Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Ekspektasi tak seindah realita


__ADS_3

"Sayang, apa perut kamu muat buat nampung makanan lagi? Bukankah dari rumah mama tadi sudah makan?" tanya Ruli keheranan.


"Sebenernya udah nggak muat, tapi mulutku ini pengen ngemil terus," jawab Kristal sambil mengerucutkan bibir. Dia juga tidak paham kenapa kehamilannya ini membuat naf*su makannya bertambah.


"Mas, kamu keberatan karena takut aku jadi gendut ya?" tanya Kristal dengan wajah sendu.


"Ya ampun sayang bukan begitu. Aku hanya tidak ingin perutmu itu sakit karena kekenyangan." Ruli berharap tidak ada kata-katanya yang salah dalam menjawab pertanyaan istrinya. Dia sempat membaca kalau mood ibu hamil bisa berubah-ubah karena dipengaruhi hormon estrogen dan progesteron yang meningkat secara siginifikan sehingga mempengaruhi suasana hati.


"Oh, kirain," ucapnya dengan menampilkan deretan gigi putihnya. Menyebalkan sekali bukan, tadi saja terlihat mewek sekarang tiba-tiba ceria. Ruli hanya menggelengkan kepalanya.


Kristal menenteng sekotak martabak manis yang dibelinya tadi. "Amara, kakak beli buat kamu." Kristal memberikan martabak yang dia beli untuk adik iparnya. Kristal membeli hanya untuk mencium baunya saja.


"Wah, kakakku yang cantik ini baik sekali. Malam-malam gini emang enakan nyemil," ucapnya.


"Kalian sudah pulang?" tanya mama Lira.


"Iya, Ma."


"Kamu pegang apa itu Amara?"


"Martabak dari Kak Kristal, Ma," jawab Amara.


Sementara itu, di tempat lain Brian mengamati foto-foto yang diambil oleh orang suruhannya. "Sepertinya wanita itu sedang berbadan dua," gumamnya lirih.


Brian menatap foto kedua orang tuanya yang telah meninggal. "Aku pasti akan mengeluarkan kakak dari penjara."


Sejak umur belasan tahun dia sudah ditinggalkan oleh orang tuanya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Vano merawat adiknya itu dengan baik. Dia menghidupi adiknya tapi terkadang cara yang diambilnya salah. Sudah sering Vano menipu banyak wanita seperti apa yang pernah dia lakukan pada Kristal hanya untuk memenuhi kebutuhannya.


Brian memang selalu dijamin kehidupannya oleh sang kakak, maka dari itu dia mengira kakaknya bekerja keras untuknya. Dia tidak tahu kelakuan buruk Vano di luar sana. Brian tentu merasa berhutang budi pada orang yang telah merawat dirinya.


Brian tidak mencari tahu lebih lanjut sebab kakaknya dipenjara. Sewaktu dia mendengar Vano masuk ke dalam bui, tidak ada yang dia ingat selain orang-orang yang terlibat. Vano memberi tahu kalau Kristal dan kekasihnyalah yang menjebloskan dia ke dalam penjara. Alasannya tentu tidak dikatakan oleh Vano dengan jujur. Dia meracuni pikiran adiknya dengan mengatakan kalau dia mengetahui perselingkuhan Kristal dan Ruli.

__ADS_1


Alih-alih membalas dendam Brian terpesona pada pandangan pertama pada Kristal. Meskipun dia tahu kalau wanita itu telah menikah dengan Ruli. Harapannya saat ini bukan hanya dendam tapi dia terobsesi pada Kristal.


"Aku hanya perlu membuatmu jatuh ke pelukanku lalu aku akan membuangmu," gumam Brian.


Akan tetapi sepertinya ekspektasi tak seindah realita. Brian kesulitan mendekati Kristal. Bahkan wanita itu sering kali menolak kebaikannya.


"Apa anda mau kopi? Saya baru saja membelinya dari kafe depan," kata Brian seraya menyodorkan segelas cup capuccino.


"Terima kasih, Brian. Tapi saya tidak minum kopi," tolak Kristal pada bawahannya itu.


"Apa yang anda sukai? Saya bisa membelikannya." Brian masih berusaha mengambil perhatian Kristal. Namun, Kristal bukan wanita yang mudah luluh dengan rayuan laki-laki selain suaminya.


"Tidak, terima kasih. Rere sudah memenuhi kebutuhanku." Kali ini Brian harus mundur.


Brian masuk ke dalam toilet. Dia meraup mukanya kesal karena tidak bisa mengambil hati Kristal. "Aarrgh, kenapa sih dia sok jual mahal," gerutunya.


Merasa tidak dihargai Brian pun merencanakan hal buruk pada Kristal. Dia ingat misinya untuk balas dendam setelah wanita itu menjebloskan kakaknya ke dalam penjara.


Di restoran Ruli saat ini tidak banyak pengunjung setelah rumor tentang restorannya yang kurang higienis. Ruli berkeliling untuk menyapa para pengunjung. Dia mencoba beramah tamah agar restoran miliknya itu kembali memiliki kesan baik di mata konsumen.


Ketika dia berdiri, seorang wanita tak sengaja terjatuh di depannya hingga mengenai badan Ruli. Momen itu diabadikan oleh sebuah ponsel yang tengah mengamati Ruli sejak tadi.


Lalu pesan gambar itu diteruskan pada orang yang membayarnya. Penerima pesan yang tak lain adalah Brian itu tersenyum puas. Kemudian dia meneruskan gambar yang dia terima ke nomor Kristal. Dia berharap hubungannya dengan sang suami menjadi berantakan setelah melihat gambar tersebut.


Kristal yang sedang memegang handphone terkejut mendapatkan pesan gambar dari nomor yang tidak diketahui namanya.


Kristal tentu saja cemburu melihat tangan suaminya dalam foto tersebut memegang tangan perempuan lain. Dia me*rem*as jarinya sendiri saking kesalnya. Tiba-tiba perutnya jadi sedikit kram ketika sedang marah.


"Bu anda baik-buruk saja?" tanya Rere yang khawatir melihat atasannya itu seperti menahan sakit sambil memegangi perutnya.


"Tidak apa-apa Re. Aku hanya kram perut," jawab Kristal.

__ADS_1


"Apa yang anda butuhkan? Apa perlu saya antar ke dokter?" Kristal menggeleng. "Tidak usah, nanti juga sembuh. Bisakah nanti kamu mengantarku pulang? Aku tidak ingin naik mobil suamiku," pinta Kristal. Tentu saja Rere menuruti perintahnya.


Kristal sedikit kecewa melihat suaminya bersama wanita lain. Moodnya yang naik turun menjadikan Kristal cemburu hanya dengan melihat pesan dari orang asing itu.


Pada saat waktunya pulang, Ruli menjemput istrinya. Akan tetapi Kristal mengabaikan kedatangan Ruli. "Sayang, ayo kita pulang," ajak Ruli dengan lembut.


"Aku pulang bareng Rere saja," tolaknya. Ruli merasa curiga pada istrinya. "Kenapa tidak mau pulang bersamaku? Aku sudah jauh-jauh datang kemari untuk menjemputmu," protes Ruli.


Kristal memicingkan matanya. "Menyesal sudah menjemputku? Ya sudah mulai besok aku akan bawa mobil sendiri." Kristal membuang mukanya.


Ruli mencoba menahan diri agar tidak terpancing amarahnya. Dia memaklumi jika istrinya itu sedang dalam pengaruh hormon yang tidak bisa dia kontrol.


Ruli meraih tangan istrinya. "Sayang, apa aku punya salah hingga kamu ngambek begini?" Ruli mencoba bersabar agar Kristal luluh.


Benar saja, istrinya itu langsung memperlihatkan foto yang ada di handphonenya. "Jelaskan ini padaku!"


"Foto ini memang benar." Ruli belum selesai menjelaskan tapi Kristal sudah menyelanya.


"Jadi kamu mengakui kesalahan kamu, Mas?" Tuduh Kristal. Dadanya terasa sesak hingga nafasnya memburu.


"Bukan, Yang. Dia hanya seorang pengunjung restoran yang tak sengaja terjatuh di depanku. Percayalah!" Mohon Ruli.


Kristal mencoba berpikir kembali. Apa ada seseorang yang mencoba mengadu domba dirinya dengan sang suami?


"Baiklah, kali ini aku percaya. Tapi sekali lagi aku lihat ada yang kirim gambar seperti ini akan aku datangi kamu dan aku akan minta..."


Ruli menutup mulut istrinya dengan satu jari. Dia tak mau mendengar Kristal mengucapkan doa yang jelek. "Mau minta cium?"


Wajah Kristal merona saat mendengar rayuan suaminya. Tak mau menunda lagi, Ruli mencium bibir Kristal sekilas. "Apa itu cukup?" tanya Ruli dengan lembut. Melawan kekerasan dengan kelembutan adalah cara yang efektif untuk meluluhkan hati istrinya.


"Kurang," jawab Kristal bernada manja.

__ADS_1


"Ayo lakukan di rumah," goda Ruli. Kristal pun menurut saja saat suaminya menarik tangannya.


__ADS_2