
"Maaf Gilang sepertinya pernikahan kamu harus ditunda dulu," kata sang ayah.
"Gilang mengerti, Yah. Kita masih berduka atas kematian Tante Lira dan Meilani juga dalam masa penyembuhan."
"Tidak, kamu tidak akan menikah dengan wanita yang sudah tidak perawan lagi. Kamu tahu itu akan membuat nama keluarga kita tercoreng."
Gilang terkejut dengan keputusan ayahnya. "Yah, undangan sudah disebar atas namaku dan Meilani. Kenapa harus mengganti calon mempelai wanita?"
Ayah Gilang memberikan tatapan tajam. "Kamu boleh bersimpati padanya tapi tidak lebih dari itu. Lagi pula kalian belum menikah jadi dia bukan tanggung jawab kamu."
"Pa, aku tidak peduli jika Meilani sudah tidak perawan lagi. Lagi pula itu bukan keinginan dia. Ini murni kecelakaan, Yah." Gilang mencoba meyakinkan ayahnya.
"Keputusan ayah sudah bulat. Kamu urungkan saja niat kamu menikahi Meilani," tegas sang ayah.
"Walaupun tanpa persetujuan ayah, aku akan menikahi Meilani. Bukankah laki-laki tidak perlu wali, jadi tidak apa jika papa tidak mau menghadiri pernikahanku dengan Meilani."
Ucapan Gilang itu memicu amarah sang ayah. Gilang mendapatkan tamparan di bagian pipi kirinya. "Berani kamu menentang ayah?" sentaknya.
Ibu Gilang menangis ketika melihat putranya bertengkar dengan suaminya. "Nak, sebaiknya turuti kata ayahmu. Jangan menjadi anak durhaka dengan menentangnya." Ibu Gilang memberi nasehat pada anaknya.
"Tapi bagaimana dengan nasib Meilani, Bun. Dia butuh seseorang untuk menjaganya."
"Nak, dia masih punya orang tua yang bisa mengurusnya jadi kamu tidak perlu khawatir lagi." Gilang memeluk sang ibu dengan erat lalu menangis di pelukannya.
Kristal dan Ruli juga mendengar kabar musibah yang dialami sahabatnya. "Kasian sekali dia, pernikahannya menjadi batal karena musibah yang menimpanya."
Ruli mendekat ke arah Kristal. Dia mengusap punggung istrinya agar dia tidak terlalu memikirkan Meilani. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita sayang. Namun Allah pasti memberikan solusi di setiap ujian yang Dia berikan." Kristal mengangguk setuju.
Seharusnya menjadi hari pernikahan Gilang dan Meilani. Namun, malam ini hanya ada acara pengajian dalam rangka memperingati hari kematian Mama Lira yang ketujuh hari.
Ayah Gilang resmi membatalkan pernikahan Gilang dan Meilani. Mereka tidak bisa menerima keadaan Meilani yang sudah tidak suci lagi. Gilang dikurung sementara di kamarnya. Ayahnya takut dia kabur dan menikahi Meilani tanpa seizinnya.
"Bagaimana dengan keadaan Gilang, Om?" tanya Ruli usai pengajian selesai.
__ADS_1
"Tidak masalah dia hanya sedih untuk sementara waktu. Om yakin dia akan segera melupakan gadis itu," jawab ayahnya Gilang.
Ruli sangat sedih mendengar nasib sepupunya itu. Dia mengerti perasaan Gilang. Untuk sementara ini dia membiarkan Gilang agar lebih tenang.
Sementara itu Amara mengurung diri di kamar setelah kematian ibunya. Sepulang dari rumah sakit, dia sempat datang ke makam ibunya setelah itu dia terus menerus menyalahkan dirinya.
Ruli memang kesal karena adiknya menjadi penyebab kematian ibunya. Namun, Kristal terus memberikan nasehat agar Ruli tidak membenci Amara. "Bagiamana pun dia satu-satunya keluargamu, Mas. Begitu pula sebaliknya. Amara hanya punya kamu."
Ucapan istrinya itu membuat Ruli sadar dan tak mau menyalahkan Amara. Dia sudah ikhlas dengan kepergian sang ibu.
Tok tok tok
"Amara, makan siang dulu yuk!" Ajak Ruli. Tak ada jawaban dari kamar adiknya. Lalu Ruli meninggalkan kamar itu. Saat ini dia belum bisa fokus bekerja. Sementara waktu dia menyerahkan kepengurusan restoran pada anak buahnya. Karena Gilang juga belum bisa bekerja setelah acara pernikahannya batal.
"Mas, Amara sudah makan siang apa belum? Dari tadi pagi dia juga belum makan. Padahal aku menaruh makanan di depan kamarnya."
Ruli mengerutkan keningnya. Kemudian dia menaiki tangga menuju ke kamar Amara. Kristal berjalan di belakang suaminya.
Tok tok tok
"Bagaimana, Mas?" tanya Kristal sambil menggendong baby Glen.
"Akan aku dobrak, tidak terdengar suara sama sekali aku takut terjadi sesuatu dengannya." Kristal mengangguk setuju. Dia pun mundur agar Ruli bisa mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar adiknya.
Ketika berhasil dibuka, Ruli mencari keberadaan Amara. Kristal berteriak ketika melihat Amara di lantai dengan mulut berbusa.
"Dia menelan banyak obat tidur," kata Ruli. Setelah itu dia menggendong adiknya untuk dibawa ke rumah sakit.
"Pak Usman, tolong antarkan saya ke rumah sakit," perintah Ruli pada sopir pribadinya.
"Baik, Pak."
Sementara itu Kristal menelepon ibu kandungnya. Dia bingung menghadapi situasi menyedihkan akhir-akhir ini. Tak butuh waktu lama, Mama Berlian datang ke rumah Kristal.
__ADS_1
"Ma." Kristal memeluk ibunya sambil menangis.
"Tenangkan dirimu sayang. Ini semua ujian kamu harus kuat." Mama Berlian menyemangati putrinya.
"Iya, Ma."
"Mama akan menemani kamu sementara waktu selama Ruli menjaga adiknya di rumah sakit." Kristal mengangguk setuju.
"Aku harap Amara ditangani dokter dengan baik."
"Kita berdoa saja, sayang. Mungkin dia melakukan itu karena merasa frustasi."
Di rumah sakit Ruli menunggui adiknya di luar ruangan. "Bagiamana, Dok?" tanya Ruli ketika dokter yang memeriksa adiknya keluar.
"Dia terlalu banyak mengkonsumsi obat tidur. Untung saja anda segera membawa dia ke sini. Kalau terlambat maka nyawanya tidak bisa tertolong. Sekarang ini dia sedang tertidur. Jadi jangan khawatir," terang dokter itu.
"Terima kasih banyak, Dok." Dokter itu pergi meninggalkan Ruli.
Amara baru saja dipindahkan ke ruang perawatan. Ruli memberi tahu istrinya karena dia akan menunggui Kristal di rumah sakit.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah ditemani sama mama. Dia akan menginap malam ini. Oh ya, apa aku perlu menyiapkan pakaian Amara?" tanya Kristal.
"Iya, sayang. Nanti minta tolong sama Pak Usman untuk membawanya ke sini," pinta Ruli pada istrinya.
"Baik, Mas."
Ruli setia menunggui adiknya. Dia meraup mukanya kasar karena tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Amara. Bisa-bisanya dia mencoba mengakhiri hidupnya. "Aku akan menghukummu nanti setelah kamu sembuh Amara," gumam Ruli seorang diri.
Keesokan harinya, Amara sadar dari pingsannya. Dia menangis ketika melihat kakaknya. Ruli menghapus air mata adiknya dengan lembut. "Sudahlah kamu jangan terus menerus bersedih. Ikhlaskan kepergian mama."
"Kalau bukan karena aku mama tidak akan meninggal, Kak."
"Sssttt, ini bukan salah kamu. Yang terpenting kamu doakan mama agar dia tenang di sana. Dia akan sedih jika melihat kamu terus menerus seperti ini." Amara memeluk sang kakak.
__ADS_1
"Maaf, maaf."