jaden langsung berbinar. "Kristal hamil lagi?" Mama Berlian mengangguk.
"Papa seneng banget, Ma. Papa mau ucapin selamat ke dia. Kira-kira dia ngidam apa ya? Kenapa mama nggak bilang dari semalam?" Cecar Jaden.
"Kumat deh," umpat Berlian.
Jaden pun berencana menyambangi Kristal di hotel yang dia kelola. Kebetulan ketika dia baru sampai, anak dan menantunya itu juga baru memarkirkan mobilnya. Dia pun cepat-cepat menghampiri Kristal.
"Kristal," panggil Jaden.
Setelah mengurai pelukannya Jaden baru menjelaskan kedatangannya. "Kamu kenapa tidak memberi tahu papa kalau kamu sedang hamil?" Ruli dan Kristal bernafas lega. Mereka kira ada kesalahan yang tak mereka sadari.
"Papa kemaren belum pulang."
"Kenapa kamu nggak cuti saja." Jaden menjadi berbeda saat berada di depan orang-orang yang dia sayangi.
"Kristal hanya hamil Pa. Bukan sakit."
Ruli menyela karena dia harus ke restorannya. "Maaf Pa. Aku mau ke restoran dulu. Aku sudah terlambat." Jaden mengangguk. Ruli membiarkan ayah dan anak itu.
"Hati-hati, Mas." Kristal melambaikan tangan pada suaminya. Ruli membunyikan klakson saat mobilnya mulai melaju.
Jaden pun mengajak masuk ke dalam. "Sebaiknya kamu istirahat saja. Bukankah kamu punya asisten? Mana dia?"
"Sebentar pa akan kupanggil." Kristal pun mengangkat gagang telepon lalu menghubungi Rere agar ke ruangannya. Tak lama kemudian Rere datang.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Mulai besok Kristal akan kerja dari rumah. Jadi bawa saja berkas yang perlu dia tanda tangani. Kamu handle pekerjaannya selama dia cuti," perintah Jaden pada Rere.
"Cuti?"
"Iya, saya tidak mau kejadian yang dulu sampai terulang. Jadi saya mau dia kerja dari rumah agar dia dan bayinya tidak kecapekan. Saya akan naikkan gaji kamu dua kali lipat."
Rere baru menyadari kalau atasannya hamil lagi. Rere mengangguk cepat. Selain dia senang mendengar kabar Kristal hamil lagi, dia juga beruntung karena bos besar di perusahaannya menaikkan gajinya.
"Yes, akhirnya mobil impianku akan segera kumiliki," batin Rere senang. Dia sudah lama mengincar mobil SUV terbaru.
"Baik, Pak. Perintah dilaksanakan."
"Ya sudah papa harus ke hotelnya Alex. Papa akan mengecek pekerjaan Agung. Papa rasa papa perlu menambah pekerjaannya agar dia juga naik gaji."
Kristal menahan tawa. Sedangkan Rere meluruhkan bahu. Jika pacarnya itu kerja lembur maka mereka tidak akan bisa bertemu dalam waktu dekat.
"Tidak apa-apa Re, demi masa depan kamu dan Mas Agung."
Setelah memberikan perintah Jaden keluar dari ruangan Kristal. Rere merasa iri karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah sejak kecil. Hanya Leo lah satu-satunya anggota keluarganya yang masih hidup. Tak terasa air mata Rere menetes tapi cepat-cepat dia menghapusnya.
Kristal menyadari tatapan Rere. "Kenapa menangis?" tanya Kristal dengan lembut.
"Saya hanya terharu melihat kedekatan Ibu dan papanya. Saya belum pernah mendapatkan ciuman dari ayah saya," ungkapnya.
Kristal merasa kasihan. Tidak banyak yang diketahui dari kehidupan Rere yang jelas dia tahu kalau asisten pribadinya itu sudah jadi yatim piatu sejak kecil. "Jangan bersedih kamu masih punya kakakmu yang menyayangi kamu sampai sekarang." Rere mengangguk setuju.
"Oh, ya. Sudah jalan berapa minggu, Bu?"
"Baru lima mingguan."
Dan Rere menelan ludahnya susah payah. Dia membayangkan harus kerja lembur sampai atasannya itu selesai melahirkan. "Gue bakalan jadi jomblo akut kalau kaya gini," batin Rere ingin menjerit.
***
Yang udah mampir baca jangan lupa tinggalkan jejak ya. Buktikan kalau kalian tidak kasat mata 🤣🤣🤣
__ADS_1
Aku punya rekomendasi Novel nih mampir ya, subscribe supaya dapat pemberitahuan updatenya.