
"Kristal apa yang kamu maksud?" tanya Sandra pada adik iparnya itu. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Kristal.
"Ternyata Mas Ruli sudah pernah menikah, Kak," tandasnya.
Sandra terkejut mendengar pengakuan adiknya itu. "Apa? Jadi dia duda beranak satu?" tebak Sandra.
Kristal menggelengkan kepalanya. "Bukan, dia bukan anak kandungnya Mas Ruli karena mantan istrinya itu ternyata mengandung anak laki-laki lain."
"Begitu rumit masa lalu suami kamu." Sandra ikut prihatin dengan nasib adik iparnya itu.
"Aku juga tidak menyangka, Kak. Aku baru tahu kemaren saat seorang anak kecil seumuran Zavier memanggil suamiku dengan sebutan papa."
"Kakak paham perasaan kamu."
Sesaat kemudian Kristal mendapatkan telepon dari ibunya. "Hallo, ada apa Ma?" tanya Kristal pada sang ibu melalui sambungan telepon.
"Apa Zavier masih bersamamu?"
"Ya, Ma. Tapi sekarang dia lagi main sama Bang Alex. Aku sedang menjenguk ibunya," lapor Kristal.
"Nanti ajak dia ke sini. Biar mama saja yang jaga dia."
"Oke, Ma."
"Kak sepertinya aku harus pulang, mama meminta Zavier diantarkan ke sana." Sandra mengangguk paham.
"Maaf kakak sudah merepotkanmu," ucap Sandra yang merasa tidak enak.
"Iya, kak. Aku senang menjaga keponakanku. Apalagi yang ini nih." Kristal mencubit pelan pipi baby Liora.
"Hati-hati di jalan Kristal," pesan Sandra sebelum adik iparnya itu keluar dari ruangannya. Kristal mengangguk.
Setelah itu, Kristal mengajak Zavier pulang ke rumah orang tuanya. "Ayo ke rumah Oma!" Ajak Kristal. Zavier mengangguk antusias. Mereka pergi menggunakan taksi.
Sementara itu Grace meninggalkan Siena pada Ruli. "Aku titip Siena dulu. Aku ingin mencari tempat tinggal yang baru."
Ruli mengerutkan keningnya. "Jadi selama ini kalian tinggal di mana?"
__ADS_1
"Kami tinggal di hotel," jawab Grace.
Ruli mende*sah pelan. "Baiklah, kembali secepatnya. Grace tersenyum simpul. Dia tidak menyangka Ruli menerima permintaannya dengan mudah.
"Siena ayo pulang ke rumah Oma Lira," ajak Ruli. Siena mengangguk setuju.
Setelah tiba di rumahnya, Ruli mencari keberadaan ibunya.
"Siena? Kenapa dia bisa datang bersamamu, nak?"
"Oma, apa Oma tidak suka aku ada di sini?" tanya Siena dengan wajah sendu. Dia mengira Lira tidak menyukai kedatangannya.
Lira berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Siena. "Bukan begitu sayang, Oma sangat senang Siena mengunjungi Oma. Oma kangen sama Siena bukankah sudah lama kita tidak main bersama?" Siena tersenyum senang.
"Apa kamu tidak datang bersama ibumu?" tanya Lira pada anak kecil yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri itu.
"Grace menitipkan Siena padaku, Ma," jawab Ruli mewakili Siena. "Dia sudah bercerai dengan suaminya," imbuh Ruli.
"Baiklah, apa Siena sudah makan?" Lira tak mau membahas tentang mantan menantunya lagi. Dia pun mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Oma. Aku mengantuk, Oma." Siena menguap.
Setelah itu handphone Ruli bergetar. Dia mendapatkan pesan singkat dari istrinya untuk menjemput dirinya ke rumah orang tua Kristal. Ruli pun segera berangkat.
Namun, di perjalanan menuju ke rumah mertuanya, Ruli berpapasan dengan Grace dan mantan suaminya. Mereka sedang bertengkar di tepi jalan. Awalnya Ruli tidak peduli dengan urusan mereka. Akan tetapi dia tidak tahan saat Grace mendapatkan pukulan dari mantan suaminya itu. Ruli pun menepikan mobilnya.
"Hentikan, Hans!" Seru Ruli yang baru turun dari mobil. Dia membawa Grace ke belakang punggungnya. "Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Ruli dengan nada melembut. Grace menggelengkan kepalanya. Walaupun saat ini dia sedang memegang bekas tamparan tangan Hans. Dia rela mendapatkan tamparan sekali lagi asalkan Ruli bisa memperhatikannya. Grace sangat merindukan perhatian dari laki-laki yang pernah menikah dengannya itu. Dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan Ruli. Dia menyesal kenapa saat itu dia tidak mempertahankan rumah tangganya dengan Ruli.
"Jangan ikut campur kamu! Kamu hanya mantan suaminya."
"Sebentar lagi kamu juga akan menjadi mantan suami Grace, bukan?" Balas Ruli tak terima.
Setelah itu suami Kristal itu membawa Grace ke dalam mobilnya. Namun, Hans tak tinggal diam. Dia menarik bahu Ruli hingga laki-laki itu berbalik. Di saat yang bersamaan Hans melayangkan pukulan ke wajah tampan Ruli. Ruli terjatuh dan wajahnya memar akibat pukulan Hans. Grace berteriak histeris saat melihat Ruli dan Hans berkelahi.
Sementara itu, Kristal merasa gelisah menunggu kedatangan suaminya. Ruli tak juga datang menjemputnya. "Apa kamu sudah menghubungi suamimu?" tanya Jaden. Kristal mengangguk. "Sudah, Pa."
"Mungkin dia sedang dalam perjalanan ke sini."
__ADS_1
Sudah hampir satu jam Kristal menunggu suaminya. "Apa papa anta kamu pulang saja?" Usul Jaden.
"Biar aku naik taksi saja, Pa."
"Kamu yakin?" Kristal mengangguk. "Aku pamit pa, salam buat mama." Kristal tahu mamanya sedang menemani Zavier tidur.
Jaden mengantar Kristal sampai ke depan rumah. Setelah itu Kristal melambaikan tangan pada orang tuanya.
Kristal masih mencoba menghubungi handphone suaminya tapi Ruli seolah mengabaikan panggilannya. Kristal jadi curiga. "Aku nggak boleh berpikiran negatif pada suamiku."
Kristal terkejut ketika mobil Ruli berada di halaman rumahnya. Kalau suaminya itu tidak kemana-mana kenapa dia tidak menjemputnya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Kristal. Untuk memastikan dia segera masuk ke dalam rumah.
Kristal terkejut ketika melihat Grace duduk berhadapan dengan suaminya. Kristal mengepalkan tangan karena menahan amarah.
"Jadi ini alasan kamu tidak mau menjemputku di rumah orang tuaku?" bentak Kristal yang sedang kesal. Dadanya sudah naik turun karena emosi melihat wanita lain menyentuh wajah suaminya.
Ruli berdiri. Dia seperti ketahuan selingkuh padahal bukan seperti itu kenyataannya. "Sayang aku bisa jelaskan," ucap Ruli setengah memohon.
"Baik, aku ingin dengar penjelasan kamu!" Kristal masih mencoba menahan diri. Dia tidak mau mundur begitu saja. Itu sama saja memberikan peluang untuk Grace masuk ke dalam kehidupan Ruli untuk kedua kalinya. Kristal tak akan membiarkan itu terjadi.
Ruli bingung ingin mulai bercerita dari mana. Dia takut ada kata-katanya yang bisa membuat sang istri salah paham. "Aku tak sengaja melihat Grace bertengkar dengan suaminya jadi aku menolongnya," tandas Ruli.
Kristal tersenyum smirk. "Jadi setiap ada orang lain yang bertengkar dengan suami mereka kamu jadi penengah gitu? Apa itu perlu? Atau karena kamu peduli dengan dia?" Kristal melirik ke arah Grace.
"Apa tidak boleh menolong orang lain?" Sahut Grace.
"Dasar wanita tidak tahu diri. Sudah merusak rumah tangga orang masih saja tidak sadar. Apa dia sengaja?" Batin Kristal geram.
"Baik kalau begitu jika ada laki-laki lain yang bertengkar dengan pasangannya aku juga akan menjadi penengah di antara mereka."
Ruli tidak percaya istrinya itu pandai membalik keadaan. "Aku mohon jangan salah paham dulu. Aku hanya kasian padanya," tegas Ruli.
"Apa dia penting bagimu sehingga kamu lebih peduli padanya dari pada menjemput istrimu ini?"
"Bukankah kamu bisa pulang sendiri?"
"Kalau tahu begini aku tidak mau kembali ke sini." Kristal berbalik badan.
__ADS_1
Akankah Ruli mengejarnya?
Jangan lupa like, koment dan subscribe ya ditunggu dukungan kalian 😘😘😘