Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Meilani kena musibah


__ADS_3

Meilani sedih ketika mendapatkan kabar ibu mertua sahabatnya meninggal dunia. Itu artinya, keluarga besar Gilang sedang dalam masa berkabung. Padahal pernikahan mereka tinggal empat hari lagi.


Meilani sudah membayangkan konsep pernikahan mewah yang dijanjikan oleh Gilang. Kini harapan tinggal harapan, dia tidak bisa menyalahkan keadaan jika dia harus menikah dengan cara sederhana. Tidak mungkin keluarga Gilang merayakan pesta sementara adik dari ayahnya belum genap tujuh hari sejak meninggalkan dunia ini.


Gilang memegang tangan Meilani. "Sayang, maafkan aku sepertinya pesat pernikahan kita nanti tidak akan diadakan dengan meriah."


Meilani tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, mas. Aku mengerti jika keluargamu sedang berduka. Mana mungkin kita mengadakan pesta sedangkan anggota keluarga yang lain sedang bersedih?"


Gilang terharu dengan pemikiran calon istrinya. "Terima kasih banyak kamu mau mengerti. Walaupun acara pernikahan kita nantinya hanya akad nikah dan syukuran kecil-kecilan tapi aku janji akan mengadakan pesta yang besar setelah melewati masa berkabung nanti."


Meilani tersenyum senang. Dia memeluk Gilang saking senangnya. "Terima kasih banyak, Mas." Gilang mengecup kening Meilani dengan sayang.


Setelah itu, Gilang mengantarkan Meilani ke stasiun. "Apa kamu yakin tidak mau kuantar sampai ke rumah pakai mobil?" tanya Gilang. Meilani menggeleng.


"Sudah malam, Mas. Besok kamu harus kembali bekerja. Lagipula kampung halamanku sangat jauh, kamu akan kelelahan nantinya," tolak Meilani. Dia tidak mau Gilang sakit menjelang hari pernikahan mereka.


"Baiklah, kabari jika sudah sampai," pesan Gilang pada Meilani sebelum pergi.


Hari ini mereka sengaja bertemu untuk terakhir kalinya menjelang pernikahan. Meilani akan pulang ke kampung halamannya. Mereka akan menikah di kampung halaman Meilani.


"Hati-hati di jalan, sayang," pesan Gilang pada calon istrinya. Meilani mengangguk.


"Sampai ketemu saat acara pernikahan kita nanti," pamit Meilani sambil melambaikan tangan ke arah Gilang. Gilang tersenyum dan melepas kepergian Meilani.


Ketika berada di dalam kursi kereta api, Meilani dipepet oleh seorang laki-laki. Meilani nampa curiga tapi dia masih menemukan dompetnya aman. Kemudian kecurigaannya pun hilang.


Penumpang di dalam gerbong kereta yang dia tumpangi tidak begitu banyak. "Bu, bisa titip tas saya, dulu. Saya mau ke toilet," ucapnya pada seorang ibu-ibu yang duduk bersama anaknya.


Meilani pun berlalu ke toilet yang ada di dalam kereta tersebut. Siapa sangka laki-laki yang sejak tadi menguntit dirinya membekap mulut Meilani dengan sapu tangan yang diberi obat bius. Gadis itu pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


Kemudian laki-laki asing itu membawa Meilani masuk ke dalam toilet tersebut. Di dalam sana dia mulai melucuti pakaian Meilani. Lalu dia menggagahi Meilani yang sedang tak sadarkan diri.


Tidak ada seorang pun yang mengetahui aksi be*jat laki-laki itu. Keperawanan Meilani harus direnggut oleh orang yang tidak dikenal. Padahal beberapa hari lagi dia akan menikah dengan Gilang.


Setelah puas melakukan aksinya, laki-laki asing itu menaikkan resleting celananya. Dia pun merapikan kembali pakaian yang dia kenakan. Sedangkan Meilani dibiarkan begitu saja di dalam toilet.


Ibu-ibu yang dititipi tas oleh Meilani curiga ketika gadis yang duduk di depannya tadi tidak kunjung kembali. Lalu dia membuka isi tas yang dititipkan padanya. "Rupanya hanya pakaian saja. Namun, kenapa dia tidak kembali? Apa dia sakit perut.


Karena penasaran ibu-ibu itu menyusul Meilani ke toilet. Ketika dia membuka pintu betapa terkejutnya dia melihat gadis yang dia jumpai dalam keadaan kacau. Pakaiannya robek dan dia tak sadarkan diri.


"Tolong, tolong," teriak ibu-ibu itu memanggil bantuan.


Meilani dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit setempat. Polisi memberi tahu pada keluarganya jika Meilani mengalami kekerasan seksual di dalam kereta.


Keluarganya begitu terpukul mendapati anak bungsu mereka mengalami musibah yang dapat merusak masa depannya.


"Bapak tidak tahu, Bu. Tapi kita harus memberi tahu kabar Meilani pada Gilang," ucap ayah Meilani.


Keesokan harinya Gilang mendapatkan telepon dari keluarga Meilani. Dia menjadi syok dan menjatuhkan handphonenya. "Harusnya aku nganter kamu sayang. Kamu nggak kan mengalami musibah seperti ini jika aku mengantarmu pulang." Gilang menangis meraung-raung. Dia bahkan memukuli tembok untuk melampiaskan kekesalannya.


Andai saja waktu bisa diputar kembali Gilang tak akan membiarkan Meilani pulang naik kereta.


Orang tua Gilang tidak bisa berbuat apa-apa. "Bagaimana keadaannya sekarang Gilang?" tanya sang ayah.


Gilang menggeleng lemah. "Izinkan aku menemuinya, Yah." Ayah Gilang mengangguk. "Temuilah dia, sampaikan salam ayah pada keluarganya." Gilang mengangguk paham.


Gilang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit tempat Meilani dirawat. Butuh waktu empat jam untuk sampai di sana.


"Nak Gilang," panggil ayah Meilani ketika melihat Gilang menginjakkan kakinya di lobi rumah sakit.

__ADS_1


Gilang segera meraih tangan calon ayah mertuanya itu. "Assalamualaikum, Pak."


"Waalaikumsalam, ayo ikut bapak," ajaknya.


"Apa keadaan Meilani sudah membaik?" tanya Gilang.


"Masuklah dan temui dia." Gilang menganggukkan kepalanya. Sebelum masuk dia mengatur nafas dulu agar tidak menampakkan kesedihan di hadapan Meilani.


Gilang masuk perlahan. Mata Meilani meneteskan air mata ketika melihat calon suaminya berada di ruang rawatnya. Gilang berjongkok lalu menciumi tangan Meilani. Dia tak kuasa menahan tangis. Bagaimana pun musibah yang dialami oleh calon istrinya itu membuatnya sangat sedih.


Meilani tak bisa bicara. Setelah mengalami pelecehan sek*sual itu, dia syok hingga membuatnya kesulitan berbicara. "Pak, apa yang terjadi pada Meilani?" tanya Gilang pada ayah Meilani.


"Kata dokter dia tidak bisa berbicara akibat syok yang dia derita. Tapi itu sementara meskipun kita tidak tahu kapan suara Meilani akan kembali," terangnya.


Hati Gilang semakin hancur mendengar apa yang diucapkan ayah Meilani. Dia tidak hanya merasa kasian tapi dia ingin menggantikan penderitaan kekasihnya jika saja dia mampu.


"Nak, bagaimana dengan keluargamu? Apa pernikahan kalian akan tetap dilangsungkan?" tanya sang ibu. Jujur dia sangat cemas dengan masa depan putrinya. Terlebih anak gadisnya itu sudah tidak perawan lagi. Jelas siapa pun tidak akan menerima jika calon pengantinnya sudah dinodai oleh laki-laki lain.


Gilang berat menjawab pertanyaan ibunya Meilani. "Pasti akan berlangsung. Saya tidak akan meninggalkan Meilani." Gilang menggenggam tangan Meilani dengan erat seolah meyakinkan jika janjinya akan dia tepati.


Namun, bagaimana dengan keluarga Gilang? Apa mereka akan melanjutkan pernikahan Gilang dan Meilani?


Jangan lupa kasih rate ya, like setelah membaca dukungan kalian sangat penting. Jika ada typo kalian bisa langsung koment di bagian yang ada typonya.


...***...


Sambil nunggu othor up mampir ke sini dulu ya


__ADS_1


__ADS_2