
Kehidupan yang dijalani Gilang makin sulit setelah dia berpisah dengan Meilani. "Bagaimana kabarmu sekarang?" gumam Gilang seraya membayangkan wajah cantik yang pernah singgah di hatinya itu.
Di kampung halamannya, Meilani melanjutkan hidup dengan bekerja membantu sang ibu jualan di pasar. Tapi pagi ini dia tiba-tiba merasa pusing.
"Nak, wajahmu terlihat pucat. Apa tidak sebaiknya kamu istirahat di rumah?" Perintah sang ibu pada Meilani.
"Aku bosan jika sendirian di rumah, Bu. Sebaiknya aku bantu ibu jualan saja. Lagi pula aku hanya pusing sedikit."
"Tapi kamu janji ya kalau pusingnya makin parah sebaiknya kamu pulang." Meilani mengangguk patuh.
Mereka berangkat ke pasar menggunakan motor. Meilani yang membonceng ibunya. Ketika di jalan kepala Meilani makin pusing. Dia pun berhenti agar tidak membahayakan ibunya.
"Sebaiknya kita mampir ke puskesmas, kamu perlu periksa ke dokter. Lihat bibirmu begitu pucat." Meilani menurut pada saran ibunya. Dia ingin mendapatkan obat yang bisa meringankan sakit kepalanya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ibunya Meilani.
"Anak ibu ini tidak sakit Bu melainkan sedang hamil." Meilani maupun ibunya tak kuasa menahan tangis. Bukan tangis bahagia melainkan tangis kesedihan.
Meilani bahkan tidak tahu kepada siapa dia harus meminta pertanggung jawaban. "Aku tidak mau hamil anak ini, Bu." Meilani memukuli perutnya secara berkali-kali.
Sang ibu menahan tangannya agar dia tidak menyakiti janin yang ada di dalam perutnya. "Jangan sakiti dia, Nak. Bagaimana pun dia tidak salah." Ibu Meilani menangis tersedu-sedu.
Dokter tidak tahu kenapa pasiennya malah menangis di hadapannya. Biasanya orang akan senang jika mendapatkan kabar tenang hamil. Tapi dokter itu tidak melihat dari wajah Meilani maupun ibunya.
"Maaf, ada pasien lainnya yang menunggu," usir dokter itu secara halus.
Ibu Meilani membawa anaknya keluar. Dia menuntun Meilani sampai keluar dari puskesmas tersebut. "Nak, ayo pulang!" ajak sang ibu. Meilani mengangguk patuh.
Sepanjang jalan Meilani hanya terdiam. Dia memikirkan bagaimana ke depannya. Apakah dia harus membesarkan anaknya seorang diri tanpa status pernikahan? Sungguh tega sekali laki-laki yang telah merenggut kesuciannya itu.
"Ayo, Nak. Masuklah! Kamu perlu banyak istirahat."
"Lho kalian tidak jadi ke pasar?" tanya sang ayah yang baru pulang dari sawah.
__ADS_1
"Meilani masuklah ke kamar, jangan lupa minum obatnya." Lalu ibunya mengajak sang suami bicara empat mata.
"Ada apa, Bu?"
"Meilani hamil, Pak," ucap wanita bernama Dian itu. Ayah Meilani terkejut. "Apa dia hamil anak...." Ayahnya menggantung kalimatnya. Bu Dian mengangguk.
"Bu, kita bantu Meilani merawat anaknya. Meski tidak ada yang mau menikahi dia saat ini tidak masalah. Kita masih punya tenaga untuk merawat cucu kita nantinya."
Kini usia kandungan Meilani menginjak lima bulan tapi perutnya tidak membesar sama sekali. "Nak, sudah lama kamu tidak periksa ke dokter. Ibu ada uang yang bisa kamu gunakan untuk periksa ke dokter." Ibu Meilani prihatin melihat kondisi kehamilan putrinya itu.
Di usia kurang lebih lima bulan seharusnya perut Meilani membesar. Tapi tidak ada perubahan sama sekali pada tubuh Meilani. Dia bahkan bertambah kurus. Sang ibu menjadi cemas.
Sang ibu menyodorkan sejumlah uang pada Meilani tapi gadis itu menolak. "Jangan Bu. Aku tidak mau merepotkan ibu."
"Nak, ibu merasa aneh karena perutmu tidak membesar."
"Baik, Bu." Meilani sebenarnya malas tapi dia ingin membuat ibunya tidak cemas lagi.
Meilani ke dokter kandungan bersama sang ayah. Ibunya menyarankan agar dia melakukan USG. Ketika di rumah tunggu, Meilani merasa orang-orang membicarakan dirinya. Mereka mengira sang ayah adalah suaminya.
"Jangan dengarkan orang-orang itu," ayah Meilani memberikan dukungan pada anaknya.
"Bu Meilani," panggil suster yang bertugas.
Meilani pun berjalan sendiri ke ruang praktek dokter tersebut. Sementara ayahnya menunggu di luar. Jujur saja ayahnya malu melihat perut anaknya dibuka lebar.
"Selamat datang, Bu. Silakan duduk!" sapa dokter kandungan itu dengan ramah.
"Apa ada keluhan?" tanyanya menggali informasi tentang kondisi janin di dalam perut Meilani.
"Tidak ada Dok."
"Mari berbaring di sini," ajak suster yang menjadi asisten dokter kandungan itu. Meilani pun mengangguk patuh.
__ADS_1
Dokter mulai memeriksa kondisi kehamilan Meilani. "Ukuran bayinya terlalu kecil, Bu. Hanya 400gr."
"Apa yang menyebabkan berat badannya kurang, Dok?" tanya Meilani.
"Apa anda terlalu stress? Ingat Bu. Bayi bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dia bis merasakan makana manis yang kita makan. Dia ikut menangis jika kita sedang menangis. Dia ikut bahagia jika kita terus tersenyum."
Meilani merenungi omongan dokter tersebut. "Apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Kurangi stress jangan terlalu banyak pikiran. Jika anda terus menerus bersedih atau kebanyakan pikiran kemungkinan bayi anda tidak akan keluar dengan keadaan hidup." Dokter menyampaikan prediksinya.
Di tempat lain Gilang lebih banyak mengisi waktunya untuk keluyuran dan mabuk-mabukan. Ayah Gilang telah sering memarahi tapi Gilang tak mengindahkan omongan ayahnya.
Gilang sengaja membiarkan rambut halus tumbuh di sekitar mulutnya. Dia tidak peduli dengan penampilannya saat ini. Gilang terus memikirkan Meilani. Bahkan dia tidak bisa tidur karena setiap kali memejamkan mata dia melihat bayangan Meilani.
"Aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu sekarang?" gumam Meilani.
Ruli dimintai bantuan oleh ayah Gilang untuk menasehati sepupunya itu. "Tolong buat dia agar tidak minum-minum lagi."
"Saya akan berusaha, Om," jawab Ruli. Meskipun belum yakin tapi dia akan membantu Gilang untuk melepas alkohol sementara waktu.
"Hai, Bro."
Ruli berjalan mendekat ke arah Gilang. "Eh apa kabar, Bro? Maaf gue belum bisa balik kerja. Gue masih sakit, sakit ati, Bro," racau Gilang yang setengah mabuk.
"Ayolah Gilang ini bukan kebiasaan kamu."
"Ini kebiasaan baruku, Bro," jawab Gilang yang terdengar frustasi.
Ruli merasa kesal pada Gilang. Dia pun menarik kerah Gilang dan membawanya ke kamar mandi. Di dalam sana dia mengguyur kepala Ruli secara paksa. "Elo kalau nggak diginiin nggak akan sadar."
"Elo Gila!" Sentak Gilang yang marah. Dia berusaha memberontak tapi dia kalah dengan Ruli.
"Sadar Gilang, kamu pikir dengan mabuk-mabukan maka Meilani akan menerima kamu?"
__ADS_1
"Apa maksud kamu?"
Kira-kira apa yang akan diomongkan Ruli agar Gilang sadar?