Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Gagal melamar


__ADS_3

Leo mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan kalau pasien yang ditanggung biaya olehnya meninggal dunia.


"Bagaimana bisa?" Leo meraup mukanya kasar.


"Dia tiba-tiba mengalami kejang lalu meninggal dunia, Pak," terang perawat yang mengabarinya.


"Ada apa, Kak?" tanya Rere yang melihat Leo begitu cemas ketika menerima telepon.


Leo ragu menyampaikan kabar itu pada adiknya. "Kak jangan ada yang ditutupi!" desak Rere.


"Pria itu meninggal dunia," jawab Leo.


Rere sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Leo. Rere terduduk dan menangis. "Aku mohon tenangkan dirimu." Leo memeluk adiknya.


"Aku seorang pembunuh. Aku pembunuh," teriak Rere secara histeris. Dia benar-benar meras bersalah telah menyebabkan orang itu meninggal.


Dia menggosok tangannya dengan kasar. Rere merasa risih karena tangannya yang telah membuat dirinya menjadi seorang pembunuh. Meskipun dia melakukan hal itu untuk menolong Agung yang akan diserang.


Rere menangis sejadi-jadinya di pelukan Leo. Dia membiarkan adiknya itu menangis sampai dia merasa lega. Setelah itu dia membawa Rere ke dalam kamar. "Istirahatlah. Jangan cemaskan apapun."


Rere tak menjawab. Leo berharap adiknya akan tenang setelah tertidur. Dia pun menaikkan selimut hingga ke leher Rere. Setelah itu mengecup kening sang adik.


Namun, Rere malah berbuat nekad setelah kakaknya keluar. Dia merasa hidupnya hanya membuat orang lain sengsara. Rere mengambil gunting yang ada di dalam laci mejanya. Dia lalu menggores pergelangan tangannya.


Di saat yang bersamaan Leo menyadari kalau dia meninggalkan ponselnya di meja yang ada di kamar Rere. Laki-laki itu pun kembali. Namun, ketika dia masuk Leo sangat terkejut ketika tangan Rere berlumuran darah.


Rere masih sadar dan menangis tapi sesaat kemudian dia tumbang. Beruntung Leo menangkap tubuhnya. Leo menggendong adiknya dan segera menuju ke mobil. "Bertahanlah, Re. Aku tidak mau kehilangan kamu," ucap Leo dengan nada bergetar. Dia sangat takut kehilangan anggota keluar satu-satunya.


Di tempat lain, Agung mengambil ponselnya. Dia melakukan panggilan video ke ponsel Rere. Cukup lama dia memanggil kontak Rere tapi tidak ada jawaban. "Apa dia jam segini sudah tidur ya?" gumam Agung.

__ADS_1


Setelah itu dia mengetik pesan singkat untuk mengabarkan kalau keluarganya akan datang melamarnya besok malam.


"Semoga dia segera membacanya." Agung harap-harap cemas. Namun, sampai keesokan harinya Agung tidak mendapatkan balasan dari Rere. Dia kembali menelepon ke ponsel Rere tapi tidak aktif. Lalu Agung mencoba menghubungi Leo.


"Apa Rere ada? Aku menghubunginya sejak semalam tapi ponselnya tidak aktif," kata Agung ketika sambungan teleponnya terhubung.


Leo terdengar seperti menangis. "Rere mencoba bunuh diri."


Agung terlonjak kaget. Dia pun menyibak selimutnya lalu beranjak dari atas ranjang. "Di mana kau sekarang? Kirim alamat rumah sakitnya." Agung menutup telepon setelah mengatakan itu.


Agung berlari menuruni tangga. "Gung, mau ke mana?" tanya sang ibu.


"Rere masuk ke rumah sakit, Ma," jawabnya tanpa memberi tahu alasan dia masuk rumah sakit.


Agung bahkan tak sempat mandi dia hanya memakai sweater lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menuju ke rumah sakit tempat Rere dirawat.


"Leo," teriak Agung ketika sampai di depan ruang UGD. "Bagaimana ceritanya?" tanya Agung.


Tak lama kemudian dokter yang menangani Rere keluar. "Bagaimana keadaan adik saya?" tanya Leo mendahului Agung.


"Dia banyak kehilangan darah tapi untungnya persediaan rumah sakit melimpah. Jadi dia hanya menunggu sadar. Setelah ini dia akan dipindahkan ke ruang perawatan," terang dokter tersebut.


Leo dan Agung merasa lega. Leo mengabari Kristal karena dia khawatir Kristal akan mengandalkan Rere. "Maaf, Rere tidak bisa bekerja lagi hari ini," ucap Leo saat teleponnya tersambung ke nomor Kristal.


"Apa dia sakit lagi? Kalau begitu biarkan dia beristirahat," jawab Kristal.


"Baik," jawab Leo. Dia enggan memberi tahu Kristal. Leo tidak mau orang lain berpikiran negatif tentang adiknya. Dia juga capek jika harus menjelaskan alasan Rere bunuh diri.


"Apa kau tidak bekerja hari ini?" tanya Leo pada Agung.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku meninggalkan Rere," jawabnya sambil mengingat wajah kekasihnya.


Sesaat kemudian perawat mendorong brankar di mana Rere sedang berbaring di sana. Leo dan Agung mengikuti ke mana gadis itu dipindahkan.


"Terima kasih," ucap Agung pada perawat sebelum keluar dari ruangan Rere. Perawat itu mengangguk.


Wajah Rere yang cantik terlihat pucat. Dia masih belum sadar. Tangannya yang digores kini sedang diperban. Agung menangis ketika melihat kekasihnya terbaring lemah seperti itu. "Kenapa kamu harus lakukan ini?"


Leo yang tak tega melihat adiknya memilih keluar agar dia bisa memberikan Agung ruang bersama Rere. Barang kali setelah mendengar suara Agung, adiknya akan bangun.


Di saat yang bersamaan Zidan tak sengaja melihat Leo. Dia pun menghampirinya. "Leo, siapa yang sakit?" tanya Zidan.


"Adik saya," jawab Leo. Dia terlihat sangat sedih.


"Sakit apa?" tanya Zidan. Leo pun menceritakan apa yang terjadi pada adiknya secara mendetail. Zidan ikut prihatin atas apa yang menimpa Leo dan adiknya. Sesaat kemudian Agung keluar dari ruangan Rere.


"Elo ngapain di sini?" tanya Agung. Agung memang sudah terbiasa pada Zidan.


"Gue nganter istri tak sengaja melihat Leo. Apa kamu ingin menunggui kekasihmu? Aku akan sampaikan pada Alex."


Agung tidak menyangka kalau Zidan berbaik hati mengizinkan dia untuk tidak masuk kerja. "Baiklah, aku mengandalkanmu," ucapnya menatap Zidan.


Sesuai janjinya Zidan pun mendatangi kantor Alex. Kebetulan Kristal juga sedang berkumpul dengan abangnya. Zidan jadi tak harus menceritakan satu per satu pada mereka karena keduanya orang yang sedang dia cari.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Alex ketus. Dia dan Zidan memang tidak pernah akur dengan sepupunya itu.


"Rere, asisten lo melakukan percobaan bunuh diri." Ucapan Zidan membuat Kristal terkejut bukan main.


"Apa? Bagaimana bisa?" Kristal memang belum tahu kejadian yang dialami Rere sebelumnya. Zidan pun menceritakan apa yang dia dengar dari Leo. Kristal meneteskan air mata karena khawatir. "Semoga dia segera pulih," harap Kristal.

__ADS_1


Bagaimana dengan harapan reader pada Rere?


__ADS_2