
Mama Lira merasa bersalah karena telah lalai menjaga cucunya. "Kristal maafkan mama," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah, Ma. Yang penting anakku sudah kembali dengan selamat," ucap Kristal sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Mama Lira hanya menatap kepergian menantu beserta kedua cucunya. Setelah itu dia menaiki tangga dengan langkah gontai. Mama Lira membuka pintu perlahan lalu masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba dia ingat dengan laki-laki paruh baya yang menemukan cucunya. Lalu dia ingat laki-laki itu memberinya sebuah kartu nama.
"Aku ingin berterima kasih pada orang yang menyelamatkan cucuku." Kemudian mama Lira menghubungi nomor telepon yang tertera di kartu nama tersebut.
"Hallo," ucap Mama Lira saat telepon sudah tersambung.
"Hallo, siapa ini?" tanya pria bernama lengkap Rama Dianto itu.
"Saya Lira." Dengan sekali sebut saja Rama sudah ingat.
"Ow, ada apa, Bu?" Rama bingung harus memanggil dengan sebutan apa, jadi dia sebut kata Bu untuk memanggil Lira.
"Bisakah kita bertemu besok, saya ingin berterima kasih dengan pantas karena telah menolong cucu saya."
Tentu saja Rama tidak menolak. "Baiklah, beritahu kapan dan di mana kita bisa bertemu besok."
"Saya akan kirim alamat dan waktunya melalui pesan saja."
"Baik, saya tunggu kabar selanjutnya."
Setelah itu mama Lira menutup sambungan teleponnya.
Keesokan harinya, Mama Lira bertemu dengan Pak Rama di sebuah restoran yang biasa Mama Lira kunjungi. Saat itu dia tiba lebih dulu. Tak lama kemudian dia melihat laki-laki yang dia kenal memakai setelan jas.
"Apa anda sudah lama menunggu?" tanya Rama. Kemudian dia duduk di depan Lira.
"Tidak, saya baru saja sampai," jawabnya. Wanita itu menatap kagum pada pria di depannya.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dengan penampilan saya?" tanya Rama.
"Anda terlihat berbeda," akunya dengan jujur. Rama mengulas senyum tipis.
"Biasakan diri anda untuk melihat tampilan saya yang seperti ini." Lira mengerutkan keningnya.
"Saya tidak mengerti maksud anda."
Rama tak menjawab. Dia memanggil pelayan untuk memesan makanan. "Sebaiknya kita makan dulu. Bukankah anda ingin mentraktir saya?" tebak Rama. Dia hanya menyimpulkan omongan Lira sewaktu di telepon kemaren.
"Oh, tentu saja. Saya ingin berterima kasih kepada anda telah menemukan cucu saya," ucapnya dengan tulus.
"Saya benar-benar tidak menyangka kalau mereka itu cucu anda."
"Iya, cucu saya kembar, lahir sekitar dua bulan yang lalu."
"Maaf kalau saya lancang bertanya. Tapi saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda. Apa suami anda tidak keberatan kalau anda bertemu dengan saya seperti ini?" Rama sengaja memancing agar Lira menceritakan tentang kehidupannya.
"Saya sudah lama bercerai dengan suami saya." Ada rasa pahit di dalam hatinya yang coba dia tahan. Rama memperhatikan raut wajah wanita itu dengan seksama. Dia bisa membaca kalau dia pernah mengalami kekecewaan.
"Oh, ya saya harap istri anda juga tidak salah paham dengan pertemuan kita ini."
Rama mengulas senyum. "Istri saya sudah tenang di alam lain." Mama Lira jadi menyesal telah membuat pria di depannya mengingat seseorang yang telah pergi.
"Maafkan saya. Saya sungguh menyesal."
"Tidak perlu meminta maaf."
Banyak obrolan yang mereka bicarakan. Rupanya Rama laki-laki yang pandai mengajak lawan bicaranya akrab dengan seketika. Terbukti Mama Lira banyak menceritakan soal kehidupannya pada laki-laki yang baru saja dia kenal.
Sesaat kemudian mama Lira menyadari kalau dia sudah terlalu lama duduk di restoran tersebut. Lalu dia pun pamit pada Rama.
"Biar saya saja yang bayar tagihannya," ucap Rama ketika Lira tengah mencari dompetnya yang ada di dalam tas.
__ADS_1
"Mana boleh seperti itu. Saya sudah berjanji akan mentraktir anda," tolaknya tak terima.
"Tidak apa. Saya tidak biasa dibayarkan oleh seorang wanita." Mama Lira tersenyum dan Rama sungguh terpesona pada senyum wanita yang masih cantik di usianya saat ini.
"Kalau begitu biarkan lain kali saya yang mentraktir anda," kata mama Lira.
Setelah pertemuan pertama hampir tiap hari Lira bertemu dengan Rama hanya untuk membalas kebaikan pria tua itu walau ujung-ujungnya Ramalah yang selalu membayar tagihan makan mereka. Hingga tanpa mereka sadari benih-benih asmara tumbuh di antara keduanya.
Mama Lira merasa nyaman berbicara dengan Rama. Sedangkan Rama memang sudah naksir dari awal. Dia termasuk mahir dalam hal mendekati wanita jadi sangatlah mungkin jika Rama bisa mendekati Lira dengan mudah.
"Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu," ucap Rama dengan wajah serius.
Jantung Lira berdebar kencang. Dia ke arah mana pembicaraan laki-laki yang duduk berhadapan dengannya kini.
"Apakah kamu bersedia menjadi kekasihku?" Rama menyatakan cinta pada Lira. Mama Lira sangat terkejut. Dia sampai menutup mulutnya sendiri.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Lira ketika laki-laki yang ada di hadapannya berlutut.
"Terima kalung ini jika kamu mau menjadi kekasihku." Mama Lira menengok ke kanan lalu kiri.
"Saya mohon jangan bersikap seperti ini."
"Jawablah terlebih dulu baru saya akan berdiri. Tidak ada alasan untuk mama Lira menolak tawaran Rama. Lagipula dia tidak punya teman atau seseorang yang bisa diajaknya berbagi. Ruli telah berkeluarga. jadi dia tidak bisa menemani ibunya setiap saat. Sedangkan Amara kelak juga akan ikut suaminya. Lalu dengan siapa dia akan menghabiskan sisa hidupnya. Itulah yang menjadi pertimbangan mama Lira.
"Saya terima anda sebagai kekasih saya," jawab Mama Lira malu-malu.
Meski baru tiga Minggu mereka berkenalan, tapi itu sudah cukup bagi Rama untuk mengenal latar belakang keluarganya. Mama Lira pun mengangguk pasti.
Lalu bagaimana tanggapan anak-anak mama Lira jika mereka tahu ibunya memiliki pacar? Apakah mereka akan setuju
...***...
Mampir dulu ke sini ya jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1