Dikira Melarat Ternyata Konglomerat

Dikira Melarat Ternyata Konglomerat
Minta penjelasan


__ADS_3

"Assalamualaikum." Ruli memberi salam ketika masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikumsalam papa," jawab Kristal yang sedang memberikan susu pada salah satu anaknya.


"Kok sepi, Yang. Orang-orang pada ke mana?" tanya Ruli.


"Amara belum pulang kerja, Mas. Kalau Mama Lira aku nggak tahu. Sudah beberapa hari ini aku perhatikan mama sering keluar rumah," terang Kristal.


"Mama nggak bilang ke kamu?" Kristal menggelengkan kepalanya.


"Tumben banget, apa mama sedang ke rumah Gilang ya. Barang kali dia bantuin mamanya Gilang buat siapin acara pernikahan anaknya beberapa hari lagi." Kristal menggedikkan bahu.


"Mas, tolong jagain anak-anak sebentar aku mau ke toilet," pamit Kristal pada suaminya.


"Hallo anak papa, baby Gwen, baby Glen kalian sehat kan?" Tiba-tiba kedua anaknya menangis secara bersamaan.


"Sayang," panggil Ruli pada istrinya. Dia panik bagaimana menenangkan bayi tersebut.


Kristal keluar dari kamar mandi dengan santainya. "Maaf, aku sakit perut," ungkapnya


Kristal pun menggendong bayinya lalu memberinya ASI. "Curang nih, giliran mama yang ASI langsung berhenti nangis," ledek Ruli. Sedangkan satu lagi bayi ada di tangan Ruli sedang di gendong agar berhenti nangis juga.


"Mas, kita pakai baju apa nih di acara nikahannya Kak Gilang sama Meilani? Couplean dong biar kelihatan serasi, nanti mereka juga ya." Kristal menempelkan hidung mancungnya ke hidung baby Gwen.


"Apa hari ini mau cari baju di mall untuk anak-anak sama yang kita pakai?" tawar Ruli. Tentu saja Kristal menerimanya dengan senang hati. Tapi kali ini dia tidak boleh lengah menjaga anak-anaknya lagi.


Ketika waktunya tiba, Kristal dan Ruli sedang berada di toko perlengkapan bayi untuk membeli keperluan Baby Glen dan Gwen.


"Apa kamu suka warna yang ini?" Ruli menunjukkan baju berwarna merah menyala.


"Tidak, terlalu mencolok. Bagaimana kalau yang ini?" Kristal memilih sebuah setelan berwarna biru muda untuk baby Glen.


"Kami punya pasangan untuk baju itu, Bu. Kebetulan ada warna baju yang sesuai dengan bayi perempuan anda." Tampaknya pelayan tersebut mengetahui apa yang Kristal butuhkan.

__ADS_1


Sementara itu Ruli mengarahkan pandangannya ke luar toko. Samar-samar dia melihat ibunya bersama seorang laki-laki di restoran cepat saji. Tapi Ruli tidak bisa melihat wajah laki-laki itu karena dia duduk membelakanginya.


Ruli berjalan ke arah ibunya. "Mas, mau ke mana?" tanya Kristal penasaran. Sedangkan barang belanjaannya sudah menumpuk untuk dibayar.


Ruli semakin dekat dengan ibunya. Langkahnya terhenti ketika laki-laki itu menyentuh pipi ibunya. Rama mengusap pipi Mama Lira karena dia menangis setelah menceritakan kisah sedih. Rama jadi tak tega dan ingin menenangkan wanita yang dia cintai.


Ruli mengepalkan tangan lalu berjalan lebih cepat. Mama Lira membulatkan mata ketika anaknya datang ke arahnya. Dia takut sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.


Ruli memutar tubuh Rama lalu memukul wajahnya. Laki-laki yang lebih tua dari usianya itu jatuh di atas kursi yang dia duduki.


"Ruli," teriak Mama Lira. Dari kejauhan Kristal yang mengamati suaminya juga terkejut ketika sang suami tiba-tiba memukul seseorang. Dia berjalan mengikuti suaminya dan meninggalkan belanjaan di meja kasir.


"Anda?" Kristal mengenali laki-laki yang bersama mama mertuanya.


Ruli melirik ke arah istrinya. "Kamu kenal?" tanya Ruli pada istrinya.


"Dia laki-laki yang waktu itu menemukan baby Glen saat menghilang di mall."


Ruli nampak terkejut. "Apa? Kenapa aku tidak tahu?" protes Ruli pada istrinya.


"Mama hutang penjelasan padaku. Ayo ikut aku pulang!" paksa Ruli sambil menarik tangan ibunya.


"Tapi..." Mama Lira ingin menolak tapi Ruli memaksanya pulang.


"Mas, jangan kasar pada mama," tegur Kristal. Dia tergopoh-gopoh mengikuti suaminya sambil mendorong dua kereta bayi. "Keterlaluan sekali kamu Mas. Marah sih marah tapi masa istri dibiarin sengsara sendirian kaya gini," gerutu Kristal sambil memanyunkan bibirnya.


Sementara itu Ruli memaksa ibunya masuk ke dalam mobil. Mama Lira menangis sesenggukan. Dia seperti anak gadis yang ketahuan pacaran oleh ayahnya.


Ruli mencari keberadaan istrinya. Tapi Kristal yang kelelahan karena mendorong dua stroller, hanya bisa berjalan pelan. Ruli menghampiri istrinya tanpa berkata apapun. Dia masih dalam mode marah. Kristal bertambah jengkel pada suaminya jadi dia juga ikut diam.


Kristal membawa anaknya masuk ke dalam mobil. Saat melihat ibu mertuanya menangis dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kristal ingin menenangkan ibu mertuanya tapi dia sendiri repot karena ada dua bayi yang dia ajak.


Ruli masuk ke dalam mobil lalu menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. "Mas, hati-hati jangan ngebut, aku tidak mau mati konyol," teriak Kristal yang sangat kesal. Sejak tadi dia merasa gondok karena suaminya marah pada ibunya tapi Kristal ikut kena imbasnya.

__ADS_1


Ruli menatap tajam ke arah Kristal. "Sebaiknya kamu diam saja."


Baby Gwen tiba-tiba menangis di dalam mobil. Kristal pun mencoba menenangkan dia. "Jangan nangis ya sayang, sayang protes karena papanya marah nggak jelas ya?" sindir Kristal.


Ruli merasa tersindir. Dia mencengkeram kendali setirnya dengan kuat. Dia menahan emosi meski dadanya naik turun. Istrinya itu tidak pengertian karena terus saja mengomentari dirinya.


Sesampainya di rumah, Ruli meminta penjelasan pada ibunya. Kristal tidak ikutan karena dia kesal pada suaminya. Lebih baik mengurus kedua bayinya dari pada mendengarkan omongan yang ujungnya pasti mengarah ke pertengkaran.


"Mama," sentak Ruli agar ibunya mau bicara.


"Mas, jangan teriak anakku sedang tidur," protes Kristal yang menyembul dari balik pintu kamarnya. Ruli rasanya ingin menghampiri istrinya lalu mencium bibirnya agar bungkam.


"Dia kekasih mama," jawab Mama Lira.


"Ma, come on. Mama sudah tidak muda lagi. Kenapa harus pacaran diam-diam?" Ruli sungguh kesal. Dia hanya khawatir pada ibunya. Tentu saja dia peduli karena takut orang yang disayanginya itu dimanfaatkan oleh laki-laki hidung belang.


"Mama hanya tidak ingin kesepian, Ruli." Mama Lira menjawab dengan suara bergetar. "Selama ini Rama telah mengisi kekosongan hati mama. Apa mama salah jika mama ingin menikah lagi?"


"Mama sadar dengan apa yang mama omongkan?" tanya Ruli pada ibunya.


Ruli memegang kedua tangan ibunya. "Ma, jika memang mama ingin menikah lagi, suruh laki-laki itu melamar mama. Bukan berhubungan secara diam-diam. Aku hanya takut mama dipermainkan oleh laki-laki," ucap Ruli dengan lembut.


Kristal ikut bergabung setelah menidurkan anaknya. "Ma, boleh aku tanya? Apa mama berhubungan setelah pertemuan kita waktu itu?" Mama Lira mengangguk.


"Mama tidak ingin sisa hidup mama sendirian. Kamu dan suamimu sudah sibuk dengan kegiatan kalian apalagi kalian sudah memiliki anak, belum lagi kalau Amara menikah nanti. Mama takut tidak ada yang mengurus mama ketika tua nanti," ucap Mama Lira dengan jujur.


Kristal memeluk ibu mertuanya. "Ma, tenanglah." Kristal mengusap punggung ibunya berulang kali agar lebih tenang.


"Panggil dia ke sini, Ma. Minta dia untuk melamar mama."


Kira-kira bagaimana kelanjutannya? Jadi siapa yang bicara terakhir kali?


...***...

__ADS_1


Ayo mampir ke sini dulu ceritanya menarik kalian bisa langsung subscribe ya



__ADS_2