Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Mengembalikan Siena


__ADS_3

Saat ini Kristal sedang berada di ruang televisi untuk menonton acara kesukaannya. Ruli pun ikut duduk di sampingnya. Kristal menyandarkan kepalanya di bahu Ruli.


"Mas, apa tidak sebaiknya Siena dikembalikan pada orang tua kandungnya?" Ruli menatap tajam ke arah Kristal. "Apa kamu keberatan jika Siena tinggal bersama kita?" tanya Ruli


"Tidak, Mas. Maksud aku, dia lebih berhak tinggal bersama orang tuanya. Aku tahu kamu menyayangi Siena tapi aku tidak mau kamu sampai berselisih dengan orang tuanya. Bukankah itu akan membuat Siena sedih?"


Ruli memikirkan omongan istrinya. "Tapi Siena sendiri yang minta tinggal bersamaku."


"Kita bisa membujuknya pelan-pelan bukankah dia anak yang penurut?"


Ruli mengangguk setuju. "Aku akan coba."


Ruli sebenernya tidak rela Siena kembali pada Grace tapi apa yang dikatakan Kristal itu benar. Dia tidak mau memiliki musuh apalagi yang akan menjadi musuhnya adalah ibu dari anak yang dia cintai. Maka dari itu, Ruli berusaha membujuk Siena agar mau kembali pada ibunya.


"Tapi aku menyayangi mama Kristal," tolak Siena yang diminta Ruli kembali pada ibu kandungnya.


"Mama Grace dan papa Hans juga menyayangi Siena. Kamu bisa main ke sini jika sedang libur sekolah. Menginap pun boleh. Papa dan mama akan bawa kamu berkeliling taman bermain." Ruli harap kali ini dia bisa meyakinkan Siena.


"Siena mau. Siena mau tinggal bersama mama Grace. Tapi bilang sama mama agar memperbolehkan aku main ke sini." Ruli menyanggupi syarat yang diminta oleh Siena.


Keesokan harinya Siena berpamitan dengan seisi rumah. "Oma Siena pulang."


"Iya sayang. Jangan lupa telepon Oma jika kamu rindu dengan Oma."


"Onty Siena mau pulang nih, onty mau kasih apa?" Amara merasa keponakannya itu sangat menggemaskan.


"Onty punya cokelat tapi jangan kamu makan sekaligus." Amara memberikan 2 coklat batang besar pada Siena.


"Mama." Siena menangis saat memeluk Kristal. Kristal tak lagi menggunakan kursi roda hanya saja kakinya masih diperban. Jika berjalan dia lebih suka menggunakan tongkat.


"Jangan menangis anak baik. Mama tahu kamu sangat menyayangi mama. Tapi mama Grace lebih sayang pada Siena. Bagaimana pun dia adalah orang yang melahirkan kamu. Jadi kamu jangan jadi anak durhaka. Siena ingat dongeng Malin kundang yang mama ceritakan kemaren?" Siena mengangguk.

__ADS_1


"Mama yakin Siena bisa jadi anak yang penurut. Kamu bisa telepon atau video call jika rindu dengan kami." Siena mengangguk mengerti.


"Ayo sayang. Kita masuk ke dalam mobil," ajak Ruli.


Gadis kecil itu melambaikan tangan. Hatinya sedih tapi dia akan jadi anak yang penurut seperti pesan Kristal. "Aku tidak akan kecewain mama," gumam Siena di dalam mobil.


Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan mereka sampai di depan rumah Hans. Saat itu, mereka melihat Hans dan Grace hendak masuk ke dalam mobil. Lalu Ruli segera turun dan menghampiri mereka.


Siena melihat Ruli sedang bicara serius pada Grace dana Hans. "Aku akan kembalikan Siena. Tapi jangan sekali-kali menyakiti dia. Atau aku Kana mengambil Siena dari kalian," ancam Ruli.


Grace langsung datang menjemput putrinya. Siena datang ke pelukan Grace dengan ragu. "Terima kasih sayang telah kembali pada kami. Mama janji akan lebih membahagiakan kamu." Anak kecil berusia lima tahun itu mengangguk patuh.


Grace memilih kembali pada Hans dan memutuskan untuk membatalkan gugatan cerainya setelah dia tidak punya pilihan lain. Keinginannya untuk kembali pada Ruli sirna sudah. Dia ditolak mentah-mentah oleh kelurga Ruli.


Lalu Grace kembali pada Hans. Dia memaafkan semua kesalahannya dengan syarat mau mengambil kembali anaknya.


Ruli sedih harus berpisah dari anak kecil itu. Dia berharap suatu hari nanti dia bisa bertemu lagi dengannya. Ruli melambaikan tangan pada Siena. Air mata Ruli sempat menetes tapi segera disekanya dengan kasar. "Ini semua untuk kebaikan Siena. Aku tidak boleh egois." Dia meyakinkan dirinya sendiri agar lebih kuat.


"Antar aku beli sepatu baru, Mas."


"Tentu saja sayang. Belilah sebanyak yang kamu mau," jawab Ruli.


Kristal terlalu senang setelah kakinya sembuh. Dia sudah lama tidak mengenakan high heels. Jadi hari ini dia membeli banyak sepatu untuk dirinya.


Keesokan harinya Kristal sudah kembali bekerja. "Selamat datang kembali, Bu," sambut Rere dengan suka cita. Dia memberikan sebuah buket bunga mawar pada atasannya itu.


"Terima kasih banyak Re. Saya merasa de Javu."


Setelah itu Kristal masuk ke ruangannya. Tanpa dia duga dekorasi ruangannya menjadi berubah. "Re, ke sini sebentar."


Rere datang mendekat. "Siapa yang mengubah dekorasi ruangan ini?" tanya Kristal. Rere menjadi gugup dia mengira atasannya itu tidak menyukainya.

__ADS_1


"Ini semua ide saya, Bu. Apa ibu tidak suka. Saya rasa perlu ada suasa...."


"Saya sangat menyukainya," sela Kristal. Dia puas melihat dekorasi yang diubah oleh Rere.


"Terima kasih banyak Re." Rere tersanjung saat Kristal mengucapkan terima kasih padanya.


"Sebagai hadiahnya ini buat kamu." Kristal memberikan sebuah paper bag berisi sepatu yang dia beli kemaren.


Rere sangat menyukai sepatu warna hitam yang Kristal belikan. "Cantik sekali, Bu. Terima kasih." Rere merasa terharu dengan kebaikan Kristal.


"Sama-sama."


Sementara itu Ruli kembali sibuk di restorannya. Namun, siang itu dia kedatangan tamu istimewa. "Ada apa Bang?" Ruli menjadi gugup. Terakhir kali Alex mendatanginya karena dia marah dan langsung memukul wajahnya. Kalau ini apa lagi?


"Aku ingin kamu mengatur acara di rumahku lusa. Aku akan merayakan akikah anak keduaku," ucap Alex dengan wajah datar.


Ruli tersenyum. "Baik, Bang. Aku akan memerintahkan anak buahku untuk mengatur cateringnya. Jadi apa saja menu yang ingin Abang kesan?"


Ruli mengajak Alex untuk berdiskusi. Dia pun mempersilakan Alex masuk ke dalam ruangannya. Baru kali ini Ruli berbicara sedekat ini dengan kakak iparnya itu.


Sesampainya di rumah Ruli memberi tahu pada Kristal kalau abangnya akan mengadakan syukuran untuk anak keduanya. "Oh ya? Aku belum dikabari oleh mama."


"Apa yang akan kamu berikan sebagai hadiah untuk keponakan barumu?" tanya Ruli.


"Bagaimana kalau kita cari bersama besok?" Usul Kristal.


"Sayang apa kamu tidak merindukan aku?" Goda Ruli.


"Tentu saja aku rindu dengan sentuhanmu. Bagaimana kalau mulai membuat anak?"


Ruli tersenyum lebar. "Aku menunggu kata-kata itu keluar dari mulutmu." Ruli menggendong istrinya ke dalam kamar. Setelah itu dia menutup pintu. Sudah dipastikan mereka akan menghabiskan malam dengan percintaan panas.

__ADS_1


__ADS_2