Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Baby twins coming soon


__ADS_3

Rere pulang agak telat dari biasanya. Ketika dia sampai di rumah, Leo mengintrogasi adiknya itu. "Kamu ngelayap ke mana aja jam segini baru pulang?" Selidik Leo.


Rere menjatuhkan badannya di sofa. "Kakak ini adiknya baru pulang malam diomeli. Aku tuh mulai hari ini akan lembur karena atasanku cuti sampai dia melahirkan," ungkap Rere. Dia merasa kesal pada Leo.


Leo mencerna omongan sang adik. "Jadi Nona Kristal hamil lagi?" tanya Leo memastikan. "Ya begitulah," jawab Rere dengan acuh. Badannya teras remuk karena terlalu lama duduk di depan komputer.


"Ya sudah pindah saja ke kamar. Aku tidak mau mengangkat badanmu yang berat itu," ledek Leo. Rere mengerucutkan bibirnya.


Gadis yang berusia sekitar dua puluh lima tahunan itu berjalan gontai. Dia bahkan menyeret tasnya. Ketika tiba di kamar, Rere langsung merebahkan diri dia tas ranjangnya yang empuk. Matanya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Dia pun terpejam tanpa melepas sepatu maupun mengganti baju kerja yang masih dia pakai.


Entah berapa lama Rere tidur, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Rere pun terbangun ketika mendengar suara berisik yang berasal dari nada deringnya. Rere mencari keberadaan handphonenya.


Dia meraba sekitar ranjangnya tapi tidak dia temukan. Akhirnya berdiri dan membuka tasnya. Gadis itu memaksa matanya terbuka. Tertulis nama Agung pada layar handphonenya. Rere pun menggeser tombol hijau.


"Hallo, Mas."


"Sayang, seharian ini kenapa kamu tidak menghubungi aku?" tanya Agung dari seberang sana.


Rere menghela nafasnya kasar. "Aku lembur mulai hari ini. Aku mengambil alih pekerjaan atasanku. Mungkin kita akan jarang bertemu, Mas," ungkapnya dengan jujur. Rere terdengar pasrah.


"Tidak apa, nanti aku akan cari waktu agar aku bisa sesekali mengunjungimu saat jam kerja. Meskipun tidak bisa berlama-lama." Agung terdengar menghibur kekasihnya itu.


Rere tak sengaja menengok jam dindingnya. "Ya ampun sudah tengah malam ternyata. Aku ketiduran sampai belum mandi, Mas. Kalau begitu aku tutup dulu ya. Badanku sudah gatal."


Terdengar suara tawa Agung menggema di telepon. "Rupanya pacarku jarang mandi," ledeknya. "Ya sudah sampai ketemu besok." Agung mengakhiri panggilan teleponnya.


Usai menutup telepon, Rere mengambil handuk dan pakaian ganti lalu beranjak ke kamar mandi.


Di tempat lain ada pasangan Kristal dan Ruli yang sedang sibuk berbicara pada calon anak mereka. "Hallo sayang. Lagi apa kamu sekarang?" Pertanyaan yang tidak penting itu ditanyakan Ruli untuk sekedar basa-basi pada bayi yang dikandung Kristal. Tak lupa Ruli mencium perut sang istri. Kemudian wanita itu mengusap kepala suaminya.


"Mulai besok papa menyuruhku bekerja dari rumah." Kristal memberi tahu suaminya. Ruli menegakkan kepalanya. "Aku tidak menuntut kamu bekerja atau tidak sayang. Aku lebih suka kalau kamu fokus menjaga bayi kamu ini." Laki-laki itu mengusap perut istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku hanya ingin menyibukkan diri saja. Rasanya membosankan jika tidak ada kegiatan."


"Kamu bisa belajar masak sama mama," usul Ruli.


"Aku sangat ingin tapi kamu tahu sendiri hidungku sangat sensitif semenjak aku hamil. Jadi setiap mencium bau seperti bawang aku akan mual." Ruli berpikir apa yang dikatakan oleh istrinya itu ada benarnya juga.


"Baiklah, lakukan apa yang kamu mau asalkan tidak membahayakan janin yang ada di dalam perutmu." Ruli mencium kening istrinya dengan sayang. Dia sangat menyayangi istri dan anak yang sedang dikandungnya.


Hari - hari dijalani Kristal dengan banyak melakukan kegiatan di rumah. Dia yang tadinya tidak pernah berkebun jadi rajin memelihara bunga-bunga yang dia beli ketika sedang jalan-jalan bersama mama Lira. Kebetulan koleksi bunga yang dimiliki mama Lira lumayan banyak. Dia bahkan memiliki taman bunga di belakang rumahnya.


"Ma, kenapa bunga ini ada bagian yang busuk ya?" tanya Kristal.


"Kamu kebanyakan ngasih airnya sayang. Kasih saja secukupnya." Mama Lira memberikan saran. Dia mengajari menantunya cara merawat tanaman bunga yang benar.


"Menyenangkan sekali ya Ma berkebun seperti ini." Kristal hendak memindahkan pot bunga ke tempat lain.


"Jangan angkat yang berat-berat sayang biar mama saja. Ingat kamu sedang hamil. Kapan jadwal periksa selanjutnya. Harusnya sih sudah bisa diketahui jenis kelaminnya ya."


"Apa kamu tidak capek? Ayo kita masuk!" Ajak mama Lira. Dia menuntun menantunya yang agak kesusahan berjalan.


Perut Kristal lebih besar dari kebanyakan ibu hamil lainnya karena ada dua bayi yang sedang dia kandung.


"Duduk sini sebentar mama akan ambilkan minum untukmu." Kristal menjawabnya dengan senyum.


Tak butuh waktu lama, mama Lira membawakan secangkir teh hangat untuk menantunya. "Minumlah sayang." Kristal pun menyeruput teh hangat yang dibuatkan oleh mama Lira.


"Ma, aku ingin tiduran. Pinggangku sakit." Kristal berdiri kemudian menuju ke kamarnya. Semenjak Kristal hamil Ruli memindahkan kamarnya ke lantai bawah supaya istrinya tidak naik turun tangga meningkat kondisi kehamilan kembarnya.


Sementara itu di restoran, Ruli tengah sibuk mengawasi area dapur. Setelah selesai dia mencopot apron yang dipakainya. "Gilang aku balik sekarang." Gilang hanya mengangguk.


Semenjak istrinya diketahui hamil anak kembar, Ruli tidak pernah pulang lewat jam satu siang. Dia selalu rindu pada calon anak dan istrinya.

__ADS_1


"Kristal di mana Ma?" tanya Ruli yang tidak melihat batang hidung istrinya itu.


"Rebahan di kamar. Katanya pinggangnya sakit," jawab mama Lira.


"Tadi dia melakukan apa saja Ma? Apa dia mengangkat sesuatu yang berat?" Cecar Ruli pada ibunya.


"Tidak banyak, hanya menyiram tanaman bunganya di kebun."


"Ya sudah aku ke kamar dulu, Ma," pamit Ruli.


Ruli duduk di tepi ranjang. Istrinya itu terlihat mencari posisi nyaman saat tidur. "Kasian sekali kamu, Yang. Pasti tidurmu kurang nyaman."


Mata Kristal tak sepenuhnya terpejam. Ketika dia mendengar suara suaminya, wanita itu membuka matanya perlahan. Ruli tersenyum pada sang istri. Lalu mencium kening istrinya. "Keganggu ya?"


Kristal menggelengkan kepala. "Tidak, Mas. Apakah baru sampai di rumah?" Ruli mengedipkan matanya.


"Aku buatin minuman ya." Kristal hendak berdiri tapi Ruli mencegahnya.


"Tidak usah sayang, akan aku mabil sendiri. Kamu duduk saja. Apa kamu tidak haus setelah bangun tidur?"


"Iya, aku sedikit haus." Kristal mengibas-ngibaskan tangannya.


"Baiklah, mau aku ambilkan minuman apa?"


Kristal tersenyum penuh arti. "Sepertinya mereka sedang ingin makan es krim." Ruli tahu kalau istrinya sedang ngidam.


"Apa kamu mau keluar? Kita makan es krim di luar," ajaknya. Kristal tersenyum girang.


...♥️♥️♥️...


Ayo sayang-sayangku poinnya jangan sampai kendor ya. Semoga cerita ini menghibur kalian. Maaf jika tidak sesuai ekspektasi. Tapi setidaknya tinggalkan jejak setelah membaca. Dukungan kalian sangat berarti karena menulis itu mikirnya lama tapi bacanya cuma lima menit. 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2