Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Menikah


__ADS_3

Sesuai rencana awal, Gilang mencari rumah sederhana agar bisa ditempati. Dengan bantuan Ruli dia berhasil membeli rumah dengan uang tabungannya. "Alhamdulillah dapat juga," ucap Gilang merasa lega.


"Apa ini tidak terlalu sempit?" tanya Ruli.


"Tidak apa, untuk sementara waktu. Aku akan bekerja lebih keras agar bisa membeli rumah baru nantinya. Semoga Meilani suka tinggal di sini," jawab Gilang.


Ruli menepuk bahu Gilang. "Aku tunggu kabar baik dari kalian."


Malam ini Gilang tinggal di rumah barunya. Dia merasa kesepian. Biasanya dia mengobrol dengan ibunya tapi malam ini dia harus tidur seorang diri. Dia jadi tidak sabar membawa Meilani dan anaknya ke rumah barunya.


Keesokan harinya Gilang mendatangi rumah orang tua Meilani. Meilani menyambut kedatangan Gilang sambil menggendong anaknya.


Gilang tersenyum senang ketika melihat anak kecil yang digendong oleh Meilani tersenyum. "Maaf ya papa baru bisa ke sini." Ya, Gilang memang pernah menyuruh anak Meilani memanggilnya papa.


Meisya tidak menolak ketika Gilang menggendongnya. Gilang menyukai anak kecil itu. Meilani juga senang karena Meisya tidak takut pada Gilang. Padahal Meisya selalu menolak jika orang lain ingin menggendongnya.


"Ayah ada?" tanya Gilang.


"Aku di sini," sahut ayah Meilani. "Bagaimana Gilang?"


Gilang memberikan Meisya pada ibunya. Lalu Gilang dan calon mertuanya duduk untuk bicara empat mata. "Saya akan menikahi Meilani meski tanpa restu orang tua saya."


Ayah Meilani tidak bisa menghalangi niat Gilang. Apalagi dia berjanji akan menjaga dan menerima Meilani beserta anaknya. "Baiklah, kalau itu sudah menjadi keinginan kalian, ayah hanya bisa memberikan restu dan doa."


Seharian ini Gilang bermain bersama Gilang. Anak kecil itu sedang gemar mencorat-coret dinding. "Meisya bagaimana kalau kita pergi bersama ibu untuk beli buku dna pensil warna?" Usul Gilang. Meisya tidak begitu mengerti tapi saat Gilang bilang pergi yang terpikir dalam pikiran anak itu adalah naik mobil. Meisya suka naik mobil Gilang. Jadi dia sangat senang dan berjingkrak ketika Gilang mengajaknya.


"Mas, kita mau ke mana?" tanya Meilani.

__ADS_1


"Ajak Meisya jalan-jalan, nanti kita izin ayah dulu." Meilani mengangguk setuju.


Setelah itu Gilang mengajak Meilani ke sebuah mall yang ada di kota itu. Gilang mengajak Meisya ke arena bermain anak. Mereka menemani anak kecil itu bermain. Meilani mengabadikan momen itu melalui handphone miliknya.


Dia senang Gilang dan Meisya menghabiskan waktu bersama. Setelah puas bermain, Gilang mengajak Meilani dan anaknya makan siang bersama. "Makan yang banyak ya biar cepat besar," ucap Gilang.


Lagi-lagi Meilani dibuat kagum dengan sikap Gilang yang sangat ramah dan lembut pada anaknya. Dia merasa beruntung akan jika benar-benar menikahi Gilang. "Semoga kamu selalu seperti ini, Mas," batin Meilani. Dia berharap sikap Gilang tidak berubah setelah menikah.


Usai makan siang, Gilang mengajak dia orang itu ke dalam toko perhiasan. "Mas kita ngapain ke sini?" tanya Meilani.


"Beli cincin untuk pernikahan kita," jawab Gilang. Mata Meilani berkaca-kaca. Ternyata Gilang sungguh serius menikahinya.


"Pilihlah sesukamu sayang." Mendengar kata sayang yang terucap dari mulut Gilang, Meilani merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia.


"Beli yang murah saja, Mas. Jika ada uang lebih sebaiknya ditabung saja."


"Mas Gilang beli rumah baru?" tanya Meilani.


"Hanya rumah sederhana untuk kita tinggal nanti. Aku janji akan membelikan rumah baru jika aku sudah punya tabungan yang cukup."


Meilani memeluk Gilang. "Terima kasih banyak Mas. Mas mau menerima aku saja sudah cukup bagiku. Aku tidak menginginkan apa-apa selain kasih sayangmu."


Cup


Gilang mencium kening Meilani. "Aku akan selalu berada di sisimu."


Keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung toko perhiasan itu. Di antara mereka juga ada yang merekam momen hari tersebut. Bahkan video ketika Gilang mengecup kening Meilani juga terekam. Video yang diunggah itu menjadi viral.

__ADS_1


Banyak netizen yang berkomentar positif di kolom komentar. Orang tua Gilang melihat video unggahan tersebut. Kemudian memperlihatkan pada suaminya.


Ayah Gilang merasa terharu apalagi di video itu, Gilang menggendong anak kecil. Dia juga membaca komentar pada netizen di video unggahan tersebut. Banyak yang mendoakan kebaikan untuk mereka.


Hati ayah Gilang mulai melunak. "Kita cari Gilang," ucapnya pada sang istri.


"Apa itu berarti papa merestui pernikahan mereka?" tanya sang istri. Ayah Gilang mengangguk.


"Ayah merestui mereka. Lagi pula percuma tidak ada yang bisa memisahkan mereka," ucapnya. Dia sungguh menyesal telah mengusir anak kandungnya sendiri.


Mama Gilang tersenyum senang. Dia pun membayar orang untuk mencari keberadaan anaknya. Setelah ketemu, orang tua Gilang menuju ke tanah kelahiran Meilani.


Siapa sangka hari ini Gilang akan menikah dengan Meilani. Tidak ada perwakilan dari keluarga Gilang kecuali Ruli dan Kristal yang membawa serta anak kembarnya.


Saat ini Gilang yang memakai jas rapi menjabat tangan ayah Meilani.


"Tunggu!"


Tiba-tiba seseorang menghentikan pernikahan itu. Gilang pun berdiri saking terkejutnya. Dari mana ayahnya tahu dia menikah hari ini? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Gilang.


"Papa, Mama."


"Kamu datang bukan untuk membatalkan pernikahan ini. Justru kami merestui hubungan kalian," ucap Ayah Gilang.


Meilani, Gilang dan ayahnya tersenyum senang. Penghulu pun melanjutkan proses pernikahan itu. Setelah berhasil mengucapkan ijab qobul dalam satu tarikan nafas, Gilang merasa lega. Meilani menangis haru yang di dampingi oleh Kristal saat itu.


"Selamat sahabatku, kamu berhak mendapatkan yang terbaik."

__ADS_1


"Terima kasih," jawab Meilani


__ADS_2