Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Kedatangan orang di masa lalu


__ADS_3

"Zavier," panggil Kristal dengan berteriak.


Sandra keluar dari kamarnya. "Kristal? Bukannya kamu masih dalam masa penyembuhan?" tanya Sandra.


"Aku kangen Zavier, di mana dia?" Kristal mencari keberadaan keponakannya itu.


"Ada di belakang main sama papanya."


"Lho Bang Alex tidak berkerja?"


"Dia pulang cepat. Sudah beberapa hari ini dia pulang cepat, katanya dia khawatir karena aku akan segera melahirkan," terang Sandra.


"Kapan kakak akan melahirkan?" Kristal memeluk Sandra sambil mengelus perutnya yang buncit. Sandra tahu perasaan Kristal yang telah kehilangan calon anaknya.


"Dua Minggu lagi," jawabnya.


"Kalau begitu aku mau cuti sementara sampai kak Sandra melahirkan."


"Kenapa begitu?" Sahut Alex yang berjalan bersama Zavier.


"Onty," Zavier berhambur ke pelukan Kristal. Setelah itu dia menoleh kepada Ruli.


"Paman." Ruli mengangguk menjawab sapaan keponakannya itu.


"Aku kira kamu tidak jadi kembali pada adikku?" Sindir Alex.


"Bang, jangan membuat suamiku merasa tidak nyaman," protes Kristal. Alex memicingkan matanya lalu berputar meninggalkan keduanya.


"Ah, duduklah dulu. Akan aku buatkan minuman," kata Sandra memecah kecanggungan.


Setelah itu, Kristal dan Ruli mengajak Zavier duduk di depan televisi. Tak lama kemudian terdengar suara barang pecah dari dapur. Ruli dan Kristal segera menghampiri.


"Kak Sandra," teriak Kristal. Sandra terlihat memegangi perutnya. "Perutku sakit sekali."


Alex yang baru turun langsung menggendong istrinya. "Ruli kamu yang nyetir. Kristal hubungi mama, Sandra akan melahirkan."


Ruli segera menyiapkan mobil. Kali ini dia rela menjadi supir kakak iparnya. "Bertahanlah sayang." Alex terlihat panik. Ruli melirik dari kaca spion yang ada di depannya.


"Hah, mungkin aku akan ada di posisi yang sama jika saja Kristal tidak keguguran," batin Ruli.

__ADS_1


Saat di jalan mereka terjebak macet. "Bang, kita kena macet," lapor Ruli.


"Assial," Alex ikut bingung. Lalu Alex menghubungi Agung. "Gung bantu gue, Sandra mau melahirkan."


Ruli merasa tidak terima saat mendengar kakak iparnya meminta tolong pada Agung. Lalu dia mengambil tindakan. Ruli keluar dari mobil. Alex tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh adik iparnya itu.


"Tolong beri kami jalan! Di dalam mobil ini ada seorang wanita yang akan melahirkan," seru Ruli dengan lantang pada pengendara motor dan mobil di jalan itu. Alex tersenyum bangga. Setelah itu semua kendaraan memberikan jalan pada Ruli. Suami Kristal itu langsung masuk ke dalam mobil. Dia kembali mengendarai mobil yang membawa Sandra.


"Terima kasih," ucap Alex dengan lirih. Dia pantas berterima kasih pada adik iparnya itu. Karena keberaniannya, mereka ya lagi terjebak macet. Jadi Sandra bisa segera ditangani di rumah sakit.


Alex segera memanggil perawat ketika mereka sampai di rumah sakit. Dia merebahkan tubuh Sandra dengan perlahan.


"Anda suaminya?" tanya Dokter tersebut pada Ruli. "Bukan Dok, dia kakak ipar saya."


"Kehamilannya sudah masuk berapa Minggu?" tanya Dokter tersebut. Alex menggeleng. Dia tidak mengerti soal kehamilan istrinya. Dokter hanya menggelengkan kepalanya.


Saat diperiksa tali pusar bayi yang dikandung Sandra melilit bayi yang ada di dalam kandungannya. "Maaf, kamu akan melakukan operasi karena bayi terlilit tali pusar."


"Baik Dok lakukan yang terbaik untuk istri saya." Perintah Alex pada dokter yang menangani istrinya. Ruli tak banyak bicara pada kakak iparnya itu. Dia masih menunggu kedatangan keluarga Alex.


Tak lama kemudian dia melihat ayah dan ibu mertuanya. Tapi ke mana istrinya? Kenapa dia tidak ikut dalam rombongan orang tuanya. "Ma, ke mana istriku?" tanya Ruli pada mama Berlian.


"Sayang, dia kenapa?" tanya Ruli.


"Mas, dia ingin masuk tapi Satpam tidak memperbolehkannya."


"Anak-anak di bawah usia sepuluh tahun memang tidak diperbolehkan masuk, Pak. Itu sudah jadi peraturan rumah sakit ini sejak dulu," "


"Tidak apa-apa sayang, ayo ajak dia beli es krim," usul Ruli. Kristal mengangguk setuju. Zavier begitu anteng digendongan Ruli. Kristal menatap keduanya seperti ayah dan anak.


"Semoga Engkau segera berikan keturunan lagi padaku Ya Allah," doa Kristal dalam hati.


Mereka sampai di minimarket dekat rumah sakit itu. "Apa kamu tidak capek menggendong Zavier, Mas?" tanya Kristal.


"Tidak, hanya saja terasa pegal," jawab Ruli sambil terkekeh.


"Dih, sama aja."


"Kenapa? Apa kamu juga ingin kugendong?" tanya Ruli.

__ADS_1


"Maafkan aku, mama bilang kamu cemburu pada mas Agung saat melihat dia menggendongku, apa betul?" Ruli tersenyum smirk.


"Jangan bahas itu lagi. Aku terlalu cemburu padamu. Mama hanya memerintah dia karena aku tidak ada di sana seharusnya aku mengerti. Maaf karena aku mengabaikanmu di saat kamu membutuhkan pertolonganku."


Kristal merasa lega. Jika tidak ada yang mengalah mereka akan terus bertengkar hanya masalah sepele.


Di saat mereka sedang bercengkrama seperti sebuah keluarga kecil terlihat suara anak kecil berlari ke arah Ruli. "Papa," panggilan itu membuat Kristal terkejut.


"Sayang, mana ibumu?" Tanya Kristal dengan lembut. Kristal mengira gadis kecil itu salah mengenali orang. Gadis kecil yang belum diketahui namanya itu menunjuk seorang wanita cantik yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Long time no see," ucapnya saat menatap Ruli. Kristal bertanya dalam diam. Ada apa ini? Kenapa ada anak kecil yang memanggilnya papa lalu ibu anak itu terlihat mengenali suaminya dengan baik?


Ruli tersenyum ke arah garis kecil itu. "Bagiamana kabarmu, Siena?" tanya Ruli sambil mengusap pipi gadis kecil yang kulitnya seputih susu tersebut.


Jantung Kristal berdegup kencang. "Apakah dia...."


"Kristal, kenalkan dia anakku." Ucapan Ruli sungguh tidak bisa dicerna oleh Kristal. Bagaimana mungkin selama ini Ruli menyembunyikan statusnya sebagai duda beranak satu.


Tiba-tiba air mata Kristal menetes. Dia berdiri lalu menarik tangan Zavier dengan kasar. "Onty kita mau ke mana?" tanya Zavier polos.


Karena takut akhirnya Zavier menangis. Kristal terpaksa menggendongnya. "Akh... Perutku." Kristal meringis karena masih merasakan sakit di bagian perutnya.


Ruli mendesah pelan. "Kristal tunggu!" Laki-laki itu meninggalkan Siena dan ibunya. Dia memilih mengejar Kristal karena khawatir melihat istrinya itu menggendong Zavier yang sangat berat.


Kristal masih menahan rasa sakitnya, sampai akhirnya dia hampir saja terjatuh. Untung saja Ruli segera mengungkap tubuhnya. "Sayang, kamu baru sembuh. Jangan mengangkat yang berat-berat."


Dada Kristal terasa sesak hingga rasa sakit di bagian perutnya tak ia hiraukan. "Yang sakit bukan hanya perutku tapi dadaku lebih sakit," ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis. Dia mencoba menahan diri untuk tidak bertengkar di depan keponakannya.


"Maafkan aku. Beri kesempatan aku untuk menjelaskan semuanya."


"Lain kali saja, untuk sementara aku akan tinggal di rumah kakakku untuk menjaga Zavier."


Kristal segera menutup pintu mobilnya. Ruli mengejar mobil kristal yang akan melaju tapi dia tertinggal.


...***...


Hai readerku jangan lupa subscribe ya, sambil nunggu aku up lagi kalian bisa baca novel berikut ini


__ADS_1


__ADS_2